
Kila menyambut putrinya yang lesu, membawa dalam pelukan hangat. Seorang ibu pasti ingin melihat putrinya bahagia. Apalagi anak satu-satunya.
"Maafin Nana sudah buat Mama khawatir." Elvina menyambut pelukan sang mama. Dia ingin mencurahkan segala isi hatinya, namun itu akan memicu perdebatan lagi.
"Aku istirahat dulu ya Ma." Ujarnya seraya mengurai pelukan. Kila menatap sendu anak semata wayangnya yang menghilang di balik pintu kamar.
Gadis itu memainkan cincin yang tersemat di jarinya. Ucapan pamannya berputar-putar di kepala. Tanpa diminta pun dia pasti akan meninggalkan Ken kalau mama mau mengerti dengan keadaannya. Elvina memiringkan tubuh, memeluk beruang kesayangannya sampai tertidur.
Tidak seperti biasanya Elvina tertidur pulas, hampir kesiangan. Dia bergegas ke kamar mandi sebelum kehabisan waktu subuh.
Elvina mematut diri di depan cermin, menyamarkan gurat lelah di wajahnya dengan sentuhan make up.
"Na, sudah siap?" Panggil Kila.
"Sebentar Ma." Elvina meyakinkan diri kembali, kalau semua akan baik-baik saja. Di sana dia pasti bertemu paman dan sepupunya nanti. Gadis itu segera berangkat ke tempat resepsi bersama Kila.
Nertanya menatap Adnan dan Attisya bersanding di pelaminan. Pasangan itu tersenyum bahagia. Elvina ikut bahagia semua berjalan dengan lancar. Tidak ada adegan penganten pria kabur karena masih mencintai perempuan lain.
Jahat sekali pikirannya, dia akan berdoa seperti itu kalau yang jadi mempelai pria si Ken. Elvina hari ini tampil cantik dengan balutan dress pink pemberian Adnan.
"Nana, aku mencari-carimu." Erfan mengagetkan Elvina, dia sampai lupa kalau mama masih berada di sampingnya.
"Ngagetin aja!" Kesal Elvina, tangannya otomatis memukul Erfan dengan sling bag.
"Penyiksaan Na." Pekik Erfan, "anak Mama gak ada manis-manisnya." Adunya lagi pada Kila, perempuan paruh baya itu menanggapi dengan kekehan.
Sejak tadi malam Kila belum ada membahas perihal perdebatan mereka kemaren. Dia memberi putrinya waktu sejenak untuk menenangkan diri.
"Mama pengen lihat aku dan Nana bersanding di pelaminan, gak?" Goda Erfan pada Kila sambil melirik Elvina yang cemberut.
"Mama diam, itu artinya setuju kalau aku jadi menantunya Na." Ujar Erfan cengengesan yang bisa menambah kadar kekesalan Elvina.
"Kalian makan sana gih, Mama mau ketemu pengantin dulu." Kila meninggalkan dua orang berbeda jenis itu setelah mendapat anggukan dari keduanya.
"Kamu cantik hari ini." Puji Erfan, mereka sedang menikmati hidangan di sebuah meja. Dia tidak berhenti mengamati pergerakan gadis yang duduk dengan anggun di depannya.
"Jadi aku cantik cuma hari ini ya?" Tanya Elvina sinis.
"Eh, bukan gitu. Setiap hari juga cantik. Tapi hari ini lebih cantik." Ralat Erfan lengkap dengan cengiran.
"Wait, itu cincin dari siapa?" Erfan salah fokus dengan cincin berlian yang ada di jari manis Elvina. Bukan karena harga cincin itu mahal. Tapi dia penasaran dengan orang yang memberikannya.
"Ken." Jawabnya santai.
"Wah pelanggaran. Dia sudah melamar?" Elvina menggeleng, kalau Ken melamar belum tentu dia langsung menerimanya. Ada banyak pertimbangan yang Elvina pikirkan.
"Lalu?" Selidik Erfan.
"Hadiah."
"Pantesan kamu milih dia Na, orang ngasih hadiah cincin berlian. Apa kabar aku yang cuma ngasih hati dan sebatang cokelat." Ujar Erfan dramatis.
"Gak ada hubungannya Fan."
"Iya gak ada hubungannya karena hati kamu sudah milik dia." Ucapnya serius, "nungguin kamu cinta sama aku itu kayak nungguin ikan paus bisa terbang, Na." Lanjutnya dengan tertawa kecil.
Sama sekali tidak lucu, bagi Elvina itu adalah sindiran yang dikemas Erfan dengan halus. Lelaki itu memang jarang bicara serius padanya. Sekali serius bikin dia tak bisa berkutik karena merasa bersalah.