EL & KEN

EL & KEN
53



Elvina terbangun merasakan kepalanya sangat berat dan menyadari dirinya sudah tanpa busana.


"Siapa yang membawaku ke sini?" Elvina berusaha mengingat-ingat, terakhir kali dia sedang makan bersama Azmi, lalu pulang karena sangat mengantuk.


"Azmi, mana Azmi?"


"Apa Azmi yang sudah menghancurkanku?"


"Ya Allah."


Hati Elvina berdenyut nyeri, butiran bening merembes dari matanya. Dia melihat bercak darah di atas sprei putih yang sedang di dudukinya. Elvina menarik selimut dan menangisi kebodohannya karena mau bertemu Azmi, padahal Adnan sudah melarangnya.


"Kenapa kamu tega melakukan semua ini Azmi. Kenapa cintaku kau balas seperti ini? Selama ini aku selalu menunggumu. Tapi kamu malah menghancurkanku." Elvina beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan gontai.


"Tak ada yang tersisa lagi dari diriku, semuanya telah hancur dan hilang. Andai Papa ada di sini aku tidak akan sepertikan." Hatinya meradang menahan segala kepiluan.


"Papa tidak akan membiarkan orang lain menghancurkanku seperti inikan, Pa?"


"Papa, sekarang Nanamu ini sudah tidak punya apa-apa lagi. Kesucianku telah terenggut Pa."


"Pa, Nana hancur Pa... Nana hancur sekarang." Elvina menangis memeluk lutut, membenamkan kepala di sana. "Pa, Ken pergi meninggalkanku dan memilih perempuan lain. Sekarang Azmi menghancurkanku seperti ini Pa. Siapa lagi yang dapat aku percaya di dunia ini. Siapa pa??"


"Katakan padaku siapa Pa...? Apa Papa mendengarkan Nana sekarang? Apa Papa mendengar jeritanku sekarang? Papa di mana? Ijinkan Nana menyusul Papa." Elvina menangis sendu, segala cinta yang dimilikinya telah hilang, kini hanya ada dia sendirian yang sedang dalam kehancuran.


"Nana sendirian di sini Pa, Nana sendirian. Aku hancur Pa, tak berbekas. Allah... aku sudah hancur sekarang. Sehancur-hancurnya."


Elvina menangis mengurai air matanya bersama tetesan air yang membasahi tubuh. Berlama-lama dalam kamar mandi menyembunyikan air matanya yang tak berhenti terjatuh.


Apa mama masih akan menyayanginya setelah tau dia tidak memiliki kesucian itu lagi. Allah, siapa yang berada dipihaknya sekarang.


***


"Adnan apa kamu bersama Nana? sudah jam sebelas dia belum pulang," Kila yang panik menghubungi Adnan.


Adnan merasakan hatinya tidak karuan langsung mengajak ummi dan abi ke rumah Mama Kila untuk mencari Elvina. Perempuan paruh baya itu sedang mondar mandir tidak jelas.


"Ma, Nana tadi pamit mau kemana?" Tanya Adnan dengan panik. Adnan berkali-kali menelpon Elvina namun tidak ada jawaban.


"Dia cuma bilang mau ketemu teman Nan!"


"Selain itu, dia ada cerita apa lagi, Ma?" Tanya Adnan seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.


"Nana bilang Azmi sudah kembali, dia terlihat sangat bahagia." Jawab Kila, hanya itu yang dia tau.


"Allah, Azmi tidak menyerah ingin mengambil Nana." Adnan langsung berlari menuju mobil dan mengemudikannya dengan cepat ke taman setelah Kila, Ulfa dan Nazar masuk.


"Sebenarnya ada apa Nan?" Tanya Nazar bingung, ada masalah apa dengan belum pulangnya Elvina.


"Aku tidak bisa jelaskan sekarang Bi, kita harus mencari Nana."


Adnan melajukan mobilnya ke arah taman dan berlari mengelilingi seluruh taman mencari sosok Elvina. Taman sudah sepi karena larut malam.


"Ya Allah Nana tidak ada di sini, ke mana dia. Nana kamu di mana, Sayang?"