EL & KEN

EL & KEN
99



"Kamu yang ngomong gitu kenapa aku yang sesak ya." Attisya mengusap dadanya yang terasa tertekan.


"Aku biasa dibenci Ken Kak, dulu dia juga gak suka sama aku. Sejak awal melihatku, dia selalu memakiku. Itu tidak masalah." Lagi-lagi Elvina tersenyum manis, mereka berkeliling di sekitar kampus.


"Adnan juga sangat menyayangimu Na."


"Aku tau, mereka sangat menyayangiku Kak. Tapi sekarang sudah berbeda. Aku akan bersikap biasa saja, tidak mau terlalu dekat dengan keluarga kalian lagi. Ada hati yang harus kujaga."


"Sebelum papa meninggal, aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Aku hanya kenal Paman Nazar. Sampai Kak Adnan mau menikah dengan Kak Sya, aku baru tau kalau mereka anak paman." Lanjutnya, Attisya masih setia untuk menjadi pendengar yang baik.


"Kapan Ken akan menikah Kak?" Attisya menoleh pada gadis yang sedari tadi bercerita.


"Enam bulan lagi."


Elvina mengangguk, dalam hatinya ada rasa perih. Siapa yang salah? Tidak ada. Dalam waktu enam bulan dia harus bisa move on dari Ken. Agar saat melihat lelaki itu bersanding, dia tidak perlu lari dari rumah untuk menghindar.


"Kamu tidak mau membantu Ken mengembalikan ingatan itu?" Attisya berharap Elvina bisa bersabar dan membantu Ken ingat kembali. Kalau boleh jujur, dia lebih setuju Elvina yang menjadi istri Ken.


"Akan membuang waktu Kak, melihatku saja Ken tidak sudi lagi. Bagaimana caraku membantunya."


Kalau ditanya Attisya juga tidak tau bagaimana cara membantu Ken. "Tapi kamu mau berjuangkan?"


"Kembali bekerja di perusahaan Abi, kamu bisa membantunya secara tidak langsung. Dia tidak akan tau kalau ini disengaja. Siapa tau dengan sering melihatmu, dia bisa mengingatmu kembali. Masih ada waktu enam bulan." Attisya meyakinkan Elvina dengan semangat.


Elvina tertawa geli, "maksud Kak Sya apa, Kak Sya ingin aku merebut Ken dari Aish kembali."


Attisa mengangguk dengan wajah cemberut masam melihat gadis itu tidak terpengaruh dengan ucapannya.


"Kak Sya, semua sudah berakhir sejak di rumah sakit dua minggu yang lalu. Sedikitpun tidak ada keinginanku untuk merebut Ken dari Aish kembali."


Betapa ruginya Ken melepaskan Elvina yang begitu tulus mencintai. Attisya jadi geregetan sendiri. Siapa sih sebenarnya yang jadi perebut calon suami orang. Aish hanya beruntung karena Ken mengingat hanya gadis itu yang dekat dengannya.


"Aku sayang sama kamu." Attisya memeluk Elvina erat, tidak tau mau berucap apa lagi. Gadis itu sudah membungkamnya. "Wajar jika kamu dicintai banyak lelaki yang begitu tulus, karena kamu pantas untuk itu."


"Dulu aku pernah cemburu, karena Adnan selalu memprioritaskan Nana, Nana dan Nana. Lagi-lagi semua yang ada dihidupnya hanya tentang Nana. Aku sempat marah ketika dia jujur ingin membatalkan pernikahan kami demi menikahi kamu. Tapi aku salut sama kamu, kamu bahkan tidak mau mengambil kesempatan itu. Padahal kamu bisa saja menggunakan kesempatan itu untuk membuat Ken sadar." Curhat Attisya panjang.


"Apa dengan merebut Kak Adnan, Ken dan Erfan dari orang-orang yang menyayangi mereka itu bisa membuat aku bahagia, Kak. Tidak, bahkan hanya akan membuat rasa bersalahku jadi tambah banyak."


"Apapun keputusan kamu aku akan selalu mendukungmu Na. Kamu tidak sendirian. Kami akan selalu ada kapanpun kamu butuh. Jangan hiraukan ucapan Ken. Aku akan pastikan saat dia sadar nanti, dia akan menjadi orang yang penuh rasa bersalah karena sudah menyakiti kamu.