
"Abikan sudah bilangkan Ken, jangan teruskan bersikap keras dengannya." Nazar menepuk-nepuk pundak putranya.
"Aku hanya tidak ingin menuruti perasaanku saat itu Bi. Sekarang aku akan berhenti. Aku akan berhenti membuatnya terluka."
"Aku akan menjauh darinya Bi. Setelah aku datang, dia terluka karenaku. Cintaku sudah melukainya hatinya. Aku tidak sanggup melihatnya menangis lagi." Lirih Ken, dia sudah memutuskan untuk berhenti mencintai dihadapan Elvina. Biarlah dia pendam sendiri saja. Biarlah waktu delapan tahun ini sia-sia, daripada gadis yang dicintainya terus terluka.
"Kamu tenang dulu ya, jangan bicara seperti itu. Ayo kita masuk, gak enak sama Mama Kila."
Ken mengangguk mengikuti sang abi masuk ke rumah dan berlutut di depan Kila.
"Ma, maafin Ken yang sudah menyakiti El. Aku tidak pernah bermaksud sedikitpun membuatnya terluka seperti ini. Aku sangat mencintainya Ma." Ujar Ken mengeluarkan tangis yang sejak tadi di tahannya.
"Ken kamu tidak perlu minta maaf, nanti Mama yang akan membujuknya Ken. Dia hanya perlu waktu. Nana sangat bahagia bersamamu. Setiap hari dia selalu merindukanmu. Saat ini dia hanya sedang emosi. Sejak Papa Al meninggal emosinya tidak stabil. Kamu bersabar ya Ken." Kila menarik Ken untuk berdiri lagi.
"Iya Ma." Ken memeluk Nazar dan membenamkan wajahnya.
"Heii, anak Ummi ternyata bisa menangis." Goda Ulfa lalu mendekati putranya yang menangis di pelukan sang suami.
"Ummi, aku sayang El." Ken mengalihkan pelukkannya pada Ulfa.
"Ummi tau Ken, kasih El waktu ya." Ulfa mengusap-usap rambut Ken. "Sabar ya, Sayang."
Di depan pintu kamar Elvina, Adnan terus mengajak gadis itu bicara. Memohon agar Elvina mengizinkannya masuk.
"Nana, adik kakak kenapa menangis Sayang." Adnan masuk ke kamar setelah lama membujuk Elvina untuk membolehkannya masuk.
"Kenapa harus menyembunyikan identitas kalian di depanku Kak?" Tanya Elvina yang membiarkan Adnan masuk ke kamar. Dia butuh penjelasan.
"Kami tidak pernah menyembunyikan Na, kamu tidak pernah bertanya. Kami juga sering ke rumahmu. Hanya kamu yang tidak memperhatikan." Adnan memperhatikan wajah sendu gadis di depannya ini.
"Kenapa kakak membiarkan Ken selalu menyakitiku." Elvina terus menangis air matanya tidak mau berhenti menetes. Secengeng itu dia kalau sudah mulai menangis.
"Karena dia tidak kuat menahan cinta padamu Na, jadi melakukannya dengan cara itu. Agar dia tidak mendekatimu sebelum halal untuknya."
"Azmi tidak pernah menyakitiku seperti itu, Kak."
"Azmi tidak ada di sini Na, ijinkan Ken yang menyayangimu." Bujuk Adnan, Azmi tidak pantas untukmu, andai kamu tau semuanya. Tapi Adnan tidak bisa mengungkapkannya.
"Aku tidak bisa Kak, Azmi akan datang. Dia hanya menunda pernikahan kami tidak membatalkannya."
"Nana, Ken sangat menyayangimu." Adnan membujuk Elvina agar berhenti mengharapkan Azmi.
"Tidak ada lelaki yang menyayangi perempuan dengan selalu menyakiti perasaannya Kak." Tegas Elvina, dia benci dipaksa dekat dengan lelaki itu.
"Maafkan dia ya Na." Mohon Adnan lirih.
"Aku sudah memaafkan, tapi tidak bisa memberikan hatiku untuknya, Kak."
Harus dengan cara apalagi, agar Elvina mau membuka sedikit hatinya untuk Ken. "Nana, boleh aku pinjam kalungmu?" Adnan berharap dengan cara ini Elvina mau menerima Ken.
Gadis itu melepaskan kalungnya dan memberikan pada Adnan. Adnan menggenggam kalung itu kemudian menarik boneka beruang kesayangan Elvina.
"Boneka ini selalu memelukmu yaa?" tanya Adnan dengan tersenyum, dia menarik napas panjang sebelum mengatakannya.
"Iya, aku merasa seperti dipeluk oleh pemiliknya."