
"Kamu dimana? Jangan bilang gak jadi pulang karena gak tega ninggalin Nana." Serang Adnan saat panggilan telponnya dijawab.
Ken menoleh pada istrinya yang tertidur, mendengarkan Adnan yang marah-marah dari seberang telpon. Dia tidak tega meninggalkan kesayangannya itu.
"Maaf Kak, El sakit. Aku gak bisa ninggalin dia di sini sendirian."
Terdengar Adnan menghela napas kasar dari seberang sana, lalu panggilan terputus.
Ken menarik napas pelan. Mendekati Elvina, mengamati wajahnya dengan lekat. Tak pernah bosan dia menatap wajah cantik itu.
Argh, semoga abi paham kenapa dia tidak bisa pulang hari ini.
"Abang pulang gih, aku gak papa." Elvina membelai lembut rahang Ken, wajah itu terlihat kalut. Dia tidak benar-benar tertidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur.
Ken berpikir ulang, apa sebaiknya pulang. Dia malas berdebat masalah kerjaan dengan Adnan.
"Abang pulang ya," putus Ken akhirnya.
"Iya, hati-hati." Elvina bangun dari tidurnya memeluk Ken dengan erat.
"Maafin Abang, Sayang. Gak bisa nemenin di sini."
"Udah sana, nanti ketinggalan pesawat." Elvina mengurai pelukannya, Ken mengecup singkat di bibir dan kening, lalu meninggalkan istrinya di kamar.
Dia menemui Raga di kamar, seperti lelaki itu belum kembali ke klinik. Ken mengetuk pintu, setelah mendapatkan izin dia masuk.
"Kenapa Ken?"
"Gue harus balik ke Jakarta sekarang. Titip El ya, maaf nyusahin kalian." Ujar Ken tidak enak hati, seperti menitip barang saja.
"Gue antar ke bandara." Raga beranjak dari sofa mendekati Ken yang masih berdiri di depan pintu.
"Gak usah, gue udah pesan ojol biar cepat. Thanks. Titip salam sama orang tua lo, maaf gak sempat pamitan." Ken merangkul Raga sebentar lalu berjalan cepat menuju pintu gerbang. Ojol sudah menunggunya di depan.
Huh, kalau bukan karena project ini tanggung jawabnya. Ken tidak akan meninggalkan istrinya sendirian. Hatinya tidak nyaman jauh dari Elvina.
Ken seperti dikejar-kejar anjing, tiba di kantornya jam sebelas kurang lima menit. Dia langsung bersiap meeting yang sudah dijadwalkan jam sebelas siang.
"Aku tinggal Bi, aku keruangan dulu." Pamitnya malas, Ken masuk keruangan. Membenamkan wajahnya di meja. Tanpa sadar dia tertidur karena kelelahan.
"Kenapa dipaksa pulang Nan, taukan adikmu itu gak bisa dipisah dari Nana. Apalagi lagi sakit." Ujar Nazar pada Adnan.
"Aku gak maksa Bi, cuma nanya." Adnan meluruskan.
"Nanya tapi pakai marah-marah." Timpal Nazar, lalu kembali keruangannya.
Adnan menggaruk kepalanya pusing, dia yang kena marah jadinya. Lelaki itu masuk keruangan adiknya. Ken sudah tertidur di meja. Di dekatinya adik satu-satunya itu.
"Maafin Kakak." Lirihnya sambil mengusap kepala Ken sebentar lalu beranjak keruangannya. Tidak sadar kalau ucapannya pagi tadi itu membuat Ken tertekan.
Ken terbangun setelah cukup lama tidur. Dia membuka laptop memeriksa email-email yang masuk. Sampai jam pulang tiba masih sibuk dengan kerjaannya, enggan beranjak dari kantor. Di rumah juga tidak ada istrinya.
Penyemangat Ken satu-satunya adalah Elvina. Ken melakukan panggilan video call yang langsung dijawab istrinya.
"Abang, belum pulang?" Tanya Elvina yang sudah lebih segar.
"Belum, malas pulang. Gak ada kamu di rumah Sayang." Jawabnya sambil tersenyum, wajahnya sangat kusut.
"Jangan gitu, aku bisa pulang besok pagi kalau Abang gitu." Ancam Elvina sambil tertawa kecil.
"Jangan macam-macam, besok kamu harus menampilkan karyamu kan. Semua sudah beres?"
"Sudah Abang, sudah beres semua. Doain lancar ya, biar cepat pulang."
"Aamiin, kalau ada apa-apa langsung kabarin Abang, Sayang."
Elvina menganggukkan kepala, "pasti, besok di temani Dela sama Tante Galuh kok. Jangan khawatir. Abang tuh harus istirahat. Wajahnya lelah banget."
"Nanti Abang pulang langsung istirahat." Ucapnya, cukup lama mereka melepas rindu sebelum mematikan sambungan video. Padahal baru tadi pagi berpisah.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua akan baik-baik saja. Ken meyakinkan dirinya, kepalanya terasa berat.