EL & KEN

EL & KEN
84



Sejak kepergian Elvina, selama itu juga Ken murung dan mengurung diri dalam kamar. Sekedar makan di meja makan saja, Ken tidak memiliki tenaga.


Dia hanya akan keluar kalau mau mengunjungi rumah Elvina. Semangatnya ikut pergi bersama kepergian gadis yang dicintainya.


Malam ini kediaman keluarga Nazar kedatangan tamu, Zayid dan putrinya. Ken sangat malas untuk keluar kamar, sekedar untuk berbasa-basi dengan mereka.


"Jadi laki-laki harus bertanggung jawab Ken. Semua tidak akan terjadi kalau kamu tidak memulainya." Ken sudah bosan mendengar tausiyah kakaknya itu. Tau, kalau dia salah, tapi tidak harus selalu diungkit kesalahannya itu.


"Iya aku salah. Kakak yang selalu benar. Puas!" Ujar Ken lalu meninggalkan kamar. Adnan salah bicara, orang sedang frustasi sangat sensitif. Dia menggiring di belakang sang adik, ikut bergabung di sofa.


"Bagaimana kabarmu Ken?" Tanya Zayid basa-basi.


"Seperti yang kalian lihat." Jawabnya acuh, hilang sudah segala sopan-santunnya di depan orang yang sudah meminta Elvina untuk menjauhinya. Ken sangat benci mengetaui itu, hilang sudah segala respectnya selama ini.


"Kalau mau mengambil Yayasan itu, silahkan ambil saja. Aku sudah tidak berminat dengan pernikahan ini. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang egois hanya memikirkan dirinya sendiri." Lanjut Ken lalu meninggalkan ruang tamu. Lelaki itu menuju garasi, mengendarai mobilnya dengan cepat. Dia muak bersikap sok baik.


Di tempat duduknya Aish membeku dengan ucapan kasar Ken. Semua terjadi karena Elvina, sebelum ini Ken tidak pernah memperlakukannya seperti ini.


Begitu juga dengan Zayid tak menduga mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari calon menantunya.


"Maafkan Ken, dia sedang terpukul karena kepergian Nana." Ujar Nazar merasa tidak enak dengan tamunya.


"Jika kamu pikir Nana tetap mempertahankan Ken demi menyakitimu maka kamu salah. Dia rela pergi agar Ken tetap memilihmu." Adnan menatap dingin Aish, kemudian kembali ke kamar.


"Maafkan mereka, mereka menyayangi Nana seperti adik sendiri. Jadi merasa bersalah saat Nana memilih untuk pergi dari rumah." Jelas Ulfa, wajah tamu-tamunya sudah tidak enak untuk dipandang.


Nazar memberikan berkas-berkas yang berkaitan dengan yayasan pada Zayid. "Ini semua berkas yang berkaitan dengan Yayasan. Maaf aku tidak bisa memaksa Ken untuk menikah dengan Aish." Ujar Nazar merasa bersalah.


Melihat Ken sehancur sekarang saja Nazar tidak sanggup apalagi kalau sampai dipaksa menikah dengan Aish.


Tanpa banyak bicara Zayid mengambil semua berkas itu dan membawanya pulang.


"Nanti pelan-pelan kita bangun Yayasan sendiri ya Bi." Ulfa mengusap tangan suaminya untuk menyalurkan kekuatan, Nazar mengangguk pelan.


"Adnan, cari adikmu sebentar. Bahaya malam-malam begini." Teriak Nazar dari ruang tamu.


"Iya Bi." Sahut Adnan, lalu mengajak istrinya sekalian keluar.


"Kita mau nyari kemana Mas?" Tanya Attisya bingung, bukan anak kecil yang mereka cari. Tapi bayi dewasa yang sedang patah hati.


"Paling di taman Sya, pake jaketnya. Di luar dingin." Ujar Adnan sambil memasangkan jaket pada Attisya. Walau menikah tanpa rasa cinta, Adnan tetap memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Dia percaya cinta bisa hadir karena terbiasa dan saling membutuhkan.


"Makasih Mas."


Adnan menjawabnya dengan senyuman. Mereka menuju taman di antar supir. Setelah sampai di sana, Adnan meminta supir untuk pulang duluan. Di sebuah kursi panjang dia melihat Ken sedang termenung menatap langit. Adiknya itu benar-benar seperti orang depresi.