EL & KEN

EL & KEN
58



"Heii, makanannya kenapa cuma diplototin doang. Mau disuapin kakak kesayanganmu itu?" Erfan mengganggu Elvina yang tengah asik dengan pikirannya.


"Aku mau disuapin kamu, boleh?" Jawab Elvina manja, membuat Erfan heran dengan tingkahnya.


"Boleh benget, tumben kamu mau aku suapin." Erfan memindahkan sendokan nasinya ke mulut Elvina.


"Mau cobain aja, rasanya berubah atau tetap sama." Satu senyuman tersungging di wajah Elvina, yang dibenci Erfan karena membuatnya tergoda namun juga membuat Erfan candu akan senyuman itu.


"Kesimpulannya apa?" Erfan menikmati setiap senyuman yang tersungging dari wajah Elvina.


"Berubah?"


"Jadi apa?"


"Asiiinnn," ucapnya lalu tertawa gelak.


Kila yang melihat Elvina tertawa lepas tersenyum bahagia. Diam-diam Kila mengambil video Elvina yang terus tertawa dan mengirimnya pada Adnan.


"Siaalaannn, bukannya dipuji malah dihina." Cerca Erfan kesal.


"Coba sekali lagi, siapa tau jadi pahit yang ini!" Bujuk Elvina yang masih tertawa penuh kemenangan. Erfan menyuapkan sendok keduanya menunggu komentar Elvina.


"Bener pahit banget Fan, kayak hidup lo." Elvina belum berhenti meledek Erfan yang membuatnya tambah kesal.


"Sekali-sekali puji gue apa susahnya sih Na."


"Coba sekali lagi, semoga berubah rasanya." Elvina membuka mulutnya menunggu sendok yang di tangan Erfan mendarat di mulutnya, tapi malah disuap Erfan sendiri.


"Erfaann, aku nungguin dari tadi." Erfan tak menghiraukan Elvina hanya senyam senyum sendiri.


"Mama jadi obat nyamuk deh di sini, mending nonton tv di luar." Elvina dan Erfan saling tatap kemudian tertawa melihat Kila beranjak keluar.


"Coba yang ini." Erfan mengisyaratkan Elvina untuk membuka mulutnya memindahkan isi sendok ke perut Elvina. "Apa rasanya?"


"Manis, kayak senyumanku."


"Weeeyy malah muji diri sendiri."


"Dari pada muji kamu, sudah makannya dihabiskan sana tadi katanya lapar."


"Suapin yaa," pinta Erfan manja.


"Sini aku suapin." Elvina menyendokkan nasi yang baru berkurang seperempat piring. "Apa rasanya Fan?"


"Manis seperti cintaku padamu." Erfan menggoda Elvina yang masih menyuapinya.


"Kalau yang ini?"


Elvina menuangkan garam ke sendok yang akan disuapkannya pada Erfan.


"Kalau ini?" Senyum jahil Elvina terpancar keluar jagat raya.


"Asin kaya hidupku, haha... Kamu beneran tega Na. Mama asin banget garamnya."


Erfan berlari ke wastafel memuntahkan makanan di mulutnya, lalu meminum air putih bergelas-gelas.


"Namanya garam pasti asin, kalau manis itu, gula." Elvina tertawa puas.


"Na, jangan ngerjain Erfan kasian," ucap Kila yang sekarang sudah ada di samping meja mendengar Erfan berteriak Kila langsung mendekat ke meja makan.


"Lama gak ngerjain dia Ma." Elvina tertawa gelak menikmati ekspresi Erfan yang konyol. "Udah tau aku masukin garam masih mau dijuga, haha."


"Kamu jahat Na!"


"Emang sejak kapan aku pernah baik Fan, udah habisin dulu makannya sana."


"Suapin lagi."


"Maa, bantu suapin Erfan yaa Nana ke kamar dulu ngantuuukk." Elvina beranjak dari meja makan masih membawa tawanya.


"Busyeettt jahat bener, dulu ngidam apa Ma jadi anaknya gitu."


"Ngidam beling Ken," sahut Elvina ceria.


"Naa aku Erfan bukan Ken!"


Mendengar ucapan Erfan langkah Elvina terhenti dan berbalik menatap lelaki itu.


"Maaf Fan salah sebut." Elvina langsung berlari ke kamarnya.


"Ken kamu tidak pernah berhenti hadir dipikiranku, kamu selalu hadir menemani setiap sepiku. Sebahagia apapun aku tetap sepi jika tanpamu."


"Ma ada apa dengan Nana?" Erfan terkejut dengan perubahan sikap Elvina yang tadi ceria langsung muram setelah menyebut nama Ken.


"Dia hanya merindukan Ken, Fan. Biasa anak Mama manja. Kalau udah sayang gak bisa ditinggal dikit."


"Ma, jujur sama aku, Ken gak ninggalin Nana kan?"


"Enggak Erfan, Ken cuma ke Kairo melanjutkan kuliahnya."


Erfan meninggalkan Kila di dapur dan masuk ke kamar Elvina, melihat gadis itu sedang sesenggukan memeluk beruang cokelatnya.