EL & KEN

EL & KEN
183



"Jangan diam aja Sayang, aku gak suka kamu diam gini. "Ucap Ken frustasi, "El dengar aku ngomongkan."


"Dengar, Abang." Sahut Elvina sangat pelan, memutar badannya lalu membenamkan wajah dalam dada bidang Ken.


Rasanya Ken seperti sedang melihat istrinya sekarat. Elvina bergerak saja sudah membuat kekalutannya sedikit berkurang.


"Apapun yang mereka katakan tidak akan bisa merubah perasaan aku sama kamu, Cinta. Jangan dengarkan ucapan mereka." Ken membawa tubuh Elvina berbaring di atasnya.


"Kamu lihat aku kan? Aku masih di sini sama kamu, El." Lanjutnya, jika ada orang yang paling terluka dengan keadaan Elvina sekarang, maka dialah orangnya. Hatinya sakit melihat istrinya seperti patung.


"Jangan sedih!" Elvina mengusap wajah sendu Ken dengan tangannya yang masih gemetar.


"Aku sedih lihat kamu seperti patung gini, gak papa kalau kamu mau jadi boneka dashboard yang cuma bisa mengangguk-angguk. Tapi aku lebih senang kamu jadi El-ku yang cerewet lagi." Ujar Ken, sambil pura-pura tertawa untuk menyembunyikan perasaan sakitnya. Dia benci melihat ada orang yang menyakiti kesayangannya ini.


"Uh, sayang, sayang banget." Ken mengeratkan pelukannya, sangat takut kehilangan Elvina. Dia tidak bisa membayangkan kalau istrinya ini benar-benar tidak mau bersuara lagi.


"Aku malu," cicit Elvina.


"Kita di rumah aja ya, Sayang. Jangan kemana-mana lagi. Biar kamu gak malu." Bujuk Ken, tidak tau kalimat apa yang bisa membuat istrinya ini merasa lebih baik.


"Jadi Ummi nyuruh Abi pulang cuma buat lihat mereka bermesraan." Ucap Nazar sengaja lebih keras agar dua orang itu menyadari kehadirannya.


"Abang, ada Abi!" Pekik Elvina kaget, lalu berguling ke samping suaminya sambil menyengir lebar.


Sejenak Ken terpana dengan apa yang dilakukan istrinya, seringaian pura-pura kuat itu sudah jarang dia lihat. Elvina yang tadi cosplay jadi patung sekarang bisa terlihat ceria lagi.


"Kenapa, hm? Bikin panik Abi aja." Nazar mendekati menantunya lalu mengusap di kepala dengan lembut.


Istri Ken itu menggeleng seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bangun lalu memeluk pinggang Nazar. Elvina ingat dengan apa yang dikatakan Raga, kalau ada masalah jangan dipendam sendirian.


"Menutup aurat itu kewajiban setiap muslimah, Sayang. Kita gak bisa menilai seseorang hanya dari jilbabnya. Nana jangan dengerin apa yang mereka bilang ya," nasehat Nazar.


"Kita gak perlu takut dengan penilaian manusia. Dosa dan pahala itu urusan Allah. Mereka yang merasa lebih mulia itu hanya karena tidak bisa menyadari dosa-dosanya. Jangan pernah merasa kotor lagi, cuma Allah yang bisa menilai kemuliaan seseorang. Kita banyak-banyak minta ampun sama Allah aja ya Sayang," lanjutnya dengan tersenyum bangga pada Elvina.


Perempuan itu mengangguk pelan. Ken bersyukur istrinya mau bicara lagi dan mengungkapkan isi hati selain dengannya.


"Hari ini sudah berjemur?" Tanya Nazar. Elvina disarankan untuk berjemur setiap pagi untuk meningkatkan hormon serotonin yang didapat dari paparan sinar matahari. Hormon yang bisa membuat suasana hati menjadi lebih tenang dan fokus. 


"Sudah di taman tadi Bi."


"Pintar, jangan tiduran terus. Banyakin gerak ya, biar pikirannya bisa lebih fresh." Lagi-lagi Elvina menganggukkan kepala.


"Tenang aja geraknya sambil rebahan kok Bi. Bisa ngeluarin keringat juga." Sahut Ken usil yang mendapat pukulan dari sang ummi.


"Sana gih, suamimu ajak bikin baby tuh." Goda Nazar, Elvina mencebikkan bibir lalu mencubit keras pinggang Ken yang sudah membuat pipinya jadi memanas karena malu.


"Abang mulutnya gak sekolah ya? Tadi Abang bilang mulut Cla-cla gak sekolah kan. Tapi ternyata mulut Abang gak disekolahin juga," omel Elvina.


Ken meringis, tapi tersenyum bahagia karena kalimat panjang keluar dari mulut Elvina. Dia sudah menunggu istrinya bisa cerewet lagi.


"Sekolahnya sama kamu aja, biar kamu yang jadi gurunya." Ken mencubit bibir Elvina gemas.


"Ada Abi loh, masih aja berani godain aku!"


"Abi mau cucu dari kita Sayang, jadi gak akan marah." Suami Elvina itu semakin menggoda.


Nazar dan Ulfa bisa bernapas lega melihat dua orang itu adu mulut lagi. Cinta mereka itu susah di definisikan dengan kata-kata seperti permen nano-nano.