
"Ibu Elvina yang terhormat apa-apaan ini. Kamu menolak semua ide yang aku berikan. Sedangkan idemu ternyata hanya receh seperti ini."
Elvina diam, dia tidak ingin terpancing emosi dengan pedasnya ucapan Ken. Ini masih pagi, energinya sangat berharga.
"Kenapa diam Elvina, jelaskan!" Teriak Ken dengan sorot mata yang tajam.
"Biar saya yang menjelaskan, Pak." Sahut Sabil ingin menyelamatkan Elvina.
"Aku tidak perlu jawaban darimu Sabil, aku ingin Ibu Elvina ini yang menjawab." Ken menghempaskan laporan yang dipegangnya di hadapan Elvina.
Maaf El, bersikap seperti ini dihadapanmu. Maaf, cuma cara ini yang bisa membuat kita terus terhubung. Hanya dengan seperti ini rindu ini terobati.
Elvina, hatiku terombang ambing tanpa dirimu di sisiku. Sangat ingin bisa memilikimu secepatnya. Ya Allah jodohkan perempuan ini denganku, mohon Ken. Cara yang dia lakukan memang gila.
Sejak kehadiran Ken suasana ruang meeting tidak pernah tenang lagi, setiap pagi selalu ada keributan dari perdebatan Elvina dan Ken.
Elvina berdiri, mensejajarkan posisinya dengan Ken dengan jarak kurang dari satu meter. Badannya yang tinggi tidak membuatnya kesusahan untuk menatap tajam mata Ken yang selalu menyudutkannya.
Aku tidak sanggup menatapmu seperti ini Ken. Kamu dapat membuatku gila karena pesonamu. Kamu tidak boleh lemah Na. Elvina meyakinkan dirinya sendiri. Kenapa setiap menatap Ken itu sensasinya berbeda ketika menatap yang lain.
"Anda seharusnya bisa bersikap lebih bijaksana bapak Ken yang terhormat, sikap anda tidak mencerminkan nama anda. Kenzi yang artinya bijaksana."
Ken yang mendengar ucapan Ervina menatapnya dengan takjub. Kamu sangat pintar sayang.
"Bacalah dulu laporan itu dengan baik, jangan hanya mengambil kesimpulan sendiri. Tidak perlu ribut seperti ini di ruang meeting. Tidak punya malu ya, apa otak anda belum pernah dipakai untuk berpikir." Sarkas Elvina garang. Dia tidak peduli di mana sekarang kakinya berpijak. Tanpa bekerja di sini, dia masih bisa hidup. Warisan papa masih mengalir deras walau dimakan untuk tujuh turunan tidak akan habis.
Setelah selesai bicara Elvina membawa laptop keluar dari ruang meeting. Ken hanya bisa menatap kepergian perempuan yang dicintainya itu.
Adnan yang mendengar pernyataan dari Elvina langsung mengambil laporan yang tadi dihempaskan Ken dan membacanya.
"Astaga Ken, kamu mempermalukan dirimu sendiri hanya karena ingin mencari kesalahannya." Adnan berdecak kesal dengan tingkah adiknya.
"Apa maksudmu? Kak Adnan lebih membela dia?" Dia tidak terima kakaknya ikut mempermalukannya sekarang.
"Siapa yang membela Ken, coba lihat ini. Bisanya hanya emosi saja. Sekarang kamu keluar dari ruang meeting ini, biar aku yang menyelesaikan meeting pagi ini." Usir Adnan, setelah membaca laporan yang ditunjukkan Adnan, Ken langsung keluar ruangan karena malu.
"Maaf semuanya atas keributan hari ini, kita lanjutkan meetingnya." Adnan mengambil alih meeting, semua hening setelah kejadian tadi. Jatuh cinta memang membuat orang jadi gila, desis Adnan.
"Mau kemana kita Na?" Elvina yang marah meninggalkan kantor, hari ini dia tidak ingin ambil pusing berdebat dengan Ken.
"Jalan-jalan, maukan menemaniku?"
"Kenapa pulang sepagi ini mau jalan-jalan, bukannya kamu kerja?"
"Biar cepat diberhentikan, aku menunggu itu." Senyuman manis tersungging di wajahnya.
Kenapa kamu pergi dengan laki-laki El. Mau kemana kamu? Ken mengacak rambut frustasi melihat gadis yang dibuatnya marah tadi pergi dengan laki-laki. Kenapa mencintaimu itu sangat menyiksa. Ken menghela napas panjang.