EL & KEN

EL & KEN
163



"Abang, aku boleh bantu Kak Erin di butik?" Izin Elvina sambil mempelajari desain-desain yang dibuatnya.


"Aku gak ngelarang, tapi khawatir Deo masih ngejar kamu, El."


Elvina mengangguk-angguk, "dari rumah juga masih bisa." Katanya, tidak merasa sedih.


Ken mendekati sang istri lalu memain-mainkan rambutnya. "Wangi, Sayang."


"Aku lagi sibuk, Abang. Jangan diganggu." Elvina melotot pada sang suami.


"Aku gak ganggu, cuma bilang kamu wangi." Ken berkilah sambil tersenyum smirk.


"Tadi Mama ngabarin, Paman Zayid lagi sakit.  Jadi nginap di sana. Abang mau jenguk nggak?" Elvina mengubah topik pembicaraan bukan karena ingin menghindar. Tapi hatinya sedang gelisah.


"Bisa kalau malam, besok Abang sibuk seharian, terus mau ketemu dokter juga," tutur Ken.


"Kok jadi lebih sering ketemu dokter ya? Siapa namanya?"


"Claudia, cemburu ya." Goda Ken sambil mencubit-cubit pipi Elvina dari belakang.


"Aku sih gak cemburu, tapi waspada aja. Awalnya biasa nanti lama-lama terbiasa curhat sama dokternya gimana," ucap Elvina santai.


"Itu sama aja cemburu, Sayang." Ken mengecup pipi sang istri.


"Aku sendiri aja deh besok ke tempat paman. Abang kerja yang tenang." Ujar Elvina setelah mempertimbangkan. Suaminya sedang sibuk dia tidak ingin menambah beban Ken.


"Aku usahain pulang lebih cepat, nanti aku antar, okey."


"Okeh, asal nggak ngerepotin Abang aja." Elvina meletakkan iPad di tangannya, dia sudah selesai. Lalu memutar tubuh menatap sang suami.


Ken mengulurkan tangan, membawa istrinya ke tempat tidur. "Ngerepotin banget, karena bikin Abang terus pengen di dekat kamu."


"Gombal terus."


"Gak penting dimananya, yang penting sama siapanya. Ada Abang di sini aku juga udah bahagia." Ungkap Elvina dengan tersenyum manis.


"Pengertian banget deh," Ken mencubit gemas pipi Elvina. "Bukan gak mau ngajak kamu, tapi memang waktunya belum tepat, Sayang."


Elvina mengangguk mengerti, "Abang, sekarang yang ngelola Yayasan Abi, siapa?" Pertanyaan ini sudah lama ingin dia tanyakan. Tapi lupa terus.


"Abi Zayid, beliau udah menyerahkan sama Abi, tapi Abi gak mau. Karena udah terlanjur janji, kalau aku gak nikah sama Aish. Yayasan itu jatuh ke tangan Abi Zayid," jelas Ken.


"Maafin aku ya, udah egois." Ujar Elvina sendu.


"Kamu boleh egois buat kebahagiaan kamu sendiri, jangan merasa bersalah. Abi menyerahkan tanpa merasa tertekan karena apapun. Abi dan Ummi sangat menyayangi kamu."


Elvina menatap luka bekas sayatan di pergelangan tangannya. "Setiap lihat ini aku selalu ingat, betapa terpukulnya aku saat kehilangan kamu."


Ken merapikan rambut Elvina ke belakang telinga. "Gak ada alasan yang bisa buat aku ragu kalau kamu sangat mencintaiku."


"Aku masih gak suka ketemu Aish dan paman," lirih Elvina.


"Kalau belum bisa, gak papa. Nanti aku bilang sama Mama kalau kamu belum bisa jenguk." Ken menenangkan istrinya.


"Aku udah jujur sama mereka waktu itu, tapi Aish malah bilang aku yang ngerebut kamu dan perempuan murahan. Aku pengen lupain kalimat itu. Tapi masih selalu keingat kalo ada yang nyebut nama dia. Sakit banget rasanya."


Ken menarik istrinya dalam pelukan, "terimakasih sudah kuat bertahan untuk aku, Sayang. Kalau mau nangis, nangis aja biar kamu lega. Aku gak tau kalau kalian sepupuan. Kalau tau aku gak bakal menyetujui permintaan Abi Zayid."


"Aku lelah, Abang." Lirih Elvina, dia ingin menangis tapi tidak bisa menangis. Rasanya sangat menyesakkan.


"Istirahat, Sayang." Ken mengurai pelukan mengambil obat yang dia simpan dalam tas, "minum obat dulu, Raga yang kasih aku resep buat kamu." Jelasnya, Elvina menurut minum obat yang diberikan Ken. Setelahnya Ken membaringkan sang istri dan menyelimutinya.


Mereka punya penyebab masing-masing yang bisa membuat rasa sesak itu tiba-tiba datang. Ken mengelus kepala Elvina dengan sayang, perempuan yang selalu berusaha terlihat tegar saat di luar ini sangatlah rapuh.