
"El, Abang gak bisa menemani kamu di Jogja, cuma bisa anterin, gak papa?" Ken menaiki tempat tidur menyusul istrinya dengan rasa bersalah. Dia yang sudah mengajak jalan-jalan, tapi dia juga yang tidak bisa ikut.
Elvina menggembungkan pipi lalu mengangguk. "Gak papa, Abangkan kerja. Aku bisa sendiri di sana."
"Tetap hati-hati kalau sendirian," pesan Ken, "semua sudah siap untuk fashion show nanti?"
"Sudah semua," sahut Elvina. Masih sibuk menggoreskan styllus pen ke layar iPad.
"Kalau kangen nanti gimana?" Ken beringsut memeluk Elvina yang masih sibuk sendiri. Perempuan itu mengernyit, meletakkan iPad ke atas nakas.
"Kalau kangen tinggal susulin lah," katanya sembari menyisiri rambut Ken dengan jemarinya.
"Aku pengen punya sayap biar bisa susulin kamu dalam sekejap. Atau kalau bisa sekalian punya ilmu menghilang, biar dalam satu kedipan mata sudah ada di samping kamu.
Elvina tertawa kecil, mendengar keinginan konyol suaminya. "Kebanyakan nonton tv nih, jadi ngelindur begini."
"Beneran El, aku gak mau jauh dari kamu. Bonekanya bawa yang kecil aja biar gak ribet. Kalau gak bisa tidur nanti Abang temenin lewat video call." Ujar Ken cerewet, Elvina hanya mengiyakan. Padahal kan perginya lusa, kenapa ribetnya sekarang.
"Jangan iya-iya gitu aja," kesal Ken karena mendapati jawaban malas Elvina.
"Aku ngantuk," jujur Elvina. Sudah tak punya tenaga untuk menanggapi ocehan Ken.
"Hm, ngantuk?" Ken tersenyum miring, punya ide untuk menjahili istrinya ini. Elvina mengangguk, beringsut membaringkan tubuh, setelahnya Ken langsung menindih tubuh itu.
"Abaangg!!" Kesal Elvina, huhh, jantungnya melompat-lompat. Ken tidak hanya menindih, tapi tangannya usil kemana-mana.
Elvina diam tidak merespon, berusaha memejamkan mata meski keinginan tubuh bertolak belakang dengan pikirannya. Glenyar-glenyar aneh itu hampir saja membuatnya hilang kesadaran.
"Buka mulutnya Sayang," kesal Ken. Istrinya diam seperti patung tak bergerak. Elvina pura-pura tidak mendengar. Ken tak menyerah mengendus-endus leher jenjang sang istri dan menggigitnya di sana. Dengan tangan tak bisa diam sampai suara yang Ken nantikan keluar juga dari mulut kesayangannya itu.
"Abang," lirih Elvina membuka mata dengan napas terengah-engah.
"Nggak mau," Ken menggoda menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Elvina.
Uh, Elvina menggigit bahu Ken sampai terpekik kesakitan.
"Sabar Sayang, sabar. Tadi diam aja, sekarang gak sabaran banget." Ken semakin menggoda.
"Aku mau mandi aja, berendam di air hangat." Elvina mendengus sebal.
"Eh, sayang, sayang, sayang." Ken mengelus-elus pipi Elvina. "Mau apa Sayang, hm?" Tanyanya nakal, lalu mengecap bibir Elvina dengan perlahan. Rasanya selalu membuat Ken candu dan rindu.
"Hm, makasih Cinta." Ken memberikan usapan lembut di punggung Elvina yang masih berada di atasnya setelah melewati malam yang panjang.
Ken membaringkan perlahan kesayangannya yang sudah tertidur. Di amatinya dalam wajah yang semakin cantik saat terpejam.
Dia memang tidak bisa mengingat semua tentang perempuannya ini, kadang masih ada rasa kesal tanpa sebab saat melihatnya. Tapi Ken akan berusaha memperlakukannya dengan baik, dan menyembuhkan dirinya.
Ken enggan memejamkan mata, dia masih belum puas menyelami wajah istrinya. Bagaimana rasanya nanti tidak ada teman tidur selama satu minggu.
"Abang, tolong! Abang tolong!" Teriak Elvina sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan kiri gelisah.
Ken langsung terperanjat dengan suara teriakan itu, padahal jelas-jelas dia masih menatap wajah istrinya.
"El, siapa yang mau menyakitimu, Sayang?" Ken menepuk pelan pipi Elvina namun tidak ada respon. Lelaki itu mengguncang bahu istrinya tidak terlalu kuat.
"Keeennn!" Teriaknya nyaring bertepatan dengan matanya yang terbuka, keringat sudah bercucuran di kening.
"Mimpi apa Sayang, aku ada di sini." Ken membawa tubuh Elvina dalam pelukannya. "Siapa yang mau menyakitimu?" Tanyanya pelan.
Elvina masih mengatur napas yang memburu, "Deo." Jawabnya lirih, Ken semakin menguatkan pelukannya.