EL & KEN

EL & KEN
12



"Kamu mau menetap di sini membawa perlengkapan sebanyak itu." Ken menatap sinis Elvina yang membawa dua buah koper besar, kemudian meninggalkan gadis itu. Mereka baru tiba di Bandar Udara Internasional Kualanamu.


Proyek yang akan mereka kerjakan di Medan sekarang adalah pembanguan hunian eksklusif Reiz Residence. Bangunan tiga gedung bertingkat dengan masing-masih empat puluh lantai.


"Na, sini aku bawakan satu kopermu, jangan dengarkan ucapan Ken. Sabil bawa koper Nana yang satunya." Adnan mengambil alih satu koper Elvina, satunya lagi digeret Sabil.


"Aku bisa sendiri, Kak." Ujar Elvina tersenyum manis pada Adnan, Ken berjalan mendahului mereka bertiga.


"Ingat Na, kami bertanggung jawab atasmu benerkan Sabil." Adnan melemparkan tatapan tajam pada Sabil yang berjalan disamping kiri Elvina.


"Iya Na, jangan biarkan kami dipecat hanya karena menelantarkanmu," sahut Sabil, mereka berjalan meninggalkan bandara menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian lucu, mana mungkin dipecat gara-gara aku. Emang siapa aku?" Elvina geleng-geleng kepala, mereka selalu berlebihan.


"Tidak ada yang boleh menyakiti anak kesayangan Pak Nazar Rizki Aydan, Na." Tegas Sabil membuat Elvina terkekeh geli.


"Kalian bisa saja menghiburku."


"Daripada terus manyun sejak kemaren, hatiku terasa sepi melihat bibir monyongmu Na."


"Kak Adnaaaann, tega..!" Kesal Elvina sontak memajukan bibirnya.


"Apalagi kalau gitu, coba lihat Bil bibir Nana monyong gak?" Adnan memfokuskan pandangannya pada Elvina. Gadis itu memang selalu menggemaskan. Sayang dia harus bersaing dengan adiknya sendiri.


"Mana-mana?" sabil menatap Elvina sambil berjalan "Itu kurang monyong Nan masih bisa dimajuin lagi. Kayak gerak jalan masih bisa maju mundur."


"Kalian jahat, belum apaan sudah mentertawakanku." Geram Elvina, mengambil langkah lebih cepat dari dua lelaki itu. Ken sudah sampai di mobil lebih dulu.


"Dia merajuk Nan." Ujar Sabil tambah tertawa gelak.


"Udah masuk mobil sana, jangan cemberut lagi. Nanti Sabil tambah senang menggodamu." Ujar Adnan nyaring.


Mereka sampai di kantor PT. Aydan Jaya Abadi Medan sebelum dzuhur. Tempat tinggal mereka tidak jauh dari gedung perkantoran itu.


Syukurnya kantor ini daerah perkotaan. Elvina tidak perlu khawatir jika bertengkar dengan Ken dia bisa dengan cepat kabur. Lebih cepat dipecat lebih baik.


Elvina menata pakaiannya, menyusun dalam lemari. Tidak banyak baju yang dia bawa, hanya embel-embelnya saja yang bikin koper penuh. Kalian pasti paham bagaimana perempuankan? Terlalu banyak perintilan yang tidak boleh ketinggalan.


Ini nih yang bikin Ken sensi, Elvina tersenyum geli mengeluarkan teddy bear kesayangannya. Dia gak bisa tidur kalau gak ada ini. Sudah delapan tahun Elvina tidur bertemankan bonekanya ini. Paling nyaman buat dipeluk selain pelukan mama.


Elvina belum mengabari mama kalau dia sudah sampai. Tak ingin membuat orang tersayangnya khawatir, Elvina langsung menelpon sang ibu. Mereka berbincang lama.


Satu lagi orang yang perlu Elvina kasih kabar sebelum hidupnya diacak laki-laki itu. Siapa lagi kalau bukan Erfan. Teman rasa pacarnya itu bisa mengamuk kalau tidak dapat kabar darinya sehari saja.


Mungkin Erfan menyesal sudah meninggalkannya lama pergi ke London. Jadilah sekarang sangat protektif. Kalaupun Elvina minta martabak jam dua malam, pasti lelaki itu akan gesit mencarikannya.


Dia tau Erfan mencintainya, tapi Elvina seolah tak tau. Dia sudah menegaskan kalau tidak bisa menerima lelaki itu. Tapi Erfan tetap saja tak pernah bosan menguntitnya.


Jika kalian bertanya andai disuruh memilih Ken dan Erfan, Elvina akan memilih siapa? Tentu saja Erfan, kalau hati bisa dipaksakan. Sayangnya Ken tidak akan termasuk dalam pilihan itu.