EL & KEN

EL & KEN
35



"Kak Adnan, tolongin aku." Adu Elvina pada Adnan dengan suara yang sengaja dimanja-manjakan.


"Kenapa Na?" Adnan yang diseberang telepon mendengar Elvina minta tolong langsung panik.


"Ken Kak." Adu Elvina lirih sangat meyakinkan untuk membuat orang khawatir.


"Astaghfirullah El." Ken mendengus kesal dengan kelakuan Elvina yang mengadu pada kakaknya, gadis itu tak habis cara untuk mengusirnya.


Tingkah Elvina yang seperti ini membuat Ken semakin jatuh cinta. Namun semakin dia mencintai El, maka akan semakin membuat gadis itu terluka. Kadang cinta tidak harus bersama. Ada yang lebih baik disimpan dalam hati saja. Seperti cinta Ken pada Elvina. Dia akan berhenti berjuang setelah ini.


"Sekarang keruanganku ya Kak." Pintanya dengan sangat manja, membuat Adnan tidak akan bisa menolak. Lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Tau rasakan." Elvina menjulurkan lidahnya mengejek Ken lalu tertawa puas.


"Kamu curang El." Ken memutar bola mata kesal.


"Naa kamu kenapa?" Adnan berlari masuk ke ruangan Elvina, lalu berhenti di depan pintu melihat ada Ken di dalam dan sudah mengerti apa yang ada dipikiran Elvina.


Elvina tersenyum penuh kemenangan pada Ken yang disembunyikannya dari Adnan


"Nana kamu bikin aku sangat khawatir, emang Ken melakukan apa?"


Elvina diam memasang tampang ketakutan untuk meyakinkan Adnan dan berbicara dengan nada memelas agar aktingnya tambah meyakinkan. "Dia menyakitiku Kak."


"Ken kamu apakan Nana?" Tanya Adnan pada adiknya yang tengah kesal. Adnan berusaha menahan tawa melihat ekspresi Ken yang dikerjai Elvina.


"Aku perk*sa." Ujar Ken lalu meninggalkan tempat itu.


"Kamu diapain Ken, Na. Kenapa jadi diam aja?" Tanya Adnan lagi, kenapa dia jadi ikutan berakting pura-pura bodoh. Padahal dia tau pikiran licik gadis itu.


"Gak ada, aku cuma mau ngusir Ken dari sini." Sahutnya dengan tanpa dosa sudah membuat Adnan panik. Adnan geleng-geleng kepala.


"Makasih sudah menyelamatkanku Kak." Ucapnya sambil tertawa geli.


"Ini boneka apa?" Adnan mengambil boneka yang tergeletak di meja Elvina.


"Dari Ken." Sahutnya sewot.


"Kamu gak mau?"


"Enggak."


"Eitzz Kak, ini sudah jadi hak milikku." Elvina merebut bonekanya kembali dan memeluknya erat.


"Tadi bilangnya gak mau. Aneh." Ucap Adnan kecut. Susah banget mengakui kalau sudah terperangkap cintanya Ken.


"Sekarang mau. Jangan diambil! Nanti beruangku gak ada temannya." Gengsikan kalau bilang jangan diambil karena itu pemberian Ken.


"Kenapa gak jujur aja sih kalau suka, ribet amat." Kesal Adnan


"Kak aku sore ini dijemput teman, jadi gak usah diantar ya." Ujar Elvina mengalihkan pembicaraan. Dia harus segera menyelamatkan diri.


"Laki-laki atau perempuan?" Selidik Adnan, menatap serius wajah Elvina.


"Laki-laki." Jawab Elvina santai, Adnan mendesah berat. Ken punya saingan baru sekarang.


"Gak boleh, aku belum kenal dia." Adnan berusaha menggagalkan keinginan Elvina. Bakal sepatah apa nanti hati Ken kalau tau ini. Dia juga yang repot.


"Nanti aku kenalin." Desis Elvina kesal.


"Kamu suka sama dia?"


"Ya gak lah, dia temanku."


"Aku temani yaa." Bujuk Adnan, bagaimana caranya menggagalkan rencana Elvina.


"Kakak kok posesif amat sih."


"Kalau Ken yang temani mau?"


"Gak mau."


"Ya sudah, tapi kalau kenapa-kenapa langsung telpon kakak ya." Adnan akhirnya mengalah.


"Iyaa bodyguardku."


"Sebelum pergi harus kenalin dulu." Tegas Adnan sekali lagi.


"Iya-iya. Kenapa sih posesif amat sama aku." Elvina melotot kesal, dua orang ini bikin moodnya buruk aja.


"Itu sayang Nana, bukan posesif." Setelahnya Adnan meninggalkan ruangan Elvina. Dia jadi ikutan kesal.