EL & KEN

EL & KEN
150



Ken menghembuskan napas panjang setelah istrinya tertidur lagi. Adnan memang pernah bercerita kalau Elvina sering mengalami mimpi buruk.


Dirapikannya selimut yang menutupi tubuh Elvina lalu beranjak keluar kamar untuk mengisi air putih ke dapur.


"Belum tidur?" Tegur Adnan yang juga ada di dapur.


"El habis teriak-teriak mimpi buruk."


Benar dugaan Adnan, tadi saat melewati kamar Ken dia mendengar suara teriakan.


"Kamu juga harus banyak istirahat, kalau kelelahan akan susah mengontrol emosi." Nasehat Adnan, "obatnya jangan lupa diminum."


"Iya, Kak Adnan ngapain malam-malam bikin mie?"


"Kakakmu merengek mau makan mie malam begini, katanya lapar," ujar Adnan.


"Kak Sya ngidam ya, suka minta macam-macam sekarang."


"Belum tau, masih belum berani periksa dia takut kecewa." Ungkap Adnan seraya memindahkan mie dari panci ke dalam mangkok.


Ken mengangguk mengerti, "aku duluan Kak," katanya setelah selesai mengisi air.


"Langsung tidur, jangan gangguin Nana lagi," teriak Adnan. Sebelum Ken benar-benar menghilang dari pandangannya.


Ken mendengus sebal menoleh pada sang kakak yang mentertawakannya. Kenapa kakaknya selalu tau dengan kenakalan otaknya ini.


Sampai di kamar Ken langsung memejamkan mata sambil memeluk guling kesayangannya.


Elvina membuka mata terlebih dulu, memindahkan tangan Ken yang memeluknya posesif pada guling. Dilakukannya dengan gerakan pelan, agar singanya itu tidak terbangun. Setelah berhasil, dia kabur ke kamar mandi. Jangan harap selamat kalau suaminya itu terbangun duluan. Pasti akan menyiksanya lagi.


Ken meraba-raba tempat tidur di sampingnya. Tidak ada guling kesayangannya, saat matanya terbuka menemukan guling tak bergerak yang di peluknya. Suara gemericik air di kamar mandi menandakan istrinya sedang berada di dalam.


Pagi-pagi sudah main kucing-kucingan dengan istri sendiri. Huh, Ken mendengus sebal. Awas saja, tunggu pembalasannya. Ken kembali masuk ke dalam selimut.


Masih tidur, gumam Elvina setelah selesai mandi sambil cekikikan dalam hati. Menempelkan tangannya yang dingin di pipi Ken.


Suami Elvina itu menyeringai licik membiarkan sang istri memainkan pipinya. Beberapa detik kemudian Ken menarik tangan itu dan membantingnya pelan di tempat tidur sambil tertawa jahat.


"Abang, aku sudah ma—, humft." Ken membungkam mulut itu dengan ganas. Jelas Elvina kalah tenaga dalam kungkungan suaminya.


"Huh, mandi lagi." Keluh Elvina setelah Ken berhasil menyiksanya, usahanya kabur pagi ini sia-sia.


"Makanya jangan berani-berani ngerjain Abang, hm." Ken tersenyum licik, Elvina mendengus sebal dengan wajah seperti mangga muda, kecut.


"Jangan marah, Abang mandiin." Goda Ken masih menciumi gemas pipi istrinya.


"Ogah ih, kebanyakan modus. Abang mandi duluan sana."


"Siyap tuan puteri." Ken beranjak dari tempat tidur. Elvina melanjutkan berguling di bawah selimut cukup lama, sampai suaminya selesai mandi.


"El mandi, Abang sudah selesai."


"Iya," jawab Elvina malas, "Abang mau ke mesjid?"


"Iya Sayang, El sholat di rumah ya."


Elvina mengangguk, "sudah wudhu juga?" Tanyanya sambil beranjak malas dari kasur.


"Sudah Sayang, sana mandi airnya sudah Abang siapkan."


"Makasih Abang," ucapnya penuh arti, lalu melompat ke pelukan Ken dan menyambar bibir suaminya dengan nakal. Rasakan pembalasan istrimu ini, ucapnya dengan tertawa dalam hati.


Ken yang terkejut dengan gerakan cepat istrinya refleks menahan tubuh Elvina agar tidak jatuh dan mengikuti permainan sang istri. Semenit berlalu baru tersadar setelah Elvina menjauhkan bibirnya.


"Kamu ngerjain Abang lagi?" Ken melotot tidak percaya, Elvina melompat dari pelukan Ken berlari ke kamar mandi dengan tertawa gelak.


"Ken kamu apain Nana?" Suara gedoran di pintu membuat suami Elvina itu tersadar kalau sudah berteriak nyaring.


"Gak ngapa-ngapain Mi," ucap Ken lemas setelah membuka pintu. Ulfa berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Terus ngapain pagi-pagi ribut?" Selidik Ulfa.


"El ngerjain aku Mi, sudah wudhu nih malah diajaknya ciuman, di bibir lagi." Adu Ken kesal, Ulfa tertawa geli meninggalkan putra bungsunya.