EL & KEN

EL & KEN
162



Ken dan Elvina kembali ke Jakarta, hanya bisa menikmati liburan dua hari. Itupun curi-curi waktu. Menyongsong hari senin yang disibukkan dengan berbagai aktivitas.


"Abang jadi kembali ke Kairo?" Tanya Elvina sambil bersandar di bahu Ken. Kini mereka sedang berada di pesawat.


"Harusnya jadi El, sayangkan kalau aku ambil cuti lagi. Kapan selesainya nanti." Ken menghela napas berat.


"Kok gak semangat gitu?" Elvina melirik wajah malas suaminya.


"Aku udah izin sama Om Erland ngajak kamu, tapi gak dibolehin." Ken mengusap-usap tangan Elvina. Selama satu tahun jauh dari istrinya, dia mana bisa.


"Alasannya apa, kamu kan suami aku. Masa gak dibolehin ikut." Elvina memonyongkan bibirnya tak terima.


"Om kamu takut aku nyakitin kamu di sana."


"Kamu udah gak pernah nyakitin aku lagikan, harusnya Om gak boleh gitu. Aku gak mau jauh dari kamu. Pokoknya aku mau ikut."


Ken tersenyum geli melihat wajah cemberut Elvina. "Aku usaha lagi ya, sampai benar-benar sembuh, biar Om Er yakin sama aku."


"Aku capek," lirih Elvina.


"Gak papa kalau kamu capek. Waktunya El istirahat, biar aku yang berjuang sekarang. Kamu cukup bertahan tunggu aku. Nanti kita jalan sama-sama." Ujar Ken, dia paham capek yang dimaksud Elvina. Bukan capek fisik tapi pikiran.


Sampai pesawat landing tak ada lagi pembicaraan. Elvina lebih memilih memeluk Ken dalam perjalanan menuju rumah.


"Assalamualaikum," Elvina mengucap salam dengan ceria yang di sambut Ulfa. Dia terbiasa menutupi lelah pikirannya dari semua orang. Tapi akhir-akhir ini dia ingin Ken tau, kalau dia lelah.


"Anak Ummi sudah pulang, kangennya ditinggal lama." Ulfa memeluk menantunya. Ken masih di teras mengurus barang-barangnya.


Elvina terkekeh geli, "baru satu minggu Ummi, Nana belum ikut Ken ke Kairo aja Ummi udah kangen. Gimana nanti." Godanya pada sang mertua.


"Gak papa ditinggal lama asal kalian sehat-sehat di sana." Ulfa mengurai pelukan, membawa Elvina duduk di sofa.


"Anaknya gak dipeluk nih, cuma menantu kesayangan yang dipeluk." Sindir Ken, Ulfa mengacuhkan putranya.


"Suamimu itu ditinggal beberapa hari aja udah gak nafsu makan Na." Adu Ulfa, Ken melotot pada sang ummi. Harga dirinya terjatuh, ummi pakai acara curhat segala.


"Serius Ummi, padahal aku gak mikirin Abang loh di sana. Udah ada dokter ganteng juga yang nganterin kemana-mana." Elvina memanas-manasi Ken sambil terkekeh geli.


"Ngomong apa tadi, hm." Ken menjepit Elvina di keteknya, "coba bilang sekali lagi, dokter ganteng?"


"Abang, bau huuhh. Ummi tolongin Nana, Abang bau kecut." Pekik Elvina memukul-mukul tangan Ken. Suaminya malah tertawa geli.


"Ken, Nana jangan dijepit gitu ntar lehernya keceklik." Tegur Ulfa, Ken hanya menjawab dengan tawa jahil.


"Dilarang muji-muji lelaki lain di depan suami sendiri." Tegas Ken sambil menjepit hidung Elvina. Lalu melepaskan tubuh istrinya.


"Kak Adnan juga gantengkan Ummi?" Tanya Elvina tidak mempedulikan dengusan suaminya.


"Ganteng juga, anak Ummi ganteng semua kok," ujar Ulfa.


"Hm, ini nih Ummi yang paling aku sayang." Ken mendekati Ulfa lalu memeluknya. "Sayang banget malahan."


"Ngapain peluk-peluk istri Abi, udah punya istri sendiri kan?" Tegur Nazar yang datang bergabung bersama mereka.


Ken memutar bola mata jengah, "masa gak boleh meluk ibu sendiri."


"Ya sudah, Abi peluk istrimu juga ya?" Nazar tersenyum mengejek.


"Abi, jangan coba-coba meluk El ya." Ken cepat berpindah duduk ke samping Elvina sebelum Nazar melancarkan niatnya.


"Masa gak boleh meluk menantu sendiri." Nazar mengembalikan ucapan Ken.


"Ini beda ya Bi," Ken sudah melotot pada sang Abi.


"Lah apa bedanya, sama-sama orang tua dan anak." Ucap Nazar dengan nada serius.


Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "pokoknya gak boleh, titik." Tegas Ken.


Elvina sudah tertawa gelak, melihat tingkah kekanakan suaminya.


"El, gak boleh ngetawain Abang ya, dosa tau." Tegur Ken, Elvina malah semakin tertawa.


"Ketawa aja masa dilarang, belum ada undang-undangnya deh," Elvina mencebik.


"Kalau membantah aku hukum malam ini!" Ken membekap mulut Elvina dengan telapak tangannya.


"Itu hukuman apa hadiah?" Sindir Nazar, Ken mendelik.


"El, masuk kamar yuk. Abi sama Ummi ganggu aja." Katanya sambil mencebikkan bibir. Nazar dan Ulfa ikut mentertawakan Ken.