EL & KEN

EL & KEN
174



"Anak Mama gak papa?" Tanya Kila, Elvina tersenyum lalu mengangguk.


"Aku gak papa, Ma. Selama ada Abang aku gak akan kenapa-kenapa." Ujarnya meyakinkan sang mama.


Ken menggenggam tangan kiri Elvina untuk memberikan kekuatan. Ada raut cemas di wajah istrinya itu saat bertemu Kila.


"Menantu kesayangan Mama ini pasti bisa bikin kamu bahagia banget ya. Siang-siang gini aja mandi basah." Goda Kila untuk mencairkan suasana yang canggung. Dia sengaja tidak membahas masalah Elvina.


"Mama apaan sih," Elvina bersemu merah. Menyandarkan kepala di bahu Kila karena malu.


"Ngapain malu-malu, Mama juga udah siap punya cucu kok."


"Emang mau punya cucu berapa?" Tanya Elvina sambil melirik Ken.


"Seberapa dikasih Allah aja, Sayang. Mama juga cuma Allah kasih kamu tetap bahagia."


Elvina tersenyum, "doain kami ya Ma, semoga cepat Allah kasih."


"Mama selalu doain kalian, tanpa kalian minta." Kila memeluk putrinya dengan sayang, sekuat ini Elvina di hadapannya selalu menampilkan senyum. Padahal dia tau, beban berat yang sedang mengisi kepala anak semata wayangnya ini.


"Mama jangan sedih, Nana gak suka Mama sedih ya." Ujar Elvina, saat Kila berubah sendu.


"Mama gak bisa buat gak sedih, Sayang. Apalagi lihat anak Mama yang sok kuat ini." Kila menangkup pipi Elvina.


Elvina segera menyeka air mata yang ingin jatuh di pipi sang bunda. Dia menggeleng, "Mama jangan nangis karena aku. Jangan!" Lirihnya dengan suara yang sudah berubah parau.


"Mama gak nangis Sayang, Mama bangga sama kamu. Papa pasti juga bangga sama kamu." Kila memeluk putrinya kembali. Menjatuhkan air mata dalam diam.


L


Ken dengan sigap menghapus butiran bening yang berjatuhan itu. Begitu besar cinta ibu pada anaknya. Dia akan berjanji untuk tidak pernah membuat Elvina sedih karenanya. Kalau itu terjadi sama saja sudah melukai perasaan seorang ibu.


"Mama hati-hati, jangan sedih. Ingat jangan sedih." Tegas Elvina sambil tertawa kecil.


"Siap tuan puteri." Kila mengecup kening putrinya lalu beralih pada sang menantu. "Gak perlu antar Mama, Ken. Kamu temani anak manja Mama ini aja." Ujarnya masih menggoda sang anak untuk menyembunyikan kesedihan.


Elvina memeluk Ken setelah Kila meninggalkan kamar. Dia tidak menangis ataupun bersuara, betah untuk kembali diam.


"Terimakasih istri hebatku." Ken mengecup puncak kepala Elvina berkali-kali. "Abang juga bangga sama kamu."


"Sama-sama Pak Suami." Elvina mengangkat wajah mengedipkan mata pada Ken.


"Jangan godain Abang gitu kalau gak mau diajak bikin cucu buat Mama."


"Udah capek Abang," ucap Elvina manja naik ke pangkuan sang suami.


"Capek tapi enak, Sayang."


Pipi Elvina memanas, pasti sekarang pipinya sudah memerah karena perbuatan Ken.


"Kok makin mancing-mancing pakai merah ini pipi sih, malu-malu mau ya," goda Ken.


Elvina menggeleng mengkerutkan hidung sebelum menempelkannya di hidung Ken. Beberapa detik kemudian Ken berteriak kaget. "Argh, sakit El."


Perempuan itu tertawa gelak setelah berhasil membuat bibir Ken berdarah karena gigitannya.


"Pasti bengkak ini, Sayang. Jadinya susahkan nyium kamu," ujar Ken gusar.


"Biar gak suka nyosor sembarangan." Katanya sambil mengusap bibir Ken yang berdarah. Lalu mengecupnya sebentar.


"Gak papa bibir Abang luka, asal kamu bisa ketawa lagi. Aku suka kamu nakal gini sama Abang." Ken mengabadikan tawa istrinya dalam ingatan.