
"Kak, kenapa menampar Azmi. Dia tidak akan menyakitku." Ucap Elvina cemberut lalu menghentikan langkahnya.
"Kakak antar kamu pulang sekarang ya Na." Adnan membujuk Elvina yang tidak mau berjalan lagi.
"Aku masih belum bicara dengannya Kak. Aku kangen Azmi. Kenapa kakak menghalangiku."
"Na, semua ini demi kebaikanmu, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa?" Ucap Adnan lembut, dia tidak ingin terpancing emosi menghadapi gadis di depannya ini.
"Dia tidak akan melukaiku seperti Ken yang selalu memakiku Kak," bela Elvina.
"Na, berjanjilah untuk tidak menemuinya lagi." Pinta Adnan lembut tapi penuh penekanan, Elvina tak bergeming.
"Na, nanti kamu akan mengerti. Tolong dengarkan kakak jangan temui dia lagi. Ayo kita pulang sekarang." Ajak Adnan, Elvina menurut tidak ingin berdebat sekarang.
"Sialan, Adnan menggagalkan rencanaku. Tidak akan kubiarkan Nana lepas begitu saja," umpat Azmi.
"Aku gagal, Adnan kembali menyelamatkannya." Ucapnya pada seseorang yang sedang di telponnya.
"Sialan Adnan, aku tidak akan melepaskan Nana. Cari cara lain aku akan membayarmu tiga kali lipat."
"Tenang saja, akan aku lakukan." Sahut Azmi, tanpa menyadari ada orang yang sudah mengikutinya.
***
Ken membuka menu galeri di ponselnya. Dia menatap foto Elvina yang sedang tidur saat di Medan. "El, aku sangat merindukanmu." Baru seminggu tidak melihat gadis itu, Ken mendesah berat. Cintanya tak bersambut, rindu ini hanya miliknya.
"Apa kamu sudah bahagia sekarang karena jauh dariku, El. Tidak ada laki-laki yang menyakitimu lagi." Ken tersenyum mengejek dirinya sendiri. Aktivitasnya mengamati foto Elvina terjeda kala ada notifikasi chat yang masuk.
Aish : Assalamualaikum Ken, bagaimana kabarmu disana?
Ken membaca pesan yang masuk. Aish, dia sudah memanfaatkan gadis itu untuk menjadi pelarian dari Elvina.
Ken : Wa'alaikumsalam Aish, alhamdulillah aku sehat. Kamu dan Abi bagaimana kabarnya?
Aish : Alhamdulillah sehat juga Ken, kamu kapan balik?
Ken : InsyaAllah, saat pernikahan kak Adnan nanti aku balik.
Aish : Syukurlah, jaga kesehatan ya di sana. Aku selalu menunggumu.
Elvina membaca kembali satu persatu puisi-puisi dari Ken. Sambil tersenyum bahagia. Walau hatinya sangat sakit ketika Ken menyatakan ingin berhenti mengejarnya.
Elvina Mufida Ilman, kamu seperti rembulan yang selalu bersinar terang. Kamu bisa menerangi banyak orang yang sedang membutuhkan cahaya. Aku adalah orang yang selalu membutuhkan cahaya keindahanmu itu.
Elvina Mufida Ilman, taukah kamu, meskipun aku tak tampak dihadapanmu. Namun aku sangat menikmati senyumanmu hari ini.
Elvina Mufida Ilman, taukah kamu, aku rindu, sangat rindu denganmu. Aku sangat tersiksa berjarak denganmu. Maukah jika nanti kamu yang selalu mendampingiku.
"Aku mau Ken selalu mendampingimu, namun sudah terlambat." Elvina terkekeh geli dengan pikirannya sendiri. Terlalu labil seperti abg yang baru jatuh cinta.
Elvina Mufida Ilman. Hari ini kamu sangat cantik. Kamu adalah keindahan yang Allah ciptakan yang tidak dapat dipungkiri.
Elvina Mufida Ilman. Aku rindu, sangaatt.
"Aku juga sangat merindukanmu Ken."
Elvina Mufida Ilman, temani aku disetiap harimu dengan keteduhan matamu dan manisnya senyumanmu.
"Aku selalu menemanimu Ken dan aku selalu ditemani oleh beruang-beruangmu ini." Elvina tersenyum memasukkan kembali puisi-puisi itu ke tasnya.
Sebenarnya hatinya ini milik siapa? Ken atau Azmi, semua membingungkan. Dia juga bingung, kenapa Adnan begitu marah pada Azmi dan mereka sudah saling mengenal. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Semua ini membuatnya semakin pusing.
Elvina mengabaikan pikirannya dan memejamkan mata. Pikirannya lelah hanya dipenuhi Ken hari ini. Mungkin otaknya perlu dicuci yang bersih.
El aku tidak pernah meninggalkanmu.
Aku selalu bersamamu
Aku tidak pernah berhenti mencintaimu
Aku selalu merindukanmu
Tunggu aku kembali menjemputmu
"Astaghfirullah." Elvina terbangun dari tidurnya. "Ken selalu hadir dalam mimpiku, hati ini sangat rindu."