EL & KEN

EL & KEN
129



"Mau ditemani atau diantar aja?" Tawar Ken, kini mereka sudah dalam perjalanan menuju butik Erina.


"Maunya ditemani, tapi nanti Abang bosan. Abang istirahat aja gih di rumah, doain aku bisa melewati hari ini."


"Kamu ini kayak mau ujian aja." Ken terkekeh kecil, tangan kirinya mengusap belakang kepala Elvina.


"Ujian kesabaran Bang, ngadepin Kak Erin. Apalagi kalau ngadepin Abang, hm."


"Masa sih, jadi gak sabar mau nguji kamu." Ken mengedipkan sebelah matanya menggoda Elvina.


"Abang liat jalan, aku gak mau ya Abang amnesia lagi terus ngelupain aku!" Sarkas Elvina, suaminya itu tidak menyetir dengan serius.


Ken tertegun kembali menatap jalanan. Dia tidak tau sesakit apa kesayangannya ini, saat tak bisa mengingat semua tentang Elvina.


"Abang akan ingat kamu lagi." Ken meyakinkn dirinya sendiri, tangannya menggenggam Elvina dengan kuat.


"Jangan dipaksain, cukup Abang seperti ini aku sudah bahagia."


"Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka," Ken mengecup tangan Elvina yang berada dalam genggamannya, "aku minta kontak dokter Raga, Sayang. Abang lebih nyaman sama dia deh, dari pada dokter perempuan itu."


"Dia praktek di Jogja, susah kalau kamu sama dia, Bang. Nanti gak maksimal, tapi kalau buat sharing dia emang nyaman sih."


"Nanti Abang omongin sama dia dulu gimana baiknya." Elvina mengangguk setuju, "kamu gak suka sama Raga kan, El? Ken memberikan tatapan menyelidik.


Istri Ken itu menoleh lalu tersenyum geli, "maunya sih gitu. Tapi gak ada yang bisa gantiin kamu di sini." Elvina memegangi dadanya dengan dramatis.


"Makasih sudah memberikan hati kamu buat aku." Ken mengecup bibir Elvina singkat setelah memarkirkan mobil di depan butik. Mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam butik.


"Aku cuma antar Kak, nitip istriku ya. Jangan sampai lecet apalagi kupingnya sampai mengeluarkan asap karena dengar ocehan kakak." Ken menggoda balik dengan kekehan kecil.


"Anak nakal ini pasti aku jagain, gak nyangka adik aku yang nakal ini sudah punya suami yang tampan." Erina merangkul Elvina dengan gemas.


"Jangan peluk-peluk kakak, parfum Abang nanti hilang, malah nempel ke baju kakak." Ujar Elvina kesal, sambil mengibas-ngibaskan tangannya di baju seperti sedang menghilangkan debu.


Erina memutar bola mata kesal pada sang adik, "kamu lebay banget, tinggal minta peluk lagi noh. Biar parfumnya nempel lagi." Katanya kemudian berlalu meninggalkan pasangan itu.


"Kamu suka banget mengusili kakak kamu itu." Ken membawa istrinya dalam pelukan, tidak peduli mereka sedang berada di butik. Menjadi tontonan pelanggan dan karyawan di sana.


"Rasanya aku gak pengen pisah sama Abang, nyaman banget gini." Elvina membenamkan dadanya dalam pelukan Ken. Tidak menyadari mata-mata yang memandang ke arahnya.


"Nanti Abang jemput ya, puas-puas meluknya nanti malam. Kita ditontonin orang nih."


"Biarin aja!"


Ken mengurai pelukannya, mengecup singkat di kening Elvina. "Abang pulang ya, Sayang. El belajar yang pintar."


"Hati-hati Abang." Elvina mencium punggung tangan suaminya. Ken mengangguk lalu meninggalkan butik.


"Penganten baru ya, sampai lupa daratan pelukan di tengah-tengah umum," sindir Erina saat Elvina mendekatinya.


"Kan tadi Kak Erin yang nyuruh aku pelukan." Jawab Elvina santai, kemudian duduk di depan meja Erina dengan wajah tanpa dosa.