
Elvina masih terjaga sampai tengah malam. Kila dan Erland sudah tertidur. Gadis itu melirik tangannya yang dibalut perban. Beberapa jam yang lalu dia nekat melukai tangannya sendiri. Karena terlalu sakit untuk menghadapi hidup selanjutnya. Elvina menyerah dengan takdir yang menghimpitnya.
"Mulai sekarang jangan menyimpan apapun benda dariku lagi."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Elvina, gadis itu mengambil ponsel di atas nakas dan melalukan panggilan video dengan Raga. Untung Omnya tidur di sofa, jadi dia bisa bicara di telpon tanpa takut mengganggu mereka.
"Belum tidur, ini sudah tengah malam?" Sapa Raga dari seberang sana, Elvina mengangguk. Lelaki itu baru ingin berlabuh ke alam mimpi, tapi kembali terbangun karena ada panggilan dari Elvina.
"Kamu di rumah sakit?" Tanyanya sangat hapal dengan bentukan ranjang rumah sakit. Elvina mengangguk, mengangkat tangannya menunjukkan pada Raga.
"Jangan bilang kamu habis bunuh diri tapi gagal." Ucap Raga bercanda tapi Elvina menggangguk serius. Lelaki itu mendesah berat.
"Apa yang kamu pikirin sih, sampai mau bunuh diri. Kamu janji buat baik-baik aja, tapi sekarang kenapa diingkari. Aku susul ke Jakarta besok." Omel lelaki itu.
Video call itu seperti pembicaraan satu arah, hanya Raga yang berbicara. Sedang Elvina cuma menggunakan bahasa isyarat.
"Sakit?" Tanya Raga lembut.
"Banget, di sini." Eh dia tidak bisa menekan dadanya yang sesak karena sedang memegang ponsel.
"Sabar ya, besok aku temenin." Ujar Raga menghibur.
"Makasih, aku mau kok nikah sama kamu." Ujar Elvina, dia sudah putus asa sekarang tidak ada harapan lagi bersama Ken. Lelaki itu sangat membencinya.
"Iya, kalau kamu sembuh nanti kita nikah." Ujar Raga, "dia bilang apa?" Entah apa yang Raga ucapkan hanya untuk menghibur gadis itu atau benar-benar serius. Dia tidak yakin bisa menggantikan posisi Ken di hati Elvina.
"Ken ngambil boneka beruang, katanya jangan menyimpan apapun benda darinya lagi." Adu Elvina sendu.
"Karena boneka itu diambil kamu jadi milih bunuh diri?" Elvina menangguk lemas. Bonekanya saja sangat spesial apalagi orangnya. Apa bisa Raga menikahi orang yang tidak mencintainya.
"Nanti aku belikan boneka yang besar juga." Bujuk Raga, "kenapa belum tidur, kamu harus banyak istirahat."
"Sekarang matiin telponnya, besok pagi aku ada di sana sekalian sama boneka beruangnya." Ujar Raga dengan tersenyum sangat manis, yang penuh kepalsuan.
"Makasih."
"Sama-sama, tidur ya Sayang." Elvina mengangguk lalu mematikan telponnya. Salahkah dia menjadikan Raga pelarian cintanya. Jawabannya sangat salah, sama saja dia masuk ke dalam kubangan luka lagi.
"Siapa?" Tanya Erland, Elvina terkejut mendengar suara Omnya itu.
"Dokter Raga."
"Kamu dekat?"
"Dia mau menikahiku, membantuku untuk sembuh." Erland menolak keras pemikiran keponakannya, lelaki paruh baya itu duduk di kursi samping brankar.
"Kamu sudah siap untuk merasakan sakitnya hidup bersama orang yang tidak kamu cintai? Itu sangat menyakitkan Sayang, dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Dan kamu tidak bisa mundur kalau akad sudah terucap."
"Om gak mau kamu menyesal Sayang, dan hidup dalam luka yang baru. Kamu bisa menyembuhkan luka lama tanpa harus membuat luka baru." Erland mengusap puncak kepala keponakannya.
Elvina harus apa, tadi dia yang mengajak Raga menikah. Masa besok dia juga yang harus membatalkannya. Dia tidak berniat mempermainkan Raga. Elvina hanya butuh tempat yang bisa membuatnya nyaman. Dengan Raga, dia bisa nyaman bercerita, mengungkapkan segala keluh kesahnya.
"Nanti Om yang bicara sama Dokter Raga, jangan khawatirkan itu. Kamu istirahat, Om temani di sini." Ujar Erland, dia melihat kegundahan yang Elvina rasakan.
Wajar keponakannya butuh tempat yang nyaman untuk dijadikan pelarian rasa sakitnya. Tapi itu akan membuat rasa sakit yang baru untuk mereka nanti.
***
Dah ya, aku up lima chapter dulu. Lanjutannya InyaAllah besok ๐