EL & KEN

EL & KEN
11



"Na, nanti kamu bekerja di perusahaan Papa ya setelah lulus kuliah." Pinta Aliandra Ilman, sang ayah.


"Pa ijinin Nana bekerja di perusahaan lain dulu ya." Mohon Elvina, dia tidak ingin dianggap anak emas di perusahaan ayahnya.


"Baiklah, satu tahun saja ya."


"Tiga tahun ya Pa, biar Nana bisa buktiin kalau memang hebat. Bukan karena perusahaan itu milik Papa," ucap Elvina sambil tersenyum.


"Baiklah, tapi di perusahaan paman." Putus Aliandra, Elvina mengangguk setuju.


"Makasih Papa, Nana sayang Papa. Love you."


"I love you Papa, Nana kangen." Bisiknya lirih tapi masih bisa didengar oleh orang disekelilingnya. Demi papa dia ada di sini, papa yang ingin dia bekerja di sini.


"Na, kenapa melamun?" Nazar membuyarkan lamunan Elvina, matanya sudah berkaca-kaca. "Kangen papa Na?" Tanya Nazar lagi. Elvina hanya mengangguk dan menyunggingkan senyumannya.


Ada Ken yang hatinya perih melihat wajah sendu itu. Melihat Elvina bersedih membuatnya tersiksa.


"Adnan, Sabil jaga Nana di sana ya. Jangan biarkan Ken selalu menyakitinya. Kalian bisa keluar sekarang, Adnan dan Ken tetap di sini."


Elvina tidak dapat membantah dengan tugasnya sekarang. Dia keluar ruangan pak Nazar dengan lemas diikuti Sabil.


"Abi, rencana apa ini, akan sangat menyiksaku satu lokasi dengan El. Aku tidak sanggup melihatnya setiap saat. Kalau aku khilaf jangan salahkan aku ya..!!"


Ken mana sanggup menahan gejolak dalam dadanya. Rindu ini sangat menyiksa jiwanya. Jantungnya berpacu kencang setiap berada di dekat gadis itu.


"Ken, sebegitu lemahkah kamu dihadapan perempuan. Tundukkan pandanganmu, Nak. Mintalah sama Allah dalam setiap sholatmu."


"Aku tidak akan mengijinkanmu menyentuh Nana, Ken." Adnan bersuara dengan lantang.


"Berhentilah keras kepadanya, Nak." Bujuk Nazar, kenapa juga anaknya itu aneh harus mengambil jalan pendekatan dengan selalu bertengkar.


"Aku takut tidak mampu menahan godaan itu, kalau aku lembut padanya Bi. Aku bisa terjerat nafsu sendiri."


"Lamar saja dia!" Ujar Nazar tegas.


"Jangan sekarang Bi, belum siap." Rengek Ken, putra bungsunya itu sangat manja tidak jauh beda dengan Elvina.


"Ya sudah, biarkan dia untuk orang lain." Adnan kembali menegaskan ucapannya.


"Terserah padamu Ken, aku sudah menyerahkan cintaku padamu tapi kamu terlalu pengecut. Aku mau mencari Nana dulu." Adnan meninggalkan ruangan dan menemui Elvina di ruangannya.


"Ken, Adnan sangat mencintai Nana. Tapi dia rela melepaskannya untukmu."


"Aku tau Bi, Kak Adnan sangat menyayangiku."


"Pikirkanlah baik-baik tawaran Abi untuk melamarnya."


"Belum sekarang Bi, dia masih belum menunjukkan ketertarikannya padaku. Akan sangat menyiksa jika El menolakku." Itulah yang Ken takutkan, Elvina menolaknya. Dia belum siap ditolak.


"Sampai kapan Abi harus melihatmu tersiksa seperti ini Ken?" Nazar mendesah berat, dari dulu putranya itu mengadu rindu dengan gadis itu tapi tak berani menemuinya langsung.


"Setelah dari Medan saja ya Bi," tawar Ken.


"Iyaa, sekarang kamu persiapkan segala keperluan untuk berangkat besok." Ujar Nazar, Ken mengangguk meninggalkan ruangan abinya.


Di dalam ruangan Elvina, Adnan melihat gadis itu terus merengut. Merengut saja cantik apalagi tersenyum.


"Kak Adnan, bagaimana nanti aku di sana?" Tanya Elvina yang masih manyun. "Ken pasti akan terus menyakitiku."


"Aku akan selalu menjagamu Sayang. Tenang saja, Ken tidak akan berani menyentuhmu." Ujar Adnan menenangkan gadis itu.


"Dia memang tidak menyentuhku Kak, tapi dia selalu berkata kasar padaku." Adu Elvina, lebih sakit dimaki 'kan? dibanding di cubit.


"Tidak perlu mendengarkan ocehannya, aku akan selalu menemanimu."


Ken tidak menyakitimu sayang, dia hanya terlalu takut berada di dekatmu. Andai Adnan bisa mengatakan itu, mungkin perseteruan ini akan berakhir.


"Makasih ya kak, apa aku boleh membawa boneka teddy bearku. Aku tidak bisa tidur tanpa beruang itu." Adnan tersenyum mendengarnya, sayang jugakan sama pemilik beruang itu.


"Bawa saja, itu bukan masalah besar selama masih muat dalam koper." Hibur Adnan


"Terimakasih Kak, kamu selalu menolongku." Ucap Elvina tulus dengan senyuman lebar.


"Karena kamu adik tersayangku." Balas Adnan dengan senyuman yang tak kalah manis.