EL & KEN

EL & KEN
86



Elvina sekarang berada di kantor Pratama Group, ini hari pertama dia bekerja di sini. Menjadi rekan kerja temannya sendiri.


Apakah akan banyak drama yang akan ditemuinya di sini seperti di rumah. Entahlah temannya itu sangat berisik. Dela mengenalkan Elvina pada rekan-rekan kerjanya yang lain.


Gadis itu memanfaat waktu bekerja sebagai pengalihan pikirannya yang bercabang. Elvina masih mempelajari tugasnya di perusahaan ini. Sesekali dia bertanya pada Dela, hal-hal yang baru dia dapati.


Sesibuk apapun pikirannya tetap saja berujung pada lelaki yang sudah merebut hatinya. Elvina rindu dengan lelaki itu. Netranya menatap cincin di jari manisnya.


Kenapa dia mau menerima cincin itu? Karena ingin terus menyimpan rasa itu di hatinya. Bagaimana bisa sembuh luka ini kalau terus diratapi begini. Elvina menggeleng pelan untuk menyadarkan dirinya.


"Na, lo kenapa?" Tanya Dela yang duduk di samping kanan mejanya.


"Eh, gak papa." Jawabnya masih dengan senyuman seperti biasa.


"Lo oke gak nih, kalo gak kita pulang."


"Gue oke Dela, gak kenapa-kenapa. Lo yang kenapa, posesif banget sama gue. Masa gue gak boleh geleng kepala." Katanya dengan kekehan.


Gadis itu hanya berdecak menanggapi Elvina. Dia tidak semudah itu untuk dibodohi. Sudah dibilang, Dela itu hanya pura-pura polos.


Sampai waktunya pulang Elvina tidak terlalu banyak bicara, kecuali dengan Dela. Dia hanya sesekali menanggapi candaan rekan-rekan barunya itu.


Selesai bersih-bersih badan, Elvina menghempaskan tubuhnya di kasur. Kalau bisa meminta dia ingin waktu dipercepat, agar sesak di dadanya bisa cepat berlalu.


"Bagaimana hari pertamanya di kantor?" Tanya Lingga Pratama, pemilik Pratama Group. Saat ini mereka sedang makan malam bersama.


"Not bad Om, mereka semua menyenangkan kok." Ujar Elvina dengan senyuman andalannya.


"InsyaAllah betah Om."


"Abang juga betah pulang kalau ada Nana, Pah. Biasanya pulang saat matahari sudah tenggelam. Sekarang, matahari masih nongol aja sudah ada di rumah." Sindir Dela pada abangnya.


Raga membulatkan mata, dia tidak ikut-ikutan bicara malah jadi sasaran empuk adiknya. "Gak usah nyindir. Kalau mau ngomong, ngomong aja langsung di depan orangnya."


"Jadi Abang ngerasa kesindir? Padahal aku ngomongin abangnya tetangga loh. Sekalian aja kalo ada yang ngerasa gitu."


"Dela, itu mulutnya masih penuh loh. Selesaikan ngunyah baru ngomong, tapi lebih bagus lagi kalau sedang makan diam. Ntar keselek sendok kebanyakan ngomong." Tegur Galuh, ngidam apa dia waktu hamil sampai bentukan anak perempuannya begitu.


"Doanya ngeri banget Mah, kalau doa yang baik-baik Mah, doain aku punya suami yang tajir melintir, ganteng kayak oppa-oppa korea, sholeh, setia, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, punya rumah, mobil, rumah sakit, pesawat jet..."


"Cukup, cukup. Bangun Dela, mimpi kamu kepanjangan, ngalahin rel kereta api." Potong Galuh, perempuan paruh baya itu menelus dada sambil mengucap istighfar. "Allah gusti, salah apa daku punya putri seperti ini."


Lingga dan Raga saling pandang melihat kelakuan dua perempuan yang mereka sayang, lalu menggeleng bersamaan.


"Pengen gak ngakuin Mama, takut jadi anak durhaka, Pah. Nanti dikutuk jadi patung berlian. Kan aku syedih."


"Pengen gak ngakuin istri, takut disuruh tidur sama istri tetangga yang lebih bohai, Ga. Kan Papa keenakan."


"Astaghfirullah, anak sama bapak sama aja." Kesal Galuh, untung mereka sudah selesai makan. Jadi tidak dilarang untuk tertawa puas. "Sabar ya Na, jangan ketularan." Ucapnya sambil menatap iba Elvina.


"Aku mau ketawa takut dosa, Tante." Ujar Elvina, tapi akhirnya ketawa juga tidak tahan dengan kekonyolan keluarga itu.