
"Keeenn!" Pekik Elvina nyaring.
Mendengar namanya dipanggil dengan teriakan. Ken segera keluar dari kamar mandi. Elvina menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Ada apa, Sayang?" Tanyanya khawatir, membawa Elvina duduk di sofa.
"Kenapa kamu sembunyiin ini dari aku, kenapa?" Elvina melempar ponsel Ken dengan sekuat tenaga ke dinding.
Ken membulatkan mata, ponsel keluaran terbarunya dinistakan sang istri. Untung sayang, huft.
"Apa yang kamu lihat, Sayang?" Tanyanya bingung, di ponselnya tidak ada video yang tadi malam mereka bahas.
Dia juga belum sempat mewanti-wanti Elvina untuk tidak bermain ponsel. Pagi-pagi istrinya sudah mengamuk.
"Lihat aja sendiri!" Sarkas Elvina marah.
"Gimana aku bisa lihat, ponselnya sudah kamu banting." Ucap Ken pelan, dia masih berusaha tenang. Berharap bukan video itu yang Elvina lihat.
"Aku benci Claudia," teriak Elvina nyaring. Mengundang seluruh isi rumah datang ke kamar Ken.
Claudia? Lelaki itu mengernyit. Dia tidak ada apa-apa dengan dokter itu. Chating juga hanya sekedar untuk mengatur jadwal konsultasi.
"Coba jelasin, ada apa dengan Claudia. Aku gak ngerti El, kamu kenapa aku juga gak tau." Ken membawa Elvina dalam pelukan. Perempuan itu memberontak tidak mau Ken sentuh.
"Jangan peluk-peluk, aku benci sama kamu!" Teriak Elvina histeris.
Ken membeku di tempat. Salahnya apa Tuhan, sepagi ini sudah diamuk istri sendiri. "Tolong El ngomong sama Abang. Abang gak ngerti, Sayang."
"Hei-hei, kenapa?" Adnan mendekat untuk menenangkan Elvina yang mengamuk saat Ken sudah kewalahan.
"Cerita sama Kakak, ada apa?" Katanya, membawa Elvina dalam pelukan. Perempuan itu masih belum mau bersuara.
"Nana kenapa, Sayang?" Tanya Adnan lagi, matanya melirik Ken. Adiknya itu mengendikkan bahu tak mengerti.
"Dokter Claudia kenapa, hm. Apa dia godain Abang dari kamu." Ujar Adnan mencoba mencari benang merah yang kusut. Elvina sudah tidak mengamuk namun menangis sesenggukan di pelukan Adnan.
Semua orang yang ada di rumah juga menatap heran Elvina yang tiba-tiba mengamuk seperti kesurupan. Ken jadi cengo, dia tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi. Dari tadi istrinya menyebutkan nama Claudia.
Erfan mengambil ponsel Ken, masih bisa digunakan walau tidak layak pakai. Keningnya mengernyit saat melihat pesan yang dikirim dokter Claudia. Sekarang dia mengerti kenapa Elvina mengamuk. Mereka belum punya persiapan sudah mendapat serangan dadakan.
"Claudia mengirim video itu ke sini." Bisik Erfan saat mengembalikan ponsel Ken. Si empunya langsung membulatkan mata.
Apa maksud dokter itu? Ingin mencari perhatian darinya kah. Hah, Ken harus bisa berpikir jernih sekarang. Bukan Claudia yang harus dia urus detik ini.
"Sayang, sini sama Abang." Bujuk Ken lembut, Elvina menurut karena sudah lebih tenang. Lelaki itu membawa istrinya duduk di pangkuan.
"Maafin Abang, Sayang. Abang gak tau kalau dia jelekin kamu." Ken merapikan rambut Elvina lalu mengambilkan jilbab kaos sambil menggendong sang istri.
"Abang akan kasih dia pelajaran nanti." Ujar Ken membawa Elvina duduk di pangkuannya kembali.
"Minum dulu, Sayang." Ulfa membuatkan segelas teh untuk menantunya. Ken membantu Elvina minum agar lebih tenang.
"Sudah lebih tenang?" Ken menghapus sisa air mata di pipi istrinya. Elvina masih diam tidak mau bersuara. Dia akan membuat perhitungan dengan dokter yang sudah menyebabkan istrinya mengamuk.