
"Abang jadi ketemu psikiater tadi?" Elvina bersandar manja di bahu Ken. Suaminya itu masih sibuk memainkan ponsel.
Ken meletakkan ponsel di atas nakas, menarik Elvina ke dalam pelukannya. "Sudah, dugaan sementara mengalami post traumatic stress disorder. Kecelakaan itu sudah membuat Abang trauma. Kadang trauma itu muncul ketika melihat kamu, karena kamu yang paling berpengaruh dalam pikiran Abang. Jadi bisa marah tanpa sebab sama kamu, Sayang."
"Aku harus apa biar Abang cepat sembuh dan gak benci lagi lihat aku?"
"Bertahan apapun yang terjadi sama Abang. Jangan benci aku kalau nanti gak bisa mengendalikan diri. Kamu jangan dekat-dekat kalau aku sedang marah."
"Aku paling gak bisa dimarahin sama Abang, sakit banget rasanya." Ken menopangkan dagu di atas kepala sang istri, semakin mengeratkan pelukannya. "Abang akan sering terapi biar cepat sembuh."
"Terimakasih Abang," Ken tersenyum membawa Elvina berbaring. "Tidur, Sayang."
Ken yang sekarang jauh berbeda dengan sebelum amnesia. Kalau dulu lelaki itu tidak akan mungkin membiarkan Elvina tenang tanpa menggoda. Tapi sekarang suaminya terlihat dingin, jarang bercanda lagi.
***
"Ummi, Erfan numpang sarapan, numpang tinggal juga, sekalian numpang jadi anak pungut ummi dan abi." Teriak seorang pemuda yang bertamu di pagi hari minggu seraya menerobos ke meja makan.
Ken berdecak melihat kelakuan sahabatnya satu itu, sangat tidak tau diri. Jadi tamu tapi berlagak seperti tuan rumah.
"Sayang, kamu hari ini ke butik lagi?" Tanya Erfan dengan kurang ajarnya pada Elvina tanpa mempedulikan tatapan membunuh Ken. Nazar dan Ulfa menggeleng-geleng karena kelakuan anak pungutnya itu.
"Ngomong yang sopan ya, kalau sampai Abang mengamuk kamu aku bunuh di tempat." Elvina melotot tajam pada Erfan, si empunya malah menyengir lebar.
Tidak taukah Erfan, kalau Ken marah itu sangat mengerikan. Dia takut Ken tiba-tiba emosi lagi.
"El, Abang suapi ya." Ken tersenyum pada Erfan dengan penuh kemenangan.
Erfan membulatkan mata, apakah akan ada drama romantis pagi ini. Ken sengaja ingin pamer padanya.
"Tanganku gak sakit Abang, bisa makan sendiri."
"Biar tangan El gak capek. Tangannya di pake buat meluk Abang aja ya." Katanya seraya memasukkan beberapa suapan ke mulut Elvina.
Sepertinya Elvina bisa menggunakan Erfan agar suaminya itu semakin manis dan tidak membencinya lagi.
"Ekhem yang gak mau jauh-jauh makan aja harus nempel ya." Goda Attisya, dia senang dari tadi malam tidak terdengar Ken mengamuk pada Elvina lagi. Semoga adik iparnya itu selalu bisa mengendalikan diri.
"Nanti ada yang godain istri aku Kak Sya." Jawab Ken, di tengah-tengah menyuapi Elvina, dia mengusap lembut pipi sang istri dengan penuh cinta. "Makan yang banyak Sayang, biar cepat jadi baby." Ucapnya tanpa malu.
Ulfa mengucapkan syukur melihat putranya yang bisa bersikap manis lagi pada Elvina. Semoga terus begitu, dia berharap Ken bisa mengendalikan diri saat trauma itu datang.
"Abang gak makan, aku suapin juga ya?"
Ken menggeleng pelan lalu tersenyum, "El habisin dulu makannya, baru Abang makan."
"Aku mau disuapin juga Na." Erfan mencondongkan tubuhnya pada Elvina.
"Sini aku suapin pake sutil," sarkas Ken. Elvina cekikikan, cemburunya Ken pada Erfan tidak pakai adu otot. Ternyata Ken tidak berubah pada orang lain. Hanya padanya saja, dia bisa memanfaatkan ini untuk Ken cepat pulih.
"Mampus!" Ucap Adnan dan Attisya bersamaan, "Sayang kita suap-suapan juga yukk." Adnan ikutan menggoda si jomblo yang betah jagain jodoh orang lain.
"Hm, Mas kalau disuapinnya pake tangan semakin romantis deh." Ujar Attisya menjadi-jadi, Erfan mencebikkan bibir kesal, "Ummi sama Abi mau disuapin gak, sini Erfan suapin biar romantis."
Meja makan yang harusnya khusuk dengan sarapan malah jadi ajang adu romatis. Mereka tak bisa menahan diri untuk tidak mentertawakan Erfan. Akhirnya gelak tawa pecah di meja makan. Kasihan yang jomblo.