EL & KEN

EL & KEN
189



"Pagi semuanya!"


Seru Erfan menggemparkan meja makan. Pagi-pagi laki-laki itu datang membuat heboh kediaman Nazar. Sebentar lagi akan ada perang antara Erfan dan Elvina. Entah itu duel sendok atau duel mulut.


"Numpang sarapan," lanjutnya dengan cengiran lebar. Mengambil posisi duduk di samping kiri Elvina.


"Numpang? Kayak orang gak mampu aja. Sekalian bikin surat keterangan tidak mampu di kelurahan sana!" Elvina mencebikkan bibirnya.


"Terserah mulutkuh," Erfan tersenyum mengejek.


"Makan Sayang. Gak usah ladeni Erfan." Ujar Ken mengambilkan nasi ke piring Elvina.


"Mas mau itu?" Attisya menunjuk makanan yang ada di piring Elvina.


"Itu sama dengan yang ada di piring kamu, Sya." Jelas Adnan lembut, istrinya ini aneh-aneh saja.


"Aku mau yang itu!" Tegas Attisya tidak menerima penolakan, semua yang ada di meja makan menatap Attisya dan Elvina bergantian.


"Sudah aku kasih sambel ini, Kak Sya gak tahan pedas." Cicit Elvina saat semua mata mengarah padanya, dia dijadikan seperti tersangka.


"Kasihkan Kak Sya ya El, kita ambil piring baru." Elvina mengangguk, Ken mengambilkan piring dan mengisikan dengan menu yang sama dengan sebelumnya.


"Pedas, huhh. Aku mau yang itu!" Ujar Attisya menunjuk piring yang baru Ken kasihkan pada istrinya sambil mengipas-ngipasi mulut.


"Itu sama, Sya. Isinya juga ini." Ujar Adnan setelah memberikan Attisya air minum. Tetap sabar menghadapi istrinya yang sedang hamil ini.


"Aku makan apa?" Ujar Elvina cemberut saat Ken kembali memberikan piringnya pada Attisya.


"Aku suapin, kita sepiring berdua aja." Bujuk Ken, tidak akan ada habisnya meladeni ibu hamil itu berulah. Entah kenapa sekarang seperti menaruh sinyal perang pada istrinya.


Ken harus waspada pada dua perempuan yang ada di rumah ini, sewaktu-waktu bisa terjadi perang dadakan.


"Salahin ponakanmu yang manja, bukan aku." Adnan mengangkat kedua tangan menyerah.


"Boleh Sayang?" Izin Ken pada Elvina. Istri Ken itu mengangguk malas.


Attisya menunjuk nasi yang ada di piring Ken. Lelaki itu menurut saja demi anak kakaknya yang sedang ingin dimanja.


Ulfa dan Nazar saling pandang lalu menggeleng bersamaan. Menantunya yang anteng itu mulai menunjukkan sifat manja.


"Sini aku yang suapin kamu Na," ujar Erfan berinisiatif.


"Erfan, jangan ambil kesempatan!" Peringat Ken dengan melotot tajam.


"Lagi makan, berantemnya tunda dulu." Tegur Nazar, dua lelaki itu tidak melanjutkan adu mulut. Elvina akhirnya makan sendiri dengan malas.


Suasana meja makan seketika menjadi hening, Ken masih menyuapi kakak iparnya. Sedang istrinya makan dengan wajah cemberut.


"Abang belum makan," Elvina menyuapi Ken dengan tatapan datar.


"Makasih Sayang," Ken memberikan satu kecupan di pipi, tidak mempedulikan wajah cemberut istrinya.


Attisya menatap Elvina tidak suka. Adnan mengernyit heran, ada apa dengan istrinya ini. Cemburu pada Ken atau tidak suka ada yang memanjakan Elvina.


Ken dan Elvina sengaja makan lebih lambat, sampai semuanya meninggalkan meja makan.


"Sini Sayang, sekarang Abang suapi El." Ujar Ken seraya menepuk kepala Elvina pelan. Perempuan itu hanya mengangguk.


"Jangan cemburu, Kak Sya cuma bawaan hamil aja jadi manja begitu." Suami Elvina itu menjelaskan dengan lembut. Lagi-lagi Elvina hanya menganggukkan kepala.


Huft. Istri kakaknya yang hamil, kenapa jadi dia yang repot sih. Ken ingin menolak tapi tidak kuasa, menambah pekerjaannya saja.