
Dalam kamarnya Elvina berpikir keras. Apa yang harus dilakukannya kalau mama benar-benar mengatakannya pada paman. Apalagi Aish, pasti kakak sepupunya itu dengan ikhlas melepaskan Ken untuknya.
Terlebih kalau Adnan yang tau, semua akan semakin rumit. Dia tidak terlalu memikirkan hatinya yang sakit karena Ken sekarang. Dia masih punya Azmi, biarlah Ken pergi dengan cintanya. Elvina tersenyum mengingat Fany mengenalan Azmi empat tahun yang lalu.
"Nana, ada temanku yang mau kenalan denganmu namanya Azmi Azzam."
"Oh ya, temanmu darimana Fan?"
"Dia kakak sepupuku sih Na. Mau kalau kuajak bertemu dengannya?"
"Buatmu bolehlah."
"Aku jamin kamu pasti akan suka dia, orangnya sangat baik Na."
Elvina sangat berterimakasih pada Fany karena sudah mengenalkannya dengan Azmi.
Malam ini Elvina sudah siap dengan pakaian terbaiknya. Gadis itu memesan taksi online menuju taman tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Azmi.
Sampai di sana lelaki itu sudah menunggunya dengan senyuman yang sangat menawan.
"Hai Na, aku sangat merindukanmu." Sapa Azmi yang melihat Elvina berjalan mendekatinya.
"Aku juga Azmi, sudah lama kita tidak bertemu." Sahut Elvina, entah kenapa hatinya biasa saja bertemu Azmi malam ini. Tidak ada debaran seperti dulu lagi. Ah, semua sudah diambil alih oleh Ken ternyata.
"Adnan, inilah malam pembalasanku atas perbuatanmu yang sudah mengacaukan rencanaku tiga tahun yang lalu. Setelah ini kamu akan menangis darah." Azmi tersenyum miring bersorak dalam hatinya.
"Sayang, aku sudah menyiapkan dinner romantis untuk menyambut pertemuan kita. Ayo ikut aku." Ajak Azmi, Elvina mengangguk mengikuti Azmi ke mobilnya.
Azmi tertawa penuh kemenangan dalam hati. Elvina sangat polos, mudah diperdaya sejak dulu."
"Masuk, Sayang." Azmi membukakan pintu mobil untuk Elvina. "Kamu tambah cantik sekarang, aku sangat rindu denganmu."
"Aku juga Azmi, aku sudah lama menunggu pertemuan denganmu kembali."
Elvina mengangguk setuju, itu yang dia tunggu sejak dulu.
"Terimakasih karena sudah kembali untukku ya." Ujar Elvina tersenyum ceria.
"Aku akan selalu memperjuangkanmu Na." Ucap Azmi sembari melajukan mobilnya menuju cafe yang sudah di siapkannya. Setelah sampai Azmi membawa Elvina menuju meja yang sudah dihias dengan romantis.
"Minum dulu Na, ini kesukaanmu cokelat hangat." Azmi memberikan segelas cokelat yang sudah dicampurnya obat tidur dengan dosis tiga kali lipat. Dia akan membuat Adnan kehabisan napas setelah ini.
"Makasih ya masih ingat minuman kesukaanku." Elvina terus menyunggingkan senyumannya.
"Selalu ingat Sayang, makan dulu. Aku suapin ya."
"Aku bisa sendiri Azmi." Tolak Elvina, dia tidak nyaman kalau Azmi yang menyuapinya.
"Kamu bahagia aku kembali kesini?"
"Sangat bahagia. Inilah saat yang sangat aku tunggu, bisa bertemu denganmu lagi." Ucap Elvina, mereka masuk dalam obrolan hangat. Gadis itu tidak berhenti menyunggingkan senyuman manisnya.
Azmi tidak sabar menunggu gadis yang berceloteh ria itu tertidur. Senyumannya sangat menawan. Siapapun akan tergoda jika berada di dekat Elvina.
"Azmi aku pusing dan mengantuk," lirih Elvina.
"Ayo aku antar pulang Na."
Elvina itu hanya bisa mengangguk, matanya sudah sangat berat. Berjalanpun sudah sempoyongan, untung Azmi menuntunnya sampai ke mobil.
Sampai di mobil Elvina sudah tidak dapat menahan matanya untuk tidak tertidur.
"Aku tidur bentar, nanti bangunin kalau sampai ya."
"Iya, Sayang." Azmi menyunggingkan senyuman liciknya. Sangat mudah untuk menghancurkan gadis ini.