EL & KEN

EL & KEN
168



"Ken!"


Panggil Adnan sambil mengetok pintu kamar adiknya lumayan keras.


Ken membuka pintu dengan malas, tengah malam sang kakak mengganggu tidurnya saja. Untung Elvina tidak terbangun.


"Ada apa Kak, tengah malam ini." Ken berdecak, Adnan tak menghiraukan menarik tangan Ken untuk ikut dengannya.


"Duduk," titah Adnan. Mereka sekarang ada di kamar Erfan. Ken masih belum mengerti kenapa Adnan menariknya ke sini.


"Ada apa sih, ganggu gue tidur aja." Ujar Ken kesal.


"Video pelecehan Nana tersebar ke media sosial." Ujar Erfan seraya memberikan ponselnya. "Ada yang sengaja ngirim ke gue."


"Kok bisa!" Ken membulatkan mata tidak percaya, masalah apalagi yang menghampiri istrinya sekarang. "Ini gak bisa dibiarin," katanya setelah melihat video yang sudah tersebar itu. Dia tidak bisa melihat tubuh istrinya terekspos. Argh, Ken menarik rambutnya frustasi.


"Kamu tenang dulu. Biar kami yang mencari pelakunya dan menghentikan penyebaran di media sosial." Ujar Adnan yang mengerti kerisauan Ken.


"Gimana terpukulnya El kalau tau semua ini Kak," Ken mendesah lemas.


"Kamu usahain biar Nana gak tau dengan semua ini. Awasi dia kalau sedang main hp." Saran Adnan, "atau kamu ambil sekalian hpnya."


"Pasti Azmi melakukannya untuk balas dendam. Aku gak bisa El diginiin, Kak." Geram Ken emosi.


"Kita semua juga gak ada yang mau Nana diginiin, Ken. Kamu tenang dulu, kendalikan diri. Kalau kamu emosi, Nana bisa jadi kena imbasnya." Adnan menepuk bahu adiknya untuk menenangkan.


"Coba kasih tau aku, gimana caranya untuk tenang saat istriku dihujat dan... Argh." Ken memejamkan mata, berusaha untuk meredam emosi yang hadir.


Adnan bergeming. Ken kembali ke kamar meninggalkan dua orang itu. Ditatapnya dalam Elvina yang sedang terlelap.


"Apalagi ini, Sayang. Kenapa terlalu berat jalan yang harus kamu lalui." Ken membawa Elvina dalam pelukan.


Dia belum siap menerima kehancuran istrinya kalau mengetahui semua ini. Dirinya saja merasa terluka apalagi sang istri nanti.


"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat, Sayang." Lirih Ken, "kita akan hadapi sama-sama. Aku gak akan ninggalin kamu sesulit apapun jalan bersama kita nanti."


Ken berusaha menguatkan hati untuk menerima segala situasi setelah ini. Dia akan meminta Raga untuk mendampingi Elvina sampai benar-benar pulih.


Di kamar yang lain, Erfan dan Adnan berusaha keras sampai subuh memblokir semua video yang sudah tersebar di berbagai media.


"Penyebaran memang sudah terhenti, tapi sudah ada ribuan orang yang mendownload." Adnan menggeleng pelan, kepalanya sudah terasa berat, satu jam lagi azan subuh berkumandang.


"Kita istirahat sebentar, besok lanjut lagi." Usul Erfan, kepalanya juga sudah pening. Adnan mengangguk setuju.


Erfan bukannya tidur setelah Adnan pergi, otaknya masih terus berpikir. Ancaman ini datang karena keluarganya. Kehancuran Elvina terjadi juga karena keluarganya.


"Allah, bisakah aku saja yang menanggung semua penderitaan Nana. Aku tidak sanggup melihatnya harus terpuruk lagi. Setelah Engkau titip takdir bahagia padanya, tolong jangan ambil lagi." Batinnya, dia belum siap melihat perempuan tersayangnya hancur karena dirinya.


Kenapa harus Elvina yang menjadi sasaran Azmi, saat ada banyak perempuan di dunia ini yang bisa untuk ditidurinya. Kenapa harus Fany, adiknya yang merencanakan semua ini. Erfan bisa gila kalau terus memikirkan semuanya.