EL & KEN

EL & KEN
23



"Maaf Na, Paman sungguh tidak bisa. Paman sudah janji dengan Papamu untuk selalu menjagamu. Dan dengan kamu di sini Paman bisa menjagamu. Kamu pulang ya Na, kamu kelelahan." Bujuk Nazar lembut, dia tidak mengawasi gadis ini kalau Elvina berhenti kerja. Anak-anaknya juga sibuk.


"Paman please kali ini turuti kemauanku." Mohon Elvina lirih, dia tidak peduli ada Ken yang ada diantara mereka.


"Tidak bisa Sayang."


"Biarlah dia pergi dari perusahaan ini Pak," ucap Ken dengan lantang. Dia yakin Abi tidak akan melepaskan gadisnya dari sini.


"Ken, cukup akhiri semua ini. Kamu terus menyakiti Nana." Geram Nazar, sudah habis kesabarannya melihat tingkah putranya yang satu ini.


"Sudah Paman, jangan marahi Ken, aku keluar sekarang." Ujar Elvina meninggalkan ruangan dengan perasaan yang tidak menentu. Kenapa dia merasakan sakit ketika mendengar paman marah pada Ken, sebenarnya apa yang terjadi dengan hatinya ini.


"Kamu lihat Ken, dia bahkan tidak sanggup melihat Abi memarahimu. Segera minta maaf dengannya dan ungkapkan perasaanmu."


"Iya Bi. Aku akan minta maaf padanya." Lirih Ken dengan menundukkan wajahnya, dia sudah berjanji dengan Adnan untuk tidak berulah lagi.


"Sama sepertimu aku juga menyayangimu. Sama sepertimu aku juga mencintaimu. Tidak sanggup melihatmu terluka dan menderita. Caraku mencintaimu memang salah. Kulakukan semua ini agar cintaku tetap utuh untukmu, El. Aku salah. Aku minta maaf." Lirih Ken setelah keluar dari ruangan abinya.


...*** ...


"Assalamualaikum."


Semua mata tertuju pada laki-laki tampan yang mengucapkan salam. Badannya yang tegap dan kulitnya yang bersih membuat para perempuan di ruangan itu terpesona.


Mata Ken masih mencari-cari sosok gadis yang suka berdebat dengannya. Padahal ruang meeting itu tidak terlalu besar hanya ada sekitar tiga puluh orang tapi dia tidak menemukannya.


"Wa'alaikumsalam.


Semua serentak menjawab salam dengan semangat.


"Sabil, mana bosmu?" Tanya Ken dengan nada tegasnya.


"Maaf terlambat." Elvina masuk ruangan dengan santai walau sedang menahan perutnya yang nyeri tidak karuan.


"Apa ini contoh bos yang baik." Ken menatap tajam ke arah Elvina.


Elvina tak bergeming, saat ini tidak ingin berdebat. Menahan perutnya saja sudah cukup perih, apalagi kalau harus mendengar kata-kata pedas orang itu. Kalau bukan karena menghormati pamannya, dia bisa saja berhenti sepihak.


Ken yang tidak mendapat jawaban seperti biasa mendekati gadis itu. Biasanya Elvina selalu menyerang balik padanya kenapa sekarang diam.


Ken meruntuki dirinya melihat wajah pucat Elvina. Dia tidak mungkin memperhatikan Elvina di depan semua karyawan.


"Kak Adnan tolong ambil alih meeting hari ini dan kamu Elvina ikut saya sekarang."


Elvina menurut tidak membantah apapun. Semua orang yang ada di ruang meeting menatap Ken heran.


Ken membawa Elvina ke ruangan abinya. Beruntung hari ini abi tidak ada di kantor. Lelaki itu menarikkan kursi dan menggambilkan segelas air hangat.


"El duduk dan minum airnya." Ucap Ken lembut.


Entah jin apa yang merasuk di tubuh Ken, Elvina tidak peduli. Saat ini perutnya sangat nyeri dan wajahnya pun sudah basah dengan keringat dingin. Elvina meminum air itu dengan gemetar.


"Astaghfirullah El kamu kenapa, bicaralah agar aku bisa menolongmu." Ken mendekati wajah Elvina dan berbicara dengan penuh kelembutan.


"Aku lagi haid." Cicit Elvina lalu menelungkupkan wajahnya ke meja karena merasa malu mengatakannya, bukan karena kesakitan.


Ken melepas jasnya dan menyelimutkannya di pundak Elvina. Dia tidak tau kalau perempuan nyeri haid bagaimana pertolongan pertamanya.