
"Nana!" Pekik Attisya langsung memeluk saudara iparnya. Keributan yang pagi tadi terjadi di butik sudah terdengar di telinganya. "Kamu gak papa?"
"Aku gak papa, Kak Sya. Kenapa khawatir banget gitu." Jawab Elvina dengan kekehan.
"Kamu ini ya, orang khawatir malah ditertawakan." Attisya menarik tangan Elvina menuju dapur, "Ummi, Nana pulang nih!" Pekiknya nyaring dengan penuh semangat.
"Ya Allah anak Ummi, baik-baik aja kan?"
"Kalian drama banget, dapat kabar apaain sih. Aku baik-baik aja nih. Masih bisa jalan dengan normal, masih sehat, gak ada yang lecet."
Attisya memutar bola mata jengah, sangat malas menanggapi iparnya yang sok kuat ini.
"Syukurlah kalau kamu gak terluka, suamimu mana? Berangkat kerja?"
"Enggak, langsung ke kamar Mi. Aku susulin dulu ya." Izinnya pada Ulfa dan Attisya, Elvina beranjak dari dapur setelah dua orang perempuan itu menyetujui.
"Abang gak ke kantor?" Tanya Elvina saat melangkahkan kaki memasuki kamar. Ken sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Enggak, nemani kamu di rumah aja El. Abang bisa nyelesain kerjaan dari sini." Katanya, Elvina ikut duduk di samping Ken.
"Aku gak papa, gak perlu ditemani gitu. Abang juga ada janji bertemu psikiater kan nanti."
"Yakin nih?" Ken menutup laptop, meletakkan ke samping. Netranya menatap lekat wajah Elvina. Dia takut kehilangan perempuan yang ada di hadapannya ini.
"Mau ikut, boleh?"
"Apa sih yang gak boleh, hm." Ken meletakkan tangannya di puncak kepala Elvina, lalu memberikan usapan lembut.
"Makasih," Elvina menandarkan kepala di bahu Ken dengan tangan yang bergelayut manja pada sang suami.
"Jangan manis-manis gitu, kalau gak mau Abang ajak olahraga." Ken mengerling manja, Elvina melengos. Sifat asli Ken perlahan mulai kembali, dia bahagia lelakinya ini tidak marah-marah lagi.
"Ayo berangkat, Abang!" Perempuan itu menarik-narik tangan Ken dengan manja.
"Kemana Sayang? Ke kasur, hm." Ken semakin menggoda, wajah kesal itu menggemaskan sekali.
"Sekarang mau ke kasur apa ke kantor nih?" Tegas Elvina memberikan pilihan, Ken terkekeh kecil seraya memasukkan laptop dalam tasnya.
"Bisa diatur Sayang, ayok." Ken menggandeng tangan Elvina. Seperti ada yang ingin mencuri saja jika gandengan itu terlepas, masih di dalam rumah digandeng segala. Elvina jadi kesal, kesal-kesal senang sih.
"Wow, penganten baru ngantor aja gak mau lepas dari istrinya nih." Goda Sabil pada sang bos yang baru menginjakkan kaki ke dalam kantor.
"Kerja Sabil, kalau gak mau dipecat bos nih." Tegur Elvina menggoda balik, Ken tidak merasa terganggu dengan ocehan Sabil. Menggandeng sang istri masuk ke ruangannya.
"Aku ngapain nih?" Tanya Elvina lugu setelah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Pijetin Abang El," Ken menepuk bahu kirinya sambil mengedipkan mata.
"Kantor Abang, kantor!" Elvina menggembungkan pipi, mengeluarkan iPad dari tasnya. Perempuan itu menggoreskan styllus pen sesuai instingnya.
"Abang tau ini kantor El, kita belum pernah coba di sini kan."
"Astaghfirullah," Elvina melotot pada suaminya yang sudah tertawa cengengesan.
Karena gemas Ken mendekati istrinya, "mikir apa sih Sayang." Tangannya mengusap mata sang istri yang masih melotot.
"Itu, anu, eh gak mikir apa-apa kok." Ucap Elvina gelagapan.
"Beneran gak mikir apa-apa, apa mau praktekin di sini." Ken menaik turunkan alis menggoda Elvina.
"Ih Abang apaan sih," Elvina menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu sudah berpikir yang aneh-aneh.
"Abang cuma mau menuruti pikiran kamu, itu aja." Ken mengusap kepala istrinya lalu membawa dalam pelukan. "Makasih sudah memberi Abang kesempatan ya, Sayang." Katanya seraya menciumi puncak kepala Elvina.
"Abang ngomong apaan sih!" Elvina melingkarkan tangan di pinggang Ken.
"Aku sayang kamu, El."
Elvina menatap dengan teliti wajah suaminya lalu memberikan kecupan di pipi, "aku gak perlu bilangkan, kalau aku juga sayang kamu, Ken." Keduanya saling menatap dalam.
"Ekhem, kantor untuk kerja, bukan bercinta. Kalau mau pacaran ke hotel sana." Tegur Adnan tegas dengan wajah serius.