
"Kalian habis ngapain?" Tanya Adnan penuh curiga pada Ken yang baru keluar dari kamar mandi.
Ken hanya menjawab dengan cengiran lalu duduk bersandar di bahu Elvina.
Adnan geleng-geleng kepala, "kurang puas di rumah?"
"Jangan buat El malu Kak." Tegur Ken, dia sengaja memancing Elvina agar suasana hati istrinya itu kembali. Kalau Adnan bicara seperti itu bisa-bisa mood sang istri jelek lagi.
"Terserah kalian aja, selesain tuh kerjaan." Adnan meletakkan berkas di atas meja. Ken hanya mengangguk, sebelum kakaknya meninggalkan ruangan. Dia gak berbuat dosa kan, jadi gak masalah.
"Abang kerjain aja dulu biar bisa pulang. Nanti disuruh Kak Adnan lembur kalau gak selesai."
"Siap nyonya Ken," suami Elvina itu mencium istrinya sekilas di bibir lalu beranjak ke meja kerja. Setelah berjam-jam berkutat dengan pekerjaan, Ken mengajak Elvina pulang.
"Uh kesayangan aku udah pulang." Erfan merentangkan tangan, Elvina segera menyambut tapi Ken lebih dulu memeluknya. Jadilah Erfan memeluk udara hampa.
"Jangan kecentilan, El." Tegur Ken dingin, Elvina memanyunkan bibirnya.
"Pelit banget, cuma peluk juga. Gak gue ajak tidur," Erfan mencebik.
"Masuk ke kamar, Sayang!" Titah Ken. Elvina menurut, Erfan sudah tertawa gelak. Menurutnya Ken cemburu itu sangat lucu.
"Gitu amat, gue cuma bercanda." Erfan meninju bahu Ken, kemudian menjatuhkan tubuh di sofa.
"Lo kenapa, suntuk banget." Ken menggeser kaki Erfan lalu duduk di sana. Walau masih banyak sofa kosong.
"Cuma butuh liburan." Sahut Erfan tenang, tidak mungkin dia bilang rindu Elvina kan. Bakalan mengamuk suami posessifnya ini.
"Duit banyak, tinggal liburan."
"Kalau duit ada, tapi yang bisa bikin bahagia gak ada. Ya gak guna," Erfan berdecak.
"Dah cari istri sono. Biar hidup lo bisa bahagia," Ken mencibir.
"Lo dari pada gak ada kerjaan, mending bersihin kolam renang sana." Usir Ken sambil tertawa gelak.
Erfan melemparkan bantal sofa, "sembarangan, lo pikir gue pembantu! Sana masuk kamar, kelonin istri lo itu." Usirnya balik.
"Biar gak lo suruh, gue dengan senang hati ngelonin, El." Ken tersenyum miring, lalu pergi ke kamar.
Seperginya Ken, Erfan menghela napas panjang. Hatinya ini terbuat dari apa sih, kenapa dengan rela melihat orang yang dicintainya bahagia bersama sahabat sendiri.
"Cinta-cinta aja, jangan diratapi juga!" Sindir Adnan. Lelaki itu mengambil posisi duduk di depan sofa Erfan.
Erfan melirik Adnan sekilas, lalu bertanya. "Gimana rasanya punya adik ipar seorang perempuan yang penah mengisi hati lo."
"Ya gitu, mau gimana lagi." Adnan mengendikkan bahu.
"Lo belum move on?"
"Melupakan dan mencintai orang baru itu dua hal yang berbeda. Lo bisa lakuin sambil jalan, asal mau membuka hati." Jelas Adnan tenang, "seperti yang orang bilang. Cinta bisa hadir karena terbiasa."
"Lo penganut teori itu?"
"Gue mau apa kalau takdir sudah berkata jodoh gue Attisya. Selain menjalaninya dengan bersabar dan mensyukuri semua yang Allah berikan."
"Pernah menyesal dengan keputusan yang lo ambil?" Erfan memberikan pertanyaan seperti sedang ujian lisan. Dia sedang malas berbasa-basi.
Adnan menggeleng kemudian tersenyum, "Sya hadiah terindah buat gue. Gue gak bisa bandingin antara Nana dan Sya. Tapi gue bersyukur Allah kasih gue Attisya."
"Apa bisa gue seperti lo, membuka hati untuk perempuan baru. Menerima seseorang yang gak pernah gue cinta," Erfan mendesah berat.
"Lo gak akan tau kalau belum mencoba. Sebanyak apapun nasehat gak akan ada gunanya." Tutur Adnan, Erfan hanya mengangguk. Nasehat itu masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.