
"Abi, aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak kenal dia." Teriak Ken saat Elvina mendekat ingin menyerahkan sebuket bunga.
Selama dua hari ini Elvina selalu datang menunggu Ken bangun dengan air mata dan rasa bersalah.
Hari ini dia bergegas ke rumah sakit, saat Adnan mengabarinya kalau Ken sudah sadar. Tapi lelaki itu tidak mengenalinya, malah menanyakan siapa dirinya. Dan lelaki itu tidak percaya saat Adnan menjelaskan kalau dia yang di Ken pilih menjadi calon istri.
Elvina mematung di depan brankar, sesakit ini ternyata rasanya ditolak. Apakah ini balasan dari perbuatannya yang selalu menolak Ken.
Ken mengalami amnesia, sebagian ingatannya hilang, Elvina termasuk dalam bagian itu.
"Ken, tenang. Jangan marah-marah dulu kamu masih belum sembuh." Ummi menenangkan putra bungsunya sang sangat emosi melihat wajah Elvina.
"Aku tidak ingin melihatnya ada di sini Mi." Tegas Ken, dengan tersenyum manis Elvina meletakkan buket bunga dan cincin di atas nakas.
Kondisi Ken masih lemah, Elvina tidak boleh berada lama di sana, itu akan mempengaruhi kesehatan Ken.
Dia yang ingin Ken berhenti mengejarnya bukan? Inilah cara Allah melakukannya. Agar lelaki itu bisa menikah dengan wanita pilihannya.
Setelah permisi pada semua orang yang ada di sana gadis itu meninggalkan ruang rawat. Dia sempat melihat Aish yang tersenyum penuh kemenangan.
Sejak sadar Ken mencari Aish. Jadilah sepupu dan pamannya ada di sana juga. Adnan dan Attisya menatap iba Elvina yang meninggalkan ruangan dengan wajah sendu. Kalimat Ken tadi memukul telak Elvina untuk mundur.
"Mau pulang?" Tawar Raga, dia masih setia menemani gadis itu. Tiga hari sudah dia berada di Jakarta.
"Mampir ke taman dulu." Pintanya, lelaki itu mengangguk. Setelah menanyakan arah jalan ke taman Raga melajukan mobilnya.
Kali ini Elvina tidak menangis, "apa yang kuinginkan sebentar lagi terjadi, dok. Aku ingin Ken menikah dengan Aish, dan begitu cara Allah mengabulkannya." Ucapnya dengan tersenyum, padahal selama dua hari ini Raga menyaksikan sendiri Elvina selalu menangis.
"Penyesalan selalu datang terlambat karena bukan pendaftaran yang harus datang di awal. Argh, hidup selucu ini." Elvina menarik napas panjang, sepanjang jalan dia berceloteh ria sampai Raga memarkirkan mobil di sebuah taman.
"Ayo kita menikah?" Ajak Raga sebelum keluar dari mobil, "aku akan membantumu untuk sembuh."
"Jangan, dokter pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku, yang bisa mencintai dokter dengan tulus. Dokter sudah beberapa hari meninggalkan kerjaan, dokter bisa pulang. Nanti aku lanjut berobat di sini." Ucap Elvina dengan lembut lalu keluar dari mobil.
"Tidak adil buat kamu, kalau aku memanfaat kamu untuk mengobati hatiku. Sedang aku belum bisa mencintaimu." Lanjutnya, mereka berjalan beriringan mengelilingi taman.
"Tempat ini selalu aku kunjungi saat aku sedih, tapi tempat ini juga menyimpan beberapa kenangan buruk. Di sana ada cafe sekaligus toko cake enak. Mau nyoba?" Tawar Elvina.
"Boleh." Jawab Raga diikuti anggukan, hari ini dia tidak banyak bicara. Seakan habis kata yang bisa diungkapkan.
"Jangan khawatirkan aku, aku akan cari kerjaan untuk menyibukkan diri." Ucap Elvina lagi setelah mereka selesai memesan. "Aku akan baik-baik saja." Lanjutnya.
"Justru saat kamu bilang baik-baik saja, aku tidak bisa meninggalkanmu. Apa yang kamu ucapkan berbeda dengan apa yang kamu rasakan. Aku bisa pindah ke rumah sakit di Jakarta, itu bukan masalah sulit."
Elvina menggeleng pelan, "jangan berkorban apapun untukku. Aku tidak ingin mengulangi rasa sesal yang pernah terjadi ini. Aku tidak ingin menjadi orang jahat karena tidak bisa menerima kamu dengan hati yang tulus."
"Kita jalani saja dulu, saling mengisi kekosongan yang ada."
"Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang hasil akhirnya tetap sia-sia." Raga menghela napas pelan kemudian mengangguk menyetujui keinginan gadis itu. "Oke, aku akan pulang nanti sore." Putusnya, dia tidak bisa memaksa Elvina, itu akan menambah beban gadis itu.
"Nah, gitu dong. Dokter cakep." Pujinya dengan tersenyum sok cantik. Raga hanya bisa menarik napas lelah. Tingkah yang pura-pura bahagia itu sangat menjengkelkan.