
Ken mengantar istrinya ke Jogjakarta, dia hanya menginap satu malam. Besok pagi sudah harus pulang, jarena ada meeting yang tidak bisa dia tinggal.
"Selamat datang Tuan, Nona, silahkan masuk." Raga membukakan pintu mobil berlagak seperti seorang pengawal. Sambil menundukkan kepala mempersilahkan masuk.
"Maaf Pak dokter, anda terlalu keren kalau menjadi seorang pengawal." Ejek Elvina masuk ke kursi penumpang belakang, sedang Ken duduk di samping Raga.
"Semoga perjalanan kalian menyenangkan," Raga menutup pintu penumpang kemudian memutari mobil, duduk di balik kemudi. Menghidupkan mesin dan menjalankannya memecah jalanan kota Jogjakarta.
Ken seolah sedang menilai penampilan Raga dengan sebelah mata, "sudah cocok sih kalau mau jadi pengawal. Tinggal diturunin dikit kadar ketampanannya, dengan gak mandi satu minggu, mungkin." Gumamnya yang mendapat tinjuan di lengan.
"Gak mandi satu minggu, gak akan menurunkan kadar ketampananku." Raga tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Oh ya, setampan itu tapi masih belum bisa meluluhkan hati bidadariku." Ken tersenyum miring menoleh pada Elvina yang duduk di belakang.
Raga berdecak, mau diadu gimana juga kalau masalah perasaan dia mah kalah terus. "Iya-iya, kamu pemenangnya, nanti aku kasih piagam penghargaan dan piala." Katanya sebal, kemudian terkekeh diikuti Ken.
Mobil memasuki pintu gerbang kediaman Pratama dan terparkir di depan sebuah bangunan mewah. Raga turun lebih dulu membukakan pintu mobil. Ken berdecak karena kalah cepat.
"Mari silahkan Tuan, Nona." Raga mempersilahkan masuk rumah dengan sedikit membungkuk dan membawakan koper Elvina.
Kesal, Elvina meninju dokter jiwa yang sakit jiwa itu. Raga tertawa gelak, sambil mengelus tangannya yang jadi samsak tinju.
Dari dalam rumah seorang gadis berlari ke arah pintu. "Aaaaaa, calon kakak ipar gak jadi sudah datang." Pekik Dela senang menarik Elvina masuk ke ruang tengah. Ken dan Raga menyusul.
"Mah kakak ipar gagal masuk kartu keluarga datang nih," ujarnya dengan suara melengking menarik Elvina untuk duduk di sampingnya.
Elvina hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan temannya itu.
"Itu tangan Nana sakit di tarik-tarik gitu," tegur Galuh, Dela hanya nyengir kuda.
"Om, Tante apa kabar?" Elvina menyalami Lingga dan Galuh diikuti Ken yang juga berkenalan.
"Baik Na," jawab Lingga dan Galuh bersamaan.
"Ini mulut kenapa dia aja yang nyerocos sendiri." Kesal Raga menjepit bibir Dela dengan jemarinya.
"Abang, ih sakit." Dela mencebikkan bibirnya.
"Duduk sini," Raga menarik adiknya agar tidak mengganggu Elvina dan Ken.
"Kenapa sih aku harus pindah," gusar Dela sambil menghentak-hentakkan kaki, tapi menurut juga.
"Adel diam!" Raga memeluk adiknya yang paling benci di peluk itu sampai meronta-ronta. "Makanya diam!" Tegasnya lagi. Dela tak berani berkutik kalau diancam begini.
"Mohon dimaklumi tingkah anak-anak Tante," ujar Galuh sambil melotot pada dua anaknya yang masih grasak-grusuk tak bisa diam.
"Aku udah maklum banget Tante, gak perlu diminta maklum lagi." Elvina terkekeh geli, Dela mendelik menatap tajam istri Ken itu.
"Kalau tidak merepotkan mau nitip istri saya selama satu minggu di sini Om, Tante." Izin Ken, dia bisa saja membawa istrinya ke hotel. Tapi di sana tidak ada menemani Elvina.
"Jangan sungkan, anggap saja ini rumah kalian. Berapa lamapun mau tinggal." Ujar Lingga ramah.
"Terimakasih, sudah merepotkan."
"Nana tidak merepotkan sama sekali, yang bikin repot tuh Adel anak Tante." Sahut Galuh, Dela sudah siap protes tapi takut di peluk abangnya lagi. Raga tertawa geli melihat kekesalan adiknya lalu mengecup di pipi.
"Abaaang, Adel gak suka ya dicium-cium gitu. Cari istri sana yang bisa dicium."
"Udah nyari tapi keduluan orang lain terus," curcol Raga.
"Dokter-dokter teman kamu itu kurang apa sih? Sama anak-anak teman Papa juga gak mau."
"Kurang getaran di sini Pah, mana bisa dipaksa." Raga memegangi dadanya dramatis, yang berujung jadi bahan tertawaan.
Obrolan hangat mengalir. Ken lega kalau ada yang menjaga Elvina selama tidak berada di sampingnya. Dia bisa kembali ke Jakarta dengan tenang.