
Ken melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah dengan wajah lesu. Dia bukan sedih karena diusir Elvina. Dia sedih karena gadis itu tetap pada pendiriannya. Kemana pujaan hatinya itu akan pergi. Ken akan selalu mengawasi.
"Anak Ummi kenapa?" Panggil Ulfa pada putra bungsunya.
"Lelah Mi, mau istirahat." Ken melirik sekilas ke arah tiga orang yang masih duduk manis di ruang keluarga. Padahal besok acara pernikahan kakaknya. Mereka masih bisa bersantai ria.
"Yang lelah badan apa hatinya?" Goda Adnan menarik tubuh adiknya untuk duduk di sofa. Dia senang karena Ken memilih membatalkan pernikahan dengan Aish. Walau Ken dan Elvina tidak langsung bersatu, setidaknya hati Elvina tidak akan tambah hancur.
"Dua-duanya, tapi lebih banyak di sini." Ken menghantam dadanya yang sesak dengan kepalan tangan. "Dia tidak pernah berhenti tersenyum. El tetap memaksaku menikah dengan Aish. Dia ingin pergi." Adu Ken sendu.
"Nana mau pergi kemana?" Tanya Nazar, Ken menggeleng, dia juga tidak tau kesayangannya itu mau kemana.
"Beri dia waktu untuk menenangkan diri." Saran Ulfa, Ken mengangguk. Dia juga tidak akan memaksa Elvina untuk menerimanya sekarang.
"Kamu akan melepaskannya?"
Ken menegakkan tubuhnya lalu menatap sang kakak yang sebentar lagi akan menjadi suami itu. Betapa bangganya Ken menjadi adik Adnan. Kakaknya itu rela melakukan apapun untuknya.
"Menurutmu aku harus bagaimana agar tidak menjadi Ken pengecut dan keras kepala lagi?" Senyuman jahil terbit dari bibirnya.
"Ummi, Abi lihat anak kalian, sekarang akupun di goda." Ucap Adnan sambil tertawa geli. Pasangan suami istri itu hanya tersenyum menanggapi. "Kalau aku jadi kamu, aku akan tetap memperjuangkannya Ken."
"Yah, itulah yang akan kulakukan agar bisa menjadi adikmu yang membanggakan." Ken mengedipkan matanya pada Adnan. "Aku kan sayang banget sama kakakku ini." Ujarnya lalu memeluk sang kakak.
"Habis dikasih pelukan." Bisik Ken pelan di telinga Adnan, sedetik kemudian lelaki itu tertawa geli karena mendapatkan pelototan dari sang kakak.
"Apa? Berani-beraninya kamu menyentuh kesayanganku." Adnan memukuli Ken dengan bantal sofa.
"Ummi, tolong. Ken disiksa." Ucapnya sambil tertawa lalu menyempil duduk diantara ayah dan ibunya. "Ken cuma meluk kok, Bi. Gak ngapa-ngapain. Suwer." Katanya melihat Nazar yang juga melotot.
"Meluk itu gak ngapa-ngapain, ya?" Sela Ulfa dengan nada datar. Kok emaknya lebih nyeremin saat ngomong begitu. Ken jadi merinding.
"Maaf Ummi, gak lagi-lagi deh." Ucap Ken seperti anak kecil yang kepergok minum saat puasa.
"Dah istirahat sana." Usir Nazar, Ken menyengir lalu kabur dari ruang keluarga. Tiga orang itu dibuat melongo dengan tingkah Ken. Sebenarnya itu anak sedang sedih atau bahagia sih.
Lelah, Ken belum memikirkan bagaimana caranya berhadapan dengan Abi Zayid nanti. Benar kata Elvina, "Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuatmu terjebak dimasa depan." Karena mengatakan setuju dengan permintaan Abi Zayid sekarang Ken terjebak.
Satu kebodohan yang dia lakukan berdampak memperumit keadaan. Ken ingin menjadi seperti Elvina, tidak menampakkan kesedihan di depan semua orang.
Ken mengambil cincin dalam laci, pasangan dari cincin yang diberikannya pada El. Sudah lama dia memesan cincin itu. Akhirnya bisa berada di jari manis Elvina juga.
Cincin untuk pernikahan berakhir jadi hadiah, Ken mentertawakan dirinya sendiri. Cinta selucu itu, lelaki itu menggeleng pelan lalu beranjak ke kamar mandi.