EL & KEN

EL & KEN
9



"Kak Adnan tolong panggilkan Elvina ke sini." Mohon Ken, siapa lagi yang bisa membantu melancarkan aksinya kalau bukan sang kakak.


Elvina sekarang sudah berdiri dihadapan Ken. Menatap tajam pada laki-laki yang sangat dibencinya.


"Duduk, kak Adnan tolong keluar dan tutup pintunya." Pinta Ken, Elvina menurut. Ingin sekali dia menampar muka orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Selama Pak Nazar di luar kota, aku yang mengambil alih semuanya. Kamu kemaren pulang sebelum waktunya. Kemana?" Sejak kapan asisten pribadi mengawasi absensi karyawan. Untuk apa Ken repot-repot mengambil alih tugas HRD.


"Apa urusanmu..?" Jawab Elvina, gadis itu bangkit dari duduknya.


Elvina, tolong jangan membuat tergoda dengan diam seperti ini. Ken jadi semakin menginginkan gadis itu.


"Ini perusahaan besar bukan punya kakek anda Nona." Ujar Ken mengingatkan, iseng banget dia ngurusin tugas HRD. Ken rasanya ingin tertawa gelak.


"Ya benar, ini surat pengunduran diri saya." Elvina menyerahkan surat yang dipegangnya pada Ken.


Ken kaget melihat keberanian Elvina, abi pasti akan sangat marah dengannya jika tau semua ini. Semua di luar perkiraannya.


"Tidak bisa, memang anda siapa jadi seenaknya ingin keluar dari sini."


Ken mencari cara agar Elvina mengubah keputusannya. Bisa habis dia dimarahi abi. Agar bisa mengendalikan gadis itu saja Ken harus susah payah. Kehadirannya mengacaukan peraturan sang abi.


"Pengunduran diri itu hak karyawan," ucap Elvina dengan lantang.


"Tapi anda tidak mengikuti prosedur dan saya menolak itu."


"Baik, terimakasih. Saya akan serah ini ke departemen HRD."


Elvina keluar dari ruangan, di depan pintu masih ada Adnan berdiri di sana.


Gagal lagi Ken membuat gadis itu terpancing emosi. Malah yang ada dia akan dapaat masalah.


"Na, kita ke kantin yuk." Bujuk Adnan, Elvina mengangguk mengikuti.


"Kamu sudah makan?" tanya Adnan, wajah badmood itu tetap terlihat cantik.


"Belum."


Adnan beranjak dari duduknya untuk memesan makanan. Lalu kembali ke meja. "Makan dulu ya, ini bubur ayam sama cokelat hangat kesukaanmu."


"Makasih kak."


Adnan mengangguk sembari tersenyum. "Semenjak ada Ken kamu tidak semangat lagi, dia selalu menyakiti hatimu ya?" Tanya Adnan hati-hati, sangat terlihat wajah itu ditekuk masam.


"Iya, aku ingin berhenti tapi tidak bisa. Aku lelah, sudah tiga bulan bekerja dengannya tapi dia tidak pernah menghargaiku sedikitpun. Ada saja kesalahanku yang dilihatnya." Adu Elvina, dia ingin berhenti dari pekerjaan ini.


"Sudah, tidak perlu memikirkan itu. Jangan cemberut lagi." Ujar Adnan, dapat dipastikan Ken akan dapat masalah. Salah target membuat orang marah.


"Kakak makan juga ya." Elvina mengeluarkan senyum manisnya yang bisa membuat orang terkena serangan jantung.


"Tidak perlu senyum seperti itu, aku tidak akan tergoda dengan trikmu untuk menolak makan." Kesal Adnan, gadis itu selalu bisa membuat lawannya kalah iman.


"Kakak. Ayo temani aku makan. Kalau ini senyuman tulus untuk kakakku tersayang." Pinta Elvina dengan manja.


"Aku sudah makan bareng Ken pagi tadi. Gitu dong senyum. Susah amat sekarang senyum."


"Gara-gara orang gila itu." Elvina tertawa puas bisa menghina Ken sekarang.


"Gila apa maksudmu?"


Ken sudah ada dihadapan Elvina, mendengar semua yang mereka bicarakan.


"Anda rupanya ada di sini Nona. Masih bisa santai setelah melakukan kesalahan."


"Kak, aku duluan ya. Jadi hilang nafsu makan." Elvina meninggalkan Ken dan Adnan yang masih berada di kantin.