EL & KEN

EL & KEN
106



Adnan memutar rekaman yang dia rekam saat di rumah sakit di depan Ken. "Sekarang kamu puaskan Ken, berkilah aja terus dengan perasaanmu. Saat kamu sadar nanti, dia sudah pergi bersama orang lain."


Ken memijat kepalanya yang berdenyut nyeri. Sejahat itukah dia sampai membuat perempuan itu putus asa. Tapi dia tidak dapat mengingat apapun dan tidak bisa merasakan kalau perempuan itu El.


"Aku harus apa Kak, aku bingung. Setiap di dekatnya bukan cinta yang kurasakan tapi benci."


"Kasih dia kesempatan untuk membuktikan, kalau dia memang El-mu."


"Aish dan Abi Zayid gimana?" Tanya Ken kebingungan, ada beberapa hal yang dia lupa keluarganya malah memaksanya untuk mengingat. Bukan membantunya pulih perlahan.


"Nanti aku yang urus."


"Oke, besok aku kunjungi dia di rumah sakit." Putus Ken, dia lelah untuk terus berdebat. Semakin banyak perdebatan kepalanya semakin pusing. Abi dan ummi sedang dalam mode marah, karena dia yang menyebabkan perempuan itu terluka. Ken jadi semakin tertekan sekarang.


"Apakabar?" Tanya Ken basa-basi, sejak pagi dia sudah berada di rumah sakit menunggu orang yang menjaga perempun itu keluar ruang rawat.


"Baik."


"Boleh aku duduk di sini?"


"Silahkan." Elvina jadi aneh sendiri, pembicaraan mereka sangat kaku. Ken menatap pergelangan tangan yang terbalut perban, mengusapnya lembut.


"Sakit?"


"Enggak." Mana ada luka yang gak sakit. Luka di hati yang gak berdarah saja sangat sakit.


"Bukan salah kamu," jawab Elvina cepat.


"Aku bingung." Adu Ken, Elvina mengernyit lalu memfokuskan pandangannya pada lelaki yang terlihat kacau itu. "Fakta memang mengatakan kamu El, tapi aku gak tau setiap ketemu kamu rasanya ingin marah, tanpa sebab. Mungkin kamu juga mau menyalahkan aku seperti yang lain. Tapi aku beneran bingung."


"Kamu mau kasih tau aku, aku harus apa sekarang?"


"Kamu ingat nama aku, tapi kamu gak ingat bentuk wajahku?" Ken mengangguk, "kamu masih mencintai El?"


"Sangat, aku sangat mencintainya. Malam itu dia bilang mau menikah denganku." Hati Elvina menghangat, Ken tidak pernah melupakannya. Lelaki itu hanya bingung, siapa orang yang bernama El itu.


Elvina mengambil ponsel dengan tangan yang terpasang infus, lalu memberikan pada Ken. "Malam itu aku nunggu balasan chat dari kamu berjam-jam. Tapi gak ada balasan, sekali dapat kabar kamu sudah di ruang operasi. Aku nunggu kamu bangun, tapi saat bangun kamu marah-marah sama aku Ken." Ucapnya dengan tersenyum manis.


"Buket bunga yang penuh darah itu masih aku simpan, cuma itu sekarang yang aku punya. Kalau kamu mau menikah dengan Aish gak papa." Elvina membelai pipi Ken untuk yang terakhir kalinya, "jangan bingung." Katanya setelah menepuk pipi itu pelan.


Ken meletakkan ponsel Elvina ke atas nakas setelah membaca isi pesannya. Dia berusaha menekan benci tanpa alasan pada perempuan yang sedang terbaring di depannya.


"Cepat sembuh Nana, aku pamit pulang ya. Aku harap kamu paham kenapa aku gak bisa lama di dekat kamu."


"Terimakasih." Ucap Elvina sebelum Ken meninggalkan ruangan. Lelaki itu hanya mengangguk. Hatinya mencelos, Ken tidak mau memanggilnya El seperti biasa.


Tidak apa, sekarang dia tau kalau Ken masih mencintai El. Lelaki itu merasa Elvina bukanlah perempuan yang dicintainya. Huft, inikah definisi sakit tapi tidak berdarah sesungguhnya.


Kedatangan Ken yang dingin begitu saja, hati Elvina langsung berbunga-bunga. Antara sakit dan bahagia jadi satu.