EL & KEN

EL & KEN
38



"Na, boneka dari siapa itu jadi dibawa, kan bisa ditinggal dalam mobil." Erfan baru menyadari Elvina selalu memeluk boneka sejak tadi. "Sini aku pinjam." Erfan mau merebut bonekanya tapi Elvina menepis tangan Erfan dari hadapannya.


"Jangan coba-coba menyentuhnya, Erfan. Nanti diambil kak Adnan buat calon istrinya." Ucap Elvina keras.


Ken tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu. Sayang jugakan kamu sama aku El.


"Aku pinjam aja, gak akan ngapa-ngapain, Na. Cuma mau peluk bonekanya." Bujuk Erfan lembut, tetap saja Elvina menolak keras boneka yang baru didapatnya di pegang oleh lelaki itu.


"Aku gak mau bonekanya bekas pelukanmu Erfan." Sahut Elvina tegas.


"Sini biar aku yang meluk bonekanya El." Ken merebut boneka di tangan Elvina. Gadis itu hanya diam tidak memberontak. Kenapa dia jadi lemah sih, sejak didiamkan Ken tadi.


"Na, mukamu kenapa merah." Erfan mentertawakan Elvina dengan puas. Puas rasanya bisa menggoda gadis itu sampai tak berkutik.


"Kembalikan bonekaku." Pinta Elvina pada Ken karena menahan malu.


"Sejak kapan kamu jadi pemilik boneka ini Nona, bukannya tadi sudah ditolak dan mau dibuang." Jawab Ken dengan penuh kemenangan.


"Nanti beruangku gak ada temannya." Katanya memelas pada Ken.


"Pulang dari sini kita beli Na, pilih sesuka hatimu." Erfan membujuk Elvina yang memelas pada Ken.


Ken berharap Elvina menolak tawaran Erfan yang menggoda gadis itu. Tapi ternyata tidak, Elvina tidak akan menyia-nyiakan barang gratisan. Apalagi kalau bisa, dia akan memeras harta kekayaan Erfan.


"Benarkah, sepuluh ya," pekik Elvina girang.


Oh Tuhan, Matre juga nih cewek gak bisa dikasih hadiah dikit, gak ngerti perasaan Ken. Lelaki itu mendengus kesal.


"Iyaa, kita penuhi kamarmu. Ken serahkan boneka itu, biar aku ganti boneka dariku." Erfan ingin mengambil boneka di tangan Ken namun tangannya ditampar keras Elvina.


"Jangan macam-macam Erfan." Elvina merebut boneka dari Ken sebelum diserahkan lelaki itu pada Erfan. Dia tidak rela ada yang menyentuh boneka itu selain Ken.


"Emang siapa yang bilang boneka ini dari Ken?" Tanya Elvina lugu.


"Kan tadi Ken bilang, Sayang." Elvina mengendikkan bahu salah tingkah.


"Sudah makan dulu Na, dari tadi berantem terus." Ujar Adnan kala pramusaji datang membawakan pesanan mereka.


"Kak, nanti bonekaku diambil Erfan kalau ditaroh di sini." Adu Elvina dengan manja pada Adnan.


"Kakak suapin, Sayang."


"Adnan, biar aku yang nyuapin." Erfan menarik piring di depan Elvina.


"Aku gak mau Erfan! Sini makananku, bisa kok tangan satu." Elvina menarik piringnya kembali.


"Sini aku suapin." Tanpa banyak bunyi Ken menyendokkan nasi menyuapkan ke mulut Elvina.


Erfan dan Adnan tertawa geli melihat tingkah anak itu.


"Giliran sama Ken pasrah." Erfan mendengus kesal. "Ken kapan lo balik?" Matanya tertuju pada laki-laki yang masih menyuapi Elvina.


"Setelah pernikahan Kak Adnan, lo menetap di sini lagi?" tanya Ken balik.


Erfan mengangguk, "rencananya begitu. Nana buat aku ya, kan mau ditinggalin juga."


Ken mengendikkan bahu tak peduli. "Tanya sama El sendiri Fan, terserah dia." sahut Ken singkat. Mau maksa El memilihnya juga tidak mungkinkan.


"Aku memilih Azmi!" Jawaban Elvina, membuat meja itu menjadi hening.


Ken menghela napas pelan agar tidak di dengar gadis di sampingnya. Kenapa Elvina tidak bisa melihat cintanya yang begitu besar. Kecewa, tentu saja. Saat ini hatinya sedang terluka. Ken mengabaikan perasaannya, yang penting gadis kesayangannya bahagia. Ken akan berusaha merelakannya.