EL & KEN

EL & KEN
71



"El, kamu bikin panik aja. Jangan pergi lagi." Mohon Ken, dia bergegas menjemput Elvina setelah mendapat kabar dari Sabil. Katanya gadis itu tidak bisa tidur jauh dari beruang.


Jadilah Sabil bahan amukan Elvina karena sudah mengadu pada Ken.


"Kamu ngeselin banget Sabil, ngapain pakai lapor sama Ken. Sia-sia aku matiin hp." Kesal Elvina, "kalo gak ikhlas nolongin tuh bilang." Omelnya lagi.


"Ya maaf, dah pulang sana sudah ada Ken. Mau tidur sama Ken juga terserah," canda Sabil yang menambah kadar kekesalan Elvina.


Sadar sedang di rumah orang, Elvina masih punya sopan santun untuk tidak membuat keributan. Gadis itu keluar dari rumah Sabil, dia akan melanjutkan marah-marah di mobil Ken nanti.


"Pelan-pelan El, jangan nesu gitu." Tegur Ken, pintu mobil mahalnya jadi sasaran amukan Elvina. "Mau pulang gak?" Tawar Ken, seperti apapun ekspresi gadisnya, dia selalu suka.


"Enggak!"


"Ya sudah kita ke hotel."


"Gak mau!"


"Kenapa? Aku kan bisa gantiin posisi beruang. Aku bisa membuat tidurmu lebih nyaman." Ken menaik turunkan alisnya menggoda gadis yang tengah mengamuk itu.


"Keeennn," kesal Elvina.


"Kenapa Sayang, mau peluk? Sini. Biar lebih tenang." Ken masih belum menjalankan mobil. Dia sudah bisa bernapas lega setelah menemukan Elvina. Separuh sesaknya hilang separuhnya lagi berisi harapan.


"Ogah Ken, pulang."


"Siyap calon istriku."


"Apasih!" Ketus Elvina menyembunyikan rona wajahnya yang memerah. Calon istri? Andai jalan bahagia semudah itu.


Ken ingin terus mendampingi perempuan yang terlihat tegar di depannya ini. Dia tidak rela orang yang sangat dicintainya bersedih.


"Apa liat-liat. Dah jalan." Ujarnya dengan nada tinggi, serasa latihan vokal.


Elvina memutar bola mata jengah, duduk di samping Ken dia harus menyiapkan stok sabar yang banyak.


"Ke neraka!" Sarkas Elvina, Ken terkekeh kecil. Kalau dia hidup bersama Elvina pasti rumah tidak akan sepi. Lelaki itu menjalankan mobilnya pelan. Dia ingin menikmati waktu bersama sang pujaan.


"Tadi aku ke rumah Abi Zayid membatalkan rencana pernikahanku dengan Aish. Aku ingin melamarmu." Ungkap Ken, Elvina mendengarkan dengan baik. "Kamu maukan El?"


"Keputusanku tetap sama." Jawab Elvina tenang untuk menutupi segala gundah yang mendera.


"Apa kamu tidak mencintaiku El?"


Elvina bergeming, dia memang egois sudah menyakiti Ken. Argh, Elvina pusing memikirkan jodoh yang tak ada habisnya.


"Kenapa diam? Kamu cintakan sama aku El? Jujur." Desak Ken, Elvina menghela napas panjang. Membuang muka ke arah jendela.


Ken menepikan mobilnya, "El kali ini tolong jujur sama hati kamu. Izinkan hati kamu bahagia."


Elvina tetap diam, hatinya bergemuruh. Dia juga ingin bahagia. Kalau tidak bisa bersama Ken, Elvina akan mencari kebahagiaan yang lain.


"Tatap aku El, lihat aku sini. Katakan kalau kamu juga cinta sama aku." Mohon Ken dengan suara lembut. "Apa sesulit itu mengakui perasaanmu sendiri El."


"Ken, pulang." Lirih Elvina hampir tak terdengar. Ken mengangguk, melanjutkan perjalanannya. Dia sudah tidak banyak bicara lagi, memberi Elvina waktu untuk berpikir seperti yang ummi bilang.


"Good night," ucap Ken setelah mengantarkan Elvina sampai depan pintu.


"Makasih Ken, hati-hati di jalan." Ucap Elvina tanpa ekspresi.


"Sama-sama, aku pulang dulu." Ujar Ken melambaikan tangannya lalu kembali ke mobil.


Huuhh, Ken menarik napas gusar sebelum menjalankan mobil. Yang sudah jelas saling cinta saja tak bisa bersatu. Siapa yang tau rahasia jodoh. Kalau ada yang tau, Ken rela membayar berapapun demi mengintip siapa jodohnya. Kalau bukan Elvina maka dia akan tipe-x nama itu dan menggantinya dengan nama Elvina Mufida Ilman.