EL & KEN

EL & KEN
153



Setelah cukup lama mengobrol dan istirahat, Raga membawa Elvina dan Ken jalan-jalan ke pantai. Jangan lupakan si ceriwis juga ikut.


"Hati Abang kuat banget ya lihat mereka begitu. Emang gak sakit?" Dela menatap iba kakaknya yang mengamati sepasang suami istri yang sedang tertawa bahagia di bibir pantai.


"Kalau Abang memaksa hidup dengan Nana, dia belum tentu sebahagia itu." Raga merangkul bahu adiknya, "yang penting buat Abang adalah kebahagiaannya."


"Tidak hanya Abang yang melepaskannya untuk bahagia bersama Ken, bahkan ada dua orang lain lagi selain Abang." Raga mengungkapkannya dengan kekehan.


"Abang serius, seberuntung itu Nana dikelilingi orang-orang yang menyayanginya," Dela melongo. Dia bersyukur kalau banyak orang yang menyayangi temannya itu.


Raga mengangguk, mengusap-usap bahu adiknya, "kamu juga beruntungkan punya Abang. Dan hidup kamu tidak seberat dia."


"Ini nih yang bikin aku gak punya cowok. Abang selalu nempel, dikira kita pacaran." Dela mencebikkan bibirnya.


Raga terkekeh kecil, melepaskan rangkulannya. "Sana cari cowok!"


Dela langsung berlarian ke pinggir pantai meninggalkan abangnya. Raga hanya mengawasi adiknya dari jauh. Sedang Ken membawa Elvina menyisiri tepian pantai, sambil bergandengan tangan.


"Hati-hati kalau gak ada Abang ya, Sayang."


Entah berapa kali sudah Elvina mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut suaminya.


"Abang kenapa khawatir banget, aku akan baik-baik aja di sini."


Ken tidak bisa menjelaskan apa yang membuatnya khawatir. Dan tak bisa jauh dari istrinya ini. "Aku gak bisa maafin diri aku sendiri kalau sampai kamu terluka," ucapnya serius.


"Aku akan hati-hati." Ujar Elvina, tidak ingin berdebat di saat seperti ini.


"Kok rasanya gak rela jauh dari kamu, El." Ken melepas genggaman tangan, melingkarkan tangannya di pinggang Elvina. Memeluk dengan posessif seakan tak rela jika harus berjauhan.


"Eh, eh jangan. Jangan balik Sayang. Kamu selesaikan di sini, nanti aku jemput. Tapi malam ini kita tidur di hotel aja ya. Pengen berduaan sama kamu."


"Tidur di rumah Raga kan juga berdua, Abang." Elvina pura-pura tidak mengerti dengan keinginan suaminya itu.


"Hem, beda Sayang. Takut desa*han kamu sampai kedengaran di luar." Bisik Ken lalu tertawa, kenapa otak Elvina langsung kotor begini. Badannya jadi meremang.


"Abaang, gak tau tempat deh!" Elvina memukul dada Ken dengan kesal, lalu ikut tertawa.


"Mau dicontohin di sini gimana suaranya, hm." Goda Ken membuat Elvina semakin kesal, kenapa di tempat umum harus bahas masalah begituan sih.


"Seru banget ngomongin apaan kalian?" Tegur Raga yang menyusul pasangan itu, adiknya entah sudah kelayapan kemana tidak terlihat lagi.


"Urusan ran—" Elvina langsung membekap mulut kotor suaminya. "Itu bahas persiapan fashion show lusa." Sambungnya cepat, sebelum Ken keceplosan.


"Bahas persiapan fashion show apa urusan ranjang, hm." Goda Raga, Elvina mendelik tajam.


"Kenapa otaknya kotor juga sih." Elvina memukul kepala Raga dengan tasnya, Ken tertawa gelak sambil menahan istrinya yang ingin menyiksa dokter itu kembali.


"Kotor dari mana sih, cuma bilang urusan ranjang. Gak perlu di sensor juga." Raga menegaskan kalimatnya. Elvina sudah siap melayangkan pukulannya kembali tapi segera di peluk Ken.


"Sayang, jangan sampai kita dilaporkan karena tindakan penganiayaan pada dokter jiwa yang sakit jiwa ya. Jadi ngalah aja, oke." Ken menghadiahi kecupan di pipi setelah istrinya tenang.


Raga membulatkan mata kesal, dokter jiwa yang sakit jiwa katanya. Julukan macam apa itu.


"Nih buat kalian bersenang-senang malam ini." Raga memberikan selembar voucher hotel, "hadiah dari papa." Lanjutnya.


"Lo tau banget isi otak gue apa." Ken mengambil voucer itu kemudian mengucapkan terimakasih. Elvina semakin kesal dengan dua orang yang sekarang ada di hadapannya ini. Apalagi melihat senyuman mereka yang sangat menyebalkan itu.