EL & KEN

EL & KEN
166



Sampai rumah Ken langsung membaringkan tubuh Elvina yang bergetar lalu mengambilkan obat. Pertama kali dia melihat istrinya sampai seperti ini. Biasanya Elvina hanya terlihat gelisah saja.


Ken menelpon Raga untuk mengkonsultasikan keadaan Elvina. Dokter itu bilang istrinya hanya butuh ketenangan dari hal yang membuatnya cemas.


"Atur napas, Sayang. Rileks." Ken membimbing istrinya agar lebih tenang. Elvina menurut mengatur pernapasannya.


"Abang balik ke kantor aja, aku udah gak papa." Ujar Elvina setelah lebih tenang.


Ken masih mengelus-elus kepala Elvina. "Cerita dulu, kamu kenapa sampai seperti ini?" Tanyanya lembut.


"Aku masih belum bisa maafin paman dan Aish." Lirih Elvina, "rasanya masih sakit banget kalau ingat mereka."


Ken berbaring, lalu membawa Elvina dalam pelukan. "Pelan-pelan Sayang, kalau masih belum bisa sekarang gak papa. Kita sama-sama berjuang buat sembuh ya."


"Makasih udah menemani aku saat seperti ini." Elvina membenamkan wajah di bahu Ken.


"Apa ada alasan buat aku ninggalin kamu? Nggak ada. Aku butuh kamu dan kamu butuh aku. Kita satu, Sayang. Kapanpun kamu lelah dan ingin istirahat, aku akan berusaha selalu ada untuk kamu. Kamu gak sendirian lagi."


"Terimakasih Abang, sana gih kerja. Kak Adnan marah loh nanti."


"Aku lebih baik dimarahin Kak Adnan, daripada ninggalin kamu sendirian saat seperti ini."


"Aku udah baikan, nih udah gak gemetar lagi." Elvina menunjukkan tangannya yang sudah berhenti tremor.


"Kamu ikut aku aja ke kantor, jadi adil. Gimana?" Ken membuat penawaran, Elvina mengangguk antusias.


Sepasang suami istri itu berangkat menuju ke gedung PT. AJA, sepanjang jalan Elvina hanya diam. Ken menepuk pelan puncak kepala Elvina. Dia tidak mengerti apa yang dirasakan istrinya ini.


Kalau istrinya tidak usil, suasana jadi sepi. Selama Ken bekerja, Elvina hanya sibuk membaca novel. Dia bosan melihat istrinya yang hanya diam.


"El, bantu Abang dong sini." Panggil Ken, Elvina menoleh pada suaminya. Lalu beranjak melihat tatapan Ken yang serius.


"Duduk sini," Ken menepuk paha, mengisyaratkan untuk Elvina duduk di pangkuannya.


"Bantu apa?" Elvina memicingkan sebelah mata curiga.


Elvina menghela napas lelah, "cuma gitu aja manggil aku," gerutunya.


Ken mengulum senyum, dia sengaja membuat istrinya berekspresi lagi. Daripada terus diam, nanti kesambet. Ken juga yang repot. "Kan aku lagi ngetik, El. Susah buat garuk sendiri." Ucapnya santai, seperti tanpa dosa.


"Dimana sih yang gatal?"


"Di leher itu semua gatal, El." Bohong Ken, perempuan itu menurut saja menggarukkan leher Ken.


"Eh, eh. Kamu sengaja ya gelitikin Abang, jadi kesengat listrik nih, El."


"Aku gak gelitikin, Abang kan yang minta digarukin."


"Tapi kamu gelitikin Abang, Sayang. Sengaja mau mancing-mancing ya." Tuduh Ken, Elvina memutar bola mata jengah. Dia sedang malas bercanda.


"Aku garukin Abang, kalau godain itu gini." Elvina mencontohkan dengan menciumi leher Ken. Seketika Ken langsung menegang. Salahkan dirinya sendiri yang cari masalah.


"El, tegang nih sakit banget. Bantu lemasin, Sayang." Mohon Ken dengan mata dipenuhi kabut gairah.


"Abang sih main nuduh-nuduh aku." Kesal Elvina, tapi dia kasihan juga. Kalau sampai Ken ketemu perempuan lain dan minta dipuasin gimana. Elvina jadi bergidik ngeri sendiri.


"Bantu Sayang," Ken segera mengambil posisi membenarkan posisi duduk Elvina. Lalu menangkup bibir sang istri dengan tangan memegangi tengkuknya.


Mereka tidak tau tempat melakukan di kantor. Ken lemas setelah mengeluarkan lahar panas di tempat yang tepat. "Aku suka kamu gini, daripada diam dari tadi." Ungkapnya pelan.


"Kita ngelakuin di kantor Abang." Ujar Elvina malu membenamkan kepala di bahu Ken.


"Gak papa, Sayang. Gimana, moodnya udah lebih baik?" Tanya Ken setelah cukup lama mereka saling diam untuk mengembalikan energi.


Elvina menegakkan tubuhnya lalu mengangguk. "Abang usil banget, sengaja ngerjain aku."


"Biar El gak kesambet. Kamu mandi dulu gih biar segar, apa mau sekali lagi?" Tawar Ken, Elvina semangat menggeleng. Kalau kepergok bisa ribet. Dia segera beranjak dari pangkuan Ken.