EL & KEN

EL & KEN
69



"Kami akan cari Nana, Ma. Mama tenang dulu ya." Ujar Adnan menenangkan, Ken sudah gelisah mendengar Elvina tidak pulang. Dia menghubungi gadis itu berulang kali namun tak ada jawaban.


"Mama cuma mau dia peduli dengan dirinya sendiri Nan. Mama tau dia sangat sayang sama kakaknya, tapi dia juga butuh Ken. Mama ingin egois kali ini agar bisa melihat Nana bahagia." Ucap Kila dengan isak tangisnya, Adnan tidak mengerti maksud ucapan perempuan paruh baya itu.


"Kakak? Siapa yang Mama maksud?" Pasti bukan dia yang dimaksud Kila.


"Aish, Nan. Aishabella putri Zayid Hassan itu kakak sepupu Nana."


"Mama tenang ya, aku matikan dulu teleponnya." Ucap Adnan setelah mengucap salam dia mematikan sambungan telepon. Jelas jadi masalah sekarang. Adnan menatap Ken dengan penuh kebimbangan. Lalu menariknya mencari Ulfa dan Nazar. Kepalanya mendadak pening.


"Abi, Ummi." Lirih Adnan setelah berhasil tiga orang itu masuk ke mobil. "Aish itu sepupu Nana." Ucapnya dengan nada berat, karena paru-parunya terasa penuh.


Ken memejamkan matanya, berharap mendapatkan ketenangan. Namun yang hadir malah kepedihan.


"El gak mau jawab ditelepon," adu Ken. Adnan juga mencoba menelpon gadis itu tapi sama, tidak ada jawaban.


"Kemana kita harus mencari Nana?" Ucap Adnan frustasi, dia tidak dapat berpikir jernih sekarang.


"Coba tanya Erfan?" Saran Ulfa, Ken langsung menelpon Erfan sesuai pendapat ummi. Tapi lelaki itu tidak bersama Elvina.


"Erfan juga gak tau Mi." Ucap Ken lemas.


"Kita ke rumah Zayid, semoga Nana ada di sana." Putus Nazar, Adnan mengangguk membawa kuda besi itu memecah gelapnya malam. Besok dia akan menikah tapi pikirannya malah kacau begini.


"Ken bingung Bi bagaimana menghadapi El. Sekarang baru mengerti kenapa El memaksaku menikah dengan Aish."


"Beri Nana waktu berpikir Ken, dia lebih bingung sekarang Nak."


***


"Biarin aja Bil, aku males ngomong sama mereka." Jawab Elvina acuh, netranya fokus ke layar televisi tapi pikirannya sedang traveling kemana-mana.


"Jawab aja dulu, bilang kalo kamu aman gak perlu dicari." Saran Sabil, Elvina mengendikkan bahu tak peduli. "Adnan pasti panik nyariin kamu Na."


"Aku gak minta mereka nyari aku Sabil." Ucap Elvina jengkel mengambil ponselnya lalu menonaktifkan. Sabil tak membantah lagi. Mood gadis itu benar-benar buruk.


"Aku cuma pengen tenang Bil, aku lelah menuruti kemauan orang lain. Aku capek Bil." Adu Elvina dengan napas yang memburu, kenyataan ini menyesakkan dada.


"Bawa istirahat biar kamu bisa lebih tenang. Tidur sama adikku gak papa, atau tidur di kamarku. Aku gampang tidur diluar." Ujar Sabil memberikan pilihan.


"Sama adikmu aja. Tapi dia keganggu gak Bil kalo aku numpang tidur sama dia."


"Enggak, temannya sering nginap kok."


"Sorry ya jadi ngerepotin kamu."


"Udah ah, gak usah melow-melow lagi." Sabil mengantar gadis itu ke kamar adiknya. "Jangan keluar rumah tanpa izin." Pesannya sebelum meninggalkan Elvina. Tadi sore mobilnya diikuti sampai ke rumah. Sabil khawatir orang itu nekat mencelakakan Elvina.


Cukup lama gelisah di tempat tidur akhirnya Elvina menyusul Sabil ke ruang keluarga. Dari pada mengganggu adik Sabil yang sudah berkelana di alam mimpi. Lelaki itu masih menonton televisi di sana.


"Kenapa?" Tanya Sabil heran. Wajah gadis itu nampak lesu.


"Aku gak bisa tidur tanpa beruang Bil." Jawabnya gusar, Sabil tersenyum geli.


"Kalo tanpa orangnya bisa bahagia gak?" Goda Sabil, Elvina mendengus kesal. Jelas dia tidak bisa bahagia tanpa Ken. Tapi ya sudahlah cukup disimpan dalam hati segala keluh kesahnya.