
"Nana!" Pekik Inara girang, Elvina mengernyit bingung dengan tingkah tantenya yang datang ke rumah sakit pagi-pagi dengan berteriak cempreng. Kila hanya senyam-senyum mengikuti di belakang.
"Tante, tempat ini masih berstatus rumah sakit belum berubah jadi kebun binatang, kalau tante lupa."
"Eh, eh, eh. Ponakan Tante udah pintar ngoceh, kapan boleh pulang?" Tanyanya antusias.
"InsyaAllah siang udah bisa pulang, Tante." Jawab Ken.
"Ma, Tante kenapa sih heboh banget?" Elvina masih keheranan dengan tingkah tantenya yang satu ini.
"Tante Nara punya hadiah buat kamu." Sahut Kila dengan tersenyum, Elvina memicing curiga. "Gak aneh-aneh kan?" Tanyanya.
"Kamu kenapa, ih. Suka su'uzon sama Tante." Katanya dengan cengiran lebar, mengabaikan wajah kesal keponakannya.
"Gimana gak suuzon, Tante biasanya aneh." Desisnya, Ken hanya tersenyum melihat wajah cemberut itu.
"Desain kamu menang lomba rancang busana muslim di salah satu majalah muslimah. Juara dua." Ujar Inara dengan semangat.
"Tuhkan Tante aneh, aku mana pernah ikutan lomba." Katanya tidak percaya, dia membuat gambar itu hanya iseng bagaimana bisa menang lomba.
"Istri kamu ini kenapa susah banget dikasih tau sih Ken." Inara akhirnya kesal juga dengan tingkah ponakannya itu.
"Gimana aku mau percaya, aku emang gak pernah ikut lomba, Tante." Jelasnya lagi dengan sedikit penekanan. Tantenya itu terlalu terobsesi jadi desainer kali ya, pikirnya.
"Kamu emang gak pernah ikut, tapi kakak kamu yang mengirimkan desainmu untuk ikut lomba Na." Jelas Kila, Inara muter-muter menjelaskan membuat Elvina emosi.
"Ih, Tante sih pakai dikirim ke Kak Iren. Aku kan jadi malu," kesal Elvina.
"Kenapa malu, kan kamu menang, Sayang."
"Pokoknya Nana malu," rajuknya.
"Ih, kok aneh sih menang kenapa malu." Kata Inara ikutan pusing. Menangkan harusnya bahagia dan senang, ponakannya aja yang aneh.
"Sudah, kalau kamu gak mau hadiahnya biarin aja buat Tante Nara." Usul Ken yang duduk di samping sang istri.
"Jangan, sayang Ken. Buat aku aja hadiahnya." Ujar Elvina dengan semangat.
"Manggil suami yang sopan, Sayang." Kila mengingatkan, gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ken jadi ikut bingung memikirkan ingin dipanggil apa.
"Bantuin mikir," Elvina menyikut perut suaminya. Ken mengulum senyum lalu menggeleng. "Abang aja mau?" Tanyanya.
"Abang sayur, abang gojek, atau abang apa nih?" Ken menegaskan.
"Abang sayang," jawab Elvina dengan cengiran.
"Mama bantu beres-beres ya, kalian pulang kemana?" Elvina dan Ken sontak saling pandang.
"Aku ngikut kemana Ken aja Ma,"
"Kok Ken lagi?" Kila kembali mengingatkan putrinya.
"Eh, maksudnya kemana Abang pulang aja, aku ikut. Kok jadi kaku gini sih lidahnya, kayak kanebo kering."
"Aku bawa El ke rumah Abi boleh, Ma?"
"Boleh, Mama nitip Nana ya Ken. Kalau nakal cubil aja. Kalau manja Mama gak tau deh terserah aja mau kamu apakan."
"Mama apaan sih? Emang aku anak SD yang dititipin gitu. Kalau mau pulang juga aku bisa sendiri." Katanya tak terima dianggap manja oleh sang mama.
"Eits, jangan lupa sudah punya suami gak boleh pergi tanpa izin sembarangan." Inara ikut mengingatkan.
"Iya-iya mamaku sayang, tanteku sayang. Nana ingat. Aku bukan abang yang hilang ingatan." Ujarnya sambil mengedipkan mata pada sang suami.
"Genit," ujar Ken dingin.
"Abang tuh sekarang kayak es, dingin." Balasnya, "apa perlu aku rebus dulu biar hangat."
"Hangatinnya pake apa, hm." Bisik Ken usil tepat di telinga sang istri.
"Abang, bikin merinding ih geli." Elvina memukul lengan suaminya yang menggoda genit.