
"Na, aku kangen kita ketemuan di taman ya malam ini." Elvina membaca pesan yang dikirimkan oleh Azmi. Dia juga sangat merindukan lelaki itu, hampir tiga tahun sudah Elvina menunggunya.
"Iya, aku akan datang." Elvina sangat bahagia, dia akan bertemu dengan Azmi, apa Azmi kembali untuk menikahinya.
Elvina meletakkan ponselnya, mama sudah menunggunya untuk sarapan. Mumpung hari libur dia bisa santai.
"Sarapan dulu Na, bagaimana kabar Ken?" Kila menatap Elvina yang sendu, dia sedang menyembunyikan kesedihannya.
Elvina menarik napasnya pelan, baru saja hatinya bahagia. Mama sudah mengungkit Ken lagi.
"Ken di Kairo Ma, melanjutkan kuliahnya." Elvina berusaha menjawab dengan santai.
"Apa kamu menolak menikah dengannya Sayang, bukankah dia yang selalu kamu tunggu."
"Dia sudah memilih perempuan lain yang lebih menghargainya Ma. Azmi sudah kembali dia akan segera melamarku lagi." Elvina tersenyum sumringah sangat bahagia, namun juga merasakan kesedihan atas kepergian Ken.
"Antara Azmi dan pemilik boneka itu siapa yang paling kamu inginkan?"
"Yaa jelas Azmi Ma, dia tak pernah menyakitiku sedikitpun." Sahut Elvina riang.
Dia tidak tau siapa yang paling bertahta di hatinya saat ini. Sejak Ken pergi, dia merasakan sepi. Hatinya sudah terperangkap pada Ken. Jiwanya telah terikat oleh cinta Ken. Tapi dia tidak boleh egois. Aish harus bahagia.
"Sayang Mama tau kamu juga menyayangi Ken." Kila masih berharap Elvina mau menerima Ken kembali.
"Ma, dia sudah memilih perempuan yang lebih baik dariku. Aku masih punya Azmi Ma. Jangan bahas ini lagi," mohon Elvina pada Kila, dia masih berusaha kuat menyembunyikan perasaannya pada Ken.
Kila mendesah berat, dia sangat tau mana yang bisa membuat putrinya bahagia. Elvina terus saja melawan perasaannya sampai menderita seperti ini.
"Mama kenapa kepo?"
"Penasaran, siapa perempuan yang beruntung menjadi istri Ken itu."
Mama benar perempuan itu sangat beruntung menikah dengan Ken.
"Walau Ken tidak menikah denganku, dia akan tetap jadi menantu Mama." Ucap Elvina santai membuat Kila membeku di tempat.
"Kamu jangan bercanda, Nana." Tegas Kila serius, dia harap apa yang ada dipikirannya salah.
Elvina tersenyum sebelum berucap, "aku tidak bercanda Ma. Mungkin hanya dunia yang sedang bercanda denganku. Aishabella putri Paman Zayid yang akan menjadi istri Ken."
Kila meneguk ludah kasar, pantas saja putrinya bersikeras menolak Ken. Kakaknya sendiri yang akan menikah dengan lelaki itu. Kenapa abangnya tidak pernah bercerita.
"Mama kenapa, kaget?" Elvina tertawa kecil melihat sang bunda membeku di tempat. "Mereka cocok Ma, Ken pantas mendapatkan yang terbaik begitu juga Aish. Kalau saja aku tau lelaki yang sering diceritakan Aish itu Ken, aku tidak mungkin jatuh cinta dengannya."
"Kalian saling mencintai, Nak." Lirih Kila, Elvina menggeleng pelan.
"Aku bukan perempuan egois yang dengan sengaja menyakiti kakakku sendiri Ma. Rahasiakan ini dari siapapun, hanya kita yang tau." Mohon Elvina, "sebesar apapun cintaku pada Ken itu tetap kalah dengan cinta yang Aish berikan padanya Ma."
"Sekarang Mama tidak perlu khawatir, Ken tetap akan jadi menantu Mama yang tampan dan tajir." Ucap Elvina dengan kekehan kecil. Tapi itu tidak lucu bagi Kila yang melihat putrinya terus tertawa dalam luka.
"Mama tidak janji bisa untuk diam, Na. Anak Mama sangat berarti buat, dia harus bahagia. Mama lebih memilih anak mama menjadi egois." Ucap Kila, selama ini dia sudah cukup tersiksa melihat putrinya yang depresi karena kehilangan Aliandra dan Azmi. Apa jadinya kalau anak semata wayangnya ini kehilangan Ken lagi.
Elvina menghela napas panjang, salah dia sudah menceritakan pada mama. Kalau begini rencananya tidak akan bisa berjalan mulus.