EL & KEN

EL & KEN
160



Setelah berpamitan pada keluarga Dela dan mengucapkan terimakasih. Ken membawa Elvina ke sebuah villa yang jaraknya sekitar empat puluh menit dari pusat kota. Tempatnya jauh dari keramaian, menciptakan nuansa alami yang sejuk dan nyaman. Sangat pas untuk menikmati momen yang menenangkan.


"Kangen banget deh sama istri aku ini." Ken membawa tubuh Elvina dalam dekapannya. Kini mereka sedang memandang hamparan sawah yang luas dan menikmati angin sepoi-sepoi dari balkon.


"Aku nggak kangen tuh," ujar Elvina seraya tersenyum tipis.


"Oh ya, nggak kangen di peluk juga nih?" Ken menjawil-jawil hidung perempuannya itu.


"Enggak kangen. Tapi kangen banget." Katanya mesra, mengalungkan tangannya di leher Ken.


"Sekarang kamu taukan, kenapa Abang khawatir banget kalau kamu pergi sendirian." Ken menyibak anak rambut yang menutup mata Elvina. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istrinya ini, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Perempuan itu mengangguk lalu tersenyum, "iya, aku udah selamatkan ada di sini sama Abang."


"Kamu mau di borgol, biar gak bisa jauh lagi dari Abang."


"Cukup borgol hati aku, Bang." Ujarnya sambil menyengir.


"Kalau gak di hukum kamu ngejawab terus ya." Ken memanggul Elvina ke kamar.


"Abang, turunin aku!" Seru Elvina kaget sambil memukul-mukul punggung Ken.


"Nggak akan, kamu harus dihukum sampai gak bisa jalan." Ken menjatuhkan Elvina pelan di tempat tidur dengan seringaian jahil.


"Abang Ken sayang, yang baik hati, suka menolong dan rajin menabung. Kita jalan-jalan sore yuk, pasti asyik kalau keliling desa pake sepeda." Rayu Elvina dengan wajah memelas.


"Abang gak akan kemakan rayuan kamu, Sayang." Ken membawa tubuh Elvina di atasnya. "Di kamar aja, malas jalan-jalan." Katanya, mengelus sayang pipi sang istri.


"Tapi Abang gak boleh nakal, aku capek." Elvina menjatuhkan kepala di bahu Ken. Suaminya itu dengan sigap membelai punggungnya.


"Iya, gak nakal. Gini aja, masih kangen."


"Kerjaan Abang sudah beres ditinggal jemput aku. Nanti Kak Adnan marah lagi loh."


Malamnya sepasang suami itu menikmati keindahan alam pegunungan yang masih sangat alami. Hawa sejuk dan menenangkan disuguhkan oleh taman lampion yang memberikan kesan romantis.


"Dingin Sayang?" Ken mengeratkan genggaman tangannya.


"Hu'uh," Elvina mengangguk.


"Kita pulang aja nanti kamu sakit."


"Abang, kita baru sampai sini loh." Keluh Elvina, dia baru menikmati pancaran cahaya warna-warni yang dihasilkan dari lampu lampion sudah diajak pulang.


"Mending kita di kamar, hangat Sayang. Bisa bikin enak, kalau di luar dingin bisa bikin kamu sakit." Alibi Ken, yang sebenarnya sangat malas keluar kamar kalau istrinya tidak merengek.


"Abang tuh ya mesum terus, gak ada habisnya. Ayo pulang!" Elvina menarik tangan Ken, berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki kesal.


Yah, salah lagi. Derita deh, Ken bisa dicueki semalaman nih. "Kitakan ke sini buat honeymoon, Sayang.


"Honeymoon apaan, gak keren banget. Mau honeymoon itu ke Maldives, kek atau Venice." Gerutu Elvina, sampai kamar pun perempuan itu masih mencak-mencak.


"Ya sudah, kita jadwalin liburan kemana yang kamu mau." Bujuk Ken, memeluk istrinya dari belakang.


"Beneran?" Elvina memutar badan, Ken mengangguk lemas. Bukan tidak senang liburan, waktunya saja kurang tepat. Dia harus segera kembali ke Kairo menyelesaikan study.


"Gak usah deh, Abang aja gak semangat gitu." Ujar Elvina jengkel melepaskan pelukan Ken, dia naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut menutupi seluruh badan.


Ken ikut berbaring di samping Elvina. Malam ini dia tidak punya banyak energi untuk berdebat. Beberapa saat napas lelaki sudah teratur.


Elvina melirik ke luar selimut saat cukup lama tidak ada Ken membujuknya. Hatinya mencelos, mendapati sang suami sudah tertidur.


"Orang ngambek, bukannya dibujuk, malah tidur." Sungut Elvina, lalu menyusul mejamkan mata.