
"Nana jangan pindah ya, please. Jangan tinggalin gue. Sekarang Abang ninggalin, kalo lo juga ninggalin, gue kesepian di rumah." Mohon Dela dengan wajah puppy eyes, dia sudah menyiapkan skenario terbaik sebelum masuk ke kamar Elvina.
"Hidup lo penuh drama banget Del, kayak orang yang baru putus aja. Bilangnya gak bisa hidup tanpa kamu, eh ternyata besok-besoknya masih bisa jalan tuh sama gebetan baru."
"Lo tenyata gak kalah ngeselin ya sama abang gue," desis Dela. Si empunya malah cekikikan menawan tawa melihat wajah gadis yang sangat suka menampilkan wajah masam.
"Tapi gue beneran, lo di sini aja. Papa kan juga bilang lebih suka lo tinggal di sini. Kalo lo sendirian nanti diculik wewe gombel." Elvina menggeleng pelan menghadapi tingkah absurd temannya ini bisa bikin pusing juga.
"Serah lo aja deh Del, gue yang cuma numpang ini bisa apa." Keluh Elvina seperti orang tertekan.
"Uh, gue tambah sayang sama lo. Apalagi kalau jadi kakak ipar gue." Celetuk Dela, Elvina malas menanggapi. Dia sudah menegaskan, belum bisa menerima orang baru di hatinya. Walau dokter Raga itu orangnya baik.
"Gue salah ngomong ya." Sesal Dela, melihat temannya yang diam.
"Kalo lo salah juga gak bakal sadar diri." Sindir Elvina pedas, Dela malah mengangguk membenarkan. "Lo gak ada niat gitu biarin gue tidur dengan tenang malam ini."
"Eh, ya udah gue balik ke kamar." Ucapnya dengan merengut, "yang tuan rumah siapa, yang diusir siapa." Desisnya, Elvina tersenyum mengejek.
"Ya udah lo izinin gue pindah, biar gue gak gangguin lo." Ujarnya penuh kemenangan, gadis di depannya sudah mencak-mencak ingin mencakar lawannya.
"Rumit," gumamnya setelah Dela meninggalkan kamarnya.
Elvina beranjak mengambil ponsel lamanya, sudah dua minggu dia tidak berkabar dengan sang mama. Rindu dengan orang tua tunggalnya itu, siapa lagi sekarang yang harus dia bahagiakan kalau bukan mama.
Gadis itu mengaktifkan ponsel yang sudah lama tersimpan dalam koper. Banyak panggilan dan pesan yang masuk di sana.
Tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya Elvina mendial nomor Kila. Yang ada dalam pikirannya sekarang rindu dengan sang mama. Entah kenapa hatinya begitu khawatir malam ini.
Elvina mematung, bukan Kila yang menjawab telponnya tapi Ken.
"Wa'alaikumsalam. Mama mana Ken?" Desak Elvina, kenapa ponsel mama bisa ada pada lelaki itu.
"Mama dirawat di rumah sakit El, sekarang sudah tidur. Kamu mau pulang, mama nanyain kamu terus." Lirih Ken sendu, padahal dia juga sangat rindu dengan gadisnya. Tapi tidak sekarang mengungkapkannya. Bisa mendengar suara itu saja Elvina sangat bahagia.
Gadis itu tertunduk lesu, kenapa dia mengabaikan mama. Kenapa Elvina egois hanya memikirkan diri sendiri. Harusnya dia bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Bukan dengan kabur-kaburan seperti ini.
"Besok aku pulang, Ken." Ucapnya mencoba menahan isak tangis.
"Makasih El sudah ingat mama."
"Ken," lolos sudah air matanya, "jangan bicara begitu, aku kayak kacang lupa kulitnya." Rintihan yang keluar itu penuh dengan rasa bersalah.
"Jangan menangis El, aku gak suka dengar kamu nangis. Apalagi melihat langsung air mata itu."
Hati Elvina ketar-ketir mendengar Ken berucap seperti itu. Mengapa cinta ini sesakit itu. "Aku tutup dulu Ken, aku mau siap-siap buat besok."
"Kabari, nanti aku jemput di bandara."
Elvina mengangguk yang sudah pasti tidak dapat dilihat oleh Ken. "Makasih udah jagain mama, Ken." Ucapnya sebelum menutup telpon.
"Huft." Elvina menghela napas panjang, dia sangat bersalah sudah meninggalkan Kila sendirian. Apalagi sampai sakit, pasti mama sakit karena memikirkannya. Gadis itu bergegas keluar kamar. Dia akan izin pulang besok pagi.