
"Sya, hp Mas mana?" Tanya Adnan, dia lupa meletakkan ponsel dimana gara-gara mengurus Ken yang mengamuk tadi.
"Dalam laci kali Mas, kita jadi ke tempat Nana?" Tanya Attisya sambil berjalan ke arah laci mengambil ponsel suaminya di sana. "Kebiasaan naroh hp di laci, banyak misscall nih Mas." Perempuan itu menyodorkan ponsel pada sang suami sambil mengomel.
"Mama Kila," gumam Adnan lalu membuka satu-satunya pesan selain panggilan telepon. "Astaghfirullah, Nana," pekiknya kaget.
"Kenapa?" Tanya Attisya penasaran.
"Nana masuk rumah sakit, karena mau bunuh diri. Kamu siap-siap sekarang Sya. Aku kasih tau Abi." Ujarnya sambil berlari menuju ruang tengah, abi dan ummi selalu menyempatkan waktu mengobrol dengan anak menantunya setiap malam di sana.
"Abi!" Teriak Adnan, "Nana, Bi, Nana." Ucapnya disela-sela napas yang ngos-ngosan.
"Nana, kenapa?" Tanya Ulfa gemas, menunggu putra sulungnya bicara tergagap-gagap.
"Nana bunuh diri, sekarang masuk rumah sakit Mi." Jawab Attisya yang sudah siap menyusul suaminya.
"Apa? Kamu serius Sya?" Nazar terlonjak kaget.
"Sya udah siap Bi, ayo cepetan kita ke sana. Kasihan Mama Kila sendirian." Geram Attisya, kenapa semua orang di rumah jadi slow motion gini saat panik.
Ken yang baru dari dapur mendengar sekilas keributan di ruang tamu. Setelahnya rumah sepi, benarkah perempuan itu bunuh diri. Apa semua gara-gara dia.
Ken tidak melakukan apapun, kenapa perempuan itu harus bunuh diri karenanya. Dia tak peduli, orang yang mengaku El itu hanya mengacau hidupnya saja. Semua keluarganya hanya fokus pada perempuan itu.
Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di kasur. Mengamati cincin dan kalung yang ada di tangannya. Kalau benar perempuan itu El, kenapa Ken membencinya. Itu sangat mustahil, mungkin saja perempuan itu hanya mengaku sebagai El, jadi hatinya menolak.
Sesampainya di rumah sakit Adnan langsung menanyakan kamar rawat Elvina. Mereka sampai di ruangan, kamar itu sepi. Kila tertidur di sofa.
"Erland," sapa Nazar, "bagaimana keadaan Nana?"
"Baik," jawab Nazar. Dia membawa Erland keluar dari ruang rawat. Mereka sudah lama tidak betukar kabar.
"Nana," panggil Ulfa lembut. Gadis itu mengerjap karena mendengar suara banyak orang. Dia tidak tau sedang berada dimana.
"Aku dimana?" Tanya Elvina lirih, seluruh dinding ruangan berwarna putih. Dia menolah ke arah sofa, mamanya sedang meringkuk di sala. Lalu pandangannya beralih pada tangan kiri yang terasa nyeri. "Kenapa aku masih hidup?" Tanyanya dengan tersenyum miring saat menyadari berada di rumah sakit.
"Karena masih banyak yang menyayangimu." Jawab Ulfa lembut seraya mengusap kepala gadis itu.
"Tapi Ken benci aku Ummi," ucapnya parau.
"Kasih waktu Ken sampai sembuh ya Sayang, kami akan bawa Ken berobat sampai sembuh. Sampai dia ingat kamu lagi."
"Ken sudah gak sayang aku Ummi, Ken benci aku, Ken kasar sama aku. Ken nyakiti aku Ummi. Aku sakit Ummi, aku sakit. Kenapa Ken sekarang jahat. Dia selalu bilang mau nunggu aku sampai menerimanya. Kenapa Ken sekarang berubah Ummi!" Teriak Elvina histeris, Adnan dan Attisya hanya bisa menatap iba gadis yang terbaring lemah. Dengan suara teriakan melengking, tapi senyaring apa sih suara orang yang tak berdaya.
Erland berlari ke kamar mendengar teriakkan keponakannya. Sedang Kila terbangun dari tidurnya langsung mendekati brankar.
"Kenapa Ken jahat sama aku Ummi, Kenapa? Kenapa Ken gak mau ingat aku Ummi. Kenapa Ken cuma ingat Aish. Kenapa Aish juga benci sama aku Ummi. Kenapa?" Elvina mengungkapkan semua tanya yang selama ini disimpannya sendirian. Hingga tak menemukan jawaban.
"Aku bahkan gak pernah merebut Ken darinya Ummi. Kenapa Aish tega jahat sama aku? Kenapa Fany tega nyakitin aku Ummi. Kenapa semua orang yang aku sayang menusukku begini."
"Aku salah apa? Kenapa paman gak mau percaya sama aku, aku gak pernah rebut Ken dari Aish." Teriaknya dengan isakan tangis yang sangat memilukan.
"Aku kotor Ummi, Ken pergi ninggalin aku karena aku kotor Ummi."
Kila memeluk putrinya, dia ikut menangis. Sakit saat mendengarkan segala kesakitan yang diadukan anak semata wayangnya itu.