
"Aku gak bisa biarin gini aja El, harus kasih dia pelajaran." Hawa dingin mengisi udara kamar, Elvina berusaha menenangkan Ken. Namun laki-laki itu tidak menggubrisnya.
"Abang!" Elvina mengejar Ken yang beranjak dengan cepat.
Blaam
Elvina terperanjat saat pintu di depannya terbanting keras. Hampir saja jantungnya melompat keluar saking kagetnya.
"Abang mau cari kemana?" Elvina mengejar Ken yang berjalan cepat, seperti orang berlari. Langkah kakinya kalah jauh dengan suaminya itu. Napasnya sampai ngos-ngosan, di tengah larinya Elvina lemas lalu ambruk.
Bruuk
Suara tubuh terjatuh menghentikan langkah Ken, saat berbalik badan Elvina sudah terkulai lemas di lantai.
Nazar dan Ulfa yang sedang makan siang ikut berlari keluar mencari sumber suara.
"El," teriak Ken berlari mendekati Elvina. Mengangkat tubuh yang terkulai lemas dan membawanya ke sofa.
"Bangun Sayang." Ken menepuk-nepuk pelan pipi istrinya agar bangun.
Aarrggh, lagi-lagi dia gagal mengendalikan emosi. Rasa menggebu-gebu ingin menghabisi laki-laki tidak tahu diri itu membuatnya melupakan Elvina yang sedang sakit.
Ken memangku Elvina, memeluknya erat tanpa suara, pipi mereka saling menempel.
"Nana kenapa, Ken?" Panik Ulfa setengah berlari mendekati anak dan menantunya.
"Jatuh Mi," lirih Ken sendu. Melihat kesayangannya sakit, hatinya ikut sakit.
"Bawa ke kamar Ken."
Ken menggeleng, "biar gini aja dulu, Bi." Jemarinya menyusuri pipi mulus Elvina, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir yang sangat menggoda.
"Sayang, aku di sini. Gak jadi nyari Deo, kamu bangun." Ken mengusap-usap kepala yang tadi membentur lantai.
Ulfa mengambil minyak kayu putih membaluri hidung Elvina juga tangan dan kakinya. "Baringkan Ken, badannya pasti sakit semua habis jatuh." Saran Ulfa, putranya masih enggan melepaskan pelukan.
"Bentar aja Mi, Ken masih pengen peluk El." Katanya seraya menciumi seluruh wajah Elvina. Argh, dia sangat takut kehilangan kesayangannya ini.
Nazar dan Ulfa hanya mengamati kebucinan si bungsunya itu. "Lanjut makan Mi, biarkan saja anakmu itu."
Ken menggigit pelan hidung Elvina, dia semakin gemas dengan istrinya yang seperti boneka barbie kalau tidak bergerak begini.
"Euughh," Elvina melenguh dalam pangkuan Ken.
"El," Ken menyambutnya dengan senyuman, mengendus-endus pipi sang istri, "maaf ya Sayang."
"Jangan marah-marah lagi," Elvina mengelus rahang Ken. Sekujur tubuhnya terasa sakit sekarang. Dia takut Ken kenapa-kenapa kalau sedang emosi keluar rumah.
Ken mengangguk kecil, tidak berani berjanji. Mengendalikan dirinya sendiri saja kadang dia tidak bisa.
"Ke kamar Sayang." Katanya seraya mengangkat tubuh sang istri.
"Aku bisa jalan sendiri, Abang."
"Nanti jatuh lagi gimana, aku gak mau ya punya istri lumpuh."
"Doanya jelek banget, siapa juga yang mau lumpuh." Elvina memukul dada Ken.
"Kalau jantung Abang sakit nanti gak ada yang mencintai kamu lagi loh El," gurau Ken, menurunkan istrinya di kasur.
"Kata siapa, banyak kok yang mencintai aku." Elvina meleletkan lidahnya.
"Hm, jadi mau dicintai orang lain aja nih. Mau Abang lupain El." Ken menaik turunkan alisnya sambil tertawa kecil.
"Enggak, aku mau Ken aja selamanya yang cinta sama aku. Cukup satu orang, aku gak perlu yang lain." Elvina menghambur kepelukan Ken.
Ken mengusap helaian rambut Elvina dengan tersenyum. "Setakut itu kamu kehilangan aku, hm." Laki-laki itu masih menggoda istrinya.
"Aku gak sekuat itu buat menerima kenyataan kalau dunia memisahkan aku dari kamu." Elvina menunjukkan bekas jahitan di pergelangan tangannya. "Aku selemah itu kalau tentang kamu," katanya sendu.
"Mana perempuanku yang kuat dan berani, hm." Ken mengusap pergelangan tangan Elvina dengan penuh kasih sayang.
"Biar kamu melihat aku lemah, karena aku memang butuh kamu. Aku lelah buat pura-pura kuat di depan orang lain. Aku butuh kamu untuk tempatku pulang."
"Jadilah istri Ken yang kuat dan berdiri kokoh. Pulanglah ke sini kalau kamu sedang lelah," Ken menepuk dadanya dengan tersenyum bangga pada Elvina.