EL & KEN

EL & KEN
70



Adnan memarkirkan mobil di depan kediaman Zayid. Empat orang dewasa itu bertamu malam hari. Lelaki itu gelisah menunggu tuan rumah membuka pintu.


Zayid membuka pintu, setelah menjawab salam. Pria paruh baya itu mempersilahkan tamunya masuk.


"Calon penganten malam-malam datang, ada apa?" Sambut Zayid dengan tersenyum hangat. Aish datang membawakan minuman.


"Kami mampir sebentar saja." Jawab Nazar sungkan, malam-malam masih bertamu ke rumah orang. "Apa Nana ada di sini?"


Aish langsung membuang muka mendengar nama itu disebutkan.


"Tadi siang mampir sebentar. Kalian kenal Nana?" Tanya Zayid tenang, seolah tidak bisa membaca raut cemas di wajah para tamunya.


Ken menggaruk tengkuk, dia belum menyiapkan kata-kata karena ini dadakan. Tetapi jadi lelaki harus tegas, Ken tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Dia ingin mengejar Elvina dengan perasaan lega, tanpa ada beban karena sudah berjanji menikahi Aish.


"Mohon maaf Abi, saya ingin membatalkan rencana pernikahan dengan Aish." Ucap Ken hati-hati.


"Apa alasannya Ken, apa putri Abi kurang cantik, kurang menarik di mata kamu?" Diucapkan Zayid dengan santai namun tegas.


"Bukan begitu Bi, saya mencintai perempuan lain." Jawab Ken lirih. Zayid tersenyum miring, Aish menatap Ken tajam kemudian pergi dari ruang tamu.


"Kamu sengaja ingin menyakiti putri saya dengan memilih Nana?" Tuduh Zayid dengan sorot mata yang tajam. Tatapan itu bisa membuat lawannya menciut. Namun tidak untuk Ken, dia berusaha menguasai diri agar tetap tenang.


"Tidak seperti itu Zayid. Ken tidak berniat menyakiti Aish." Ujar Nazar meluruskan.


"Lanjutkan pernikahan ini atau Yayasan pendidikan itu beralih ke tanganku." Ancam Zayid. Yayasan pendidikan yang dimaksud adalah Yayasan yang Nazar bangun bersama Zayid. Yayasan itu menaungi pesantren dan kampus yang berbasis islami.


"Biar aku pikirkan dulu." Sahut Nazar, kemudian mereka pamit undur diri.


Sepulang dari rumah Zayid, Ken lebih banyak diam. Yayasan itu impian sang ayah, Ken mana bisa egois. Abinya sudah berjuang dari nol untuk mendirikan Yayasan itu, hanya saja Zayid ikut menanam saham di sana.


"Biar Abi serahkan Yayasan itu Ken. Saham Zayid memang lebih banyak di sana." Ujar Nazar, dia ingin melihat putra bungsunya bahagia.


"Tapi itu impian Abi," sela Ken.


"Abi hanya berhenti mengelola, Yayasan itu tetap jalan Ken. Zayid tidak mungkin menutup Yayasan itu."


"Kalau El tau dia tetap gak akan mau terima Bi, apalagi kalau Abi sampai mengorbankan Yayasan yang sangat berarti bagi Abi." Ujar Ken pasrah, dia bukan menyerah. Hanya perlu waktu untuk memikirkan jalan keluar semua masalah ini.


"Kita cari Nana dulu, itu kita pikirkan nanti," saran ummi.


"Hp El sudah gak aktif Mi." Ujar Ken gusar, "kemana sih itu anak pergi."


"Kita pulang ke rumah dulu. Adnan harus istirahat." Putus Nazar, hari sudah semakin malam. Putra sulungnya besok akan menikah.


Sampai di rumah Adnan langsung masuk kamar. Seharian ini tubuhnya sangat lelah ditambah memikirkan masalah Ken yang tak ada akhirnya. Lelah berpikir akhirnya Adnan terlelap.


Berbeda dengan Ken yang masih terjaga di ruang keluarga. Abi dan ummi sudah istirahat lebih dulu. Dia sudah mengabari Mama Kila agar tenang. Bagaimana bisa dia meminta orang lain tenang, sedang dirinya saja tak bisa tenang.


Kemana dia harus mencari Elvina. Karena ulahnya sekarang berimbas kemana-mana. Abi juga harus menanggung perbuatannya.


Ken mengambil kunci mobil, dia tidak bisa berdiam diri seperti ini. Mobil hitam itu memecah jalanan ibu kota. Elvina tidak mungkin berada di taman malam begini.


Badannya masih lelah setelah perjalanan jauh, belum ada istirahat. Sekarang pikirannya pun ikut lelah.


Di tempat lain Erfan ikutan panik kala mendapat kabar Elvina tidak pulang ke rumah. Tapi adiknya merengek minta ditemani jalan, terpaksa dia menurut.


Akhir-akhir ini Elvina menjauh darinya. Mereka jarang bertemu lagi. Erfan tidak tau ada masalah apa sampai gadisnya itu sampai kabur dari rumah.