
Beres, Elvina selesai berkemas. Besok setelah menghadiri undangan Adnan dia akan berangkat ke Jogjakarta. Di sana Elvina juga sudah membuat janji dengan psikiater.
"Na, kadonya sudah disiapkan?" Kila menghampiri putrinya ke kamar. Setelah Ken pulang tadi Elvina tidak ada keluar kamar.
"Belum Ma, baru selesai berkemas. Aku bawa barang sedikit aja kok. Isi koper satu ini boneka." Jelasnya seraya nyengir kuda, sebelum Kila protes dengan barang bawaannya, seperti saat dia berangkat ke Medan dulu.
"Na," Kila memegang tangan kiri putrinya lalu memperhatikan cincin di jari manis. Sudah tentu itu bukan cincin biasa, pasti harganya sangat mahal. "Siapa yang ngasih cincin ini?"
Elvina membawa Kila duduk sebelum sang ibu pingsan. "Ken Ma, maksa, katanya hadiah seperti kalung ini."
"Kamu percaya?"
Elvina menggeleng lalu tersenyum, "cincin ini khusus Ma. Mana mungkin Ken iseng memberikannya sebagai hadiah. Putri Mama ini tidak sepolos itu."
"Lalu kenapa kamu ambil?" Selidik Kila, raut wajah Elvina berubah sendu.
"Mama gak suka aku ambil ini? Aku akan mengembalikannya besok. Di sini ada nama aku dan Ken, Ma." Elvina melepas cincinya lalu memperlihatkan pada Kila. "Semua rumit Ma," gadis itu beranjak menuju meja rias menyisir rambutnya.
"Mama tau gak kapan Ken pertama kali bertemu denganku?" Elvina masih menatap cermin.
"Waktu pesta ulang tahunmu yang ke lima belas." Jawab Kila, Elvina mengangguk tanda mengerti. Itu artinya saat dia masih dibangku kelas tiga SMP.
"Berarti waktu itu Ken sudah berumur tujuh belas tahun Ma, dia sudah tinggal di pesantren Paman Zayid. Aish yang lebih dulu bertemu dengannya."
"Mama sekarang ngerti kan, siapa yang lebih berhak atas Ken?" Jelas Elvina dengan tersenyum pada mama tersayangnya.
Elvina menghela napas pelan berulang kali, bagaimana caranya dia membuat mama mengerti. Bahwa dia tidak bisa bersama Ken.
"Mama mau melihat Aish menderita?" Tanya Elvina lembut.
"Mama lebih tidak bisa melihat putri Mama yang menderita." Tegas Kila.
Kenapa harus membahas ini lagi. Elvina duduk bersimpuh di hadapan Kila. "Aku gak tau lagi harus gimana cara jelasinnya sama Mama. Aku gak ingin jadi orang yang egois hidup dalam rasa bersalah, Ma."
"Kamu sudah egois menyakiti Ken, Sayang."
Huuhhh, Elvina hanya bisa menghirup udara yang banyak sekarang.
"Aku gak pantas buat Ken Ma, Ken pantas mendapatkan Aish yang masih suci. Aku gak ingin berdebat sama Mama." Lirih Elvina membenamkan wajahnya di pangkuan Kila. "Aku capek Ma, aku capek. Aku ingin istirahat sebentar aja, aku ingin menyembuhkan hatiku sendiri. Ken sudah menyetujui permintaan Paman Zayid, Ma."
"Tapi kamu yang membuatnya mengambil pilihan itu, Na." Tegas Kila. Elvina mengangkat wajahnya lalu tersenyum dan mengangguk.
"Mama benar, Aku egois. Mama mau aku gimana sekarang? Menikah dengan Ken? Oke. Aku akan turuti kemauan Mama." Lirihnya pelan, Elvina beranjak mengambil jilbab kaos, tas dan ponselnya lalu meninggalkan kamar.
Elvina bingung sekarang, mamapun tidak berada dipihaknya. Dia cuma butuh dukungan untuk menyembuhkan hatinya.
Setelah menunggu beberapa menit ojol yang dipesannya datang. Elvina menuju pesantren pamannya. Argh, kalau menyetujui kemauan mama, hidupnya akan dihantui rasa bersalah selamanya. Tapi dia juga tidak ingin bertengkar dengan mama. Hanya mama yang dia punya sekarang.