
"Sudah lama kenal Erina?" Tanya Deo basa-basi pada Elvina saat Dina sibuk melihat-lihat koleksi terbaru di butik Erina.
"Dari lahir." Jawab Elvina seadanya, dia malas menanggapi. Kalau Ken tau, dia bisa diamuk suaminya itu.
"Keluarga?"
"Menurut anda?" Elvina memilih kembali ke meja Erina, Deo tetap mengikuti.
"Bisa iya bisa tidak, tetangga juga bisa kenal dari lahir." Deo berpendapat, Elvina tak menanggapi. Lelaki itu semakin penasaran untuk mengenal perempuan yang duduk di depannya ini.
"Na ayo kita lanjut belajar." Ujar Erina datang, "lo ngapain di sini. Mommy Dina nungguin di depan noh."
"Gue juga mau belajar." Jawab Deo dengan cengiran.
"Belajar apa? Jangan ngaco, sana pergi." Usir Erina cepat, dia bukan tidak paham maksud Dina tadi. Perempuan paruh baya itu tertarik menjadikan Elvina sebagai menantu. Dia bisa habis digorok sang papa kalau sampai adiknya dijadikan sasaran Deo.
"Belajar membuka hati." Deo berucap dengan serius. Elvina pura-pura tak mendengar saja sambil membalas chatingan suaminya.
"Jangan macam-macam, kalau gak mau berurusan sama Papa Erland."
Deo tersenyum sumringah, "gue bakal izin sama Om Er tenang aja."
"Serah lo," Erina berdecak lalu membawa Elvina naik ke lantai dua.
Lelaki itu tersenyum pada Erina yang sudah membawa Elvina menjauh. Dia tidak akan menyerah pada perempuan dingin itu. Semakin dingin maka Deo akan semakin terpancing.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Dina menatap putranya curiga. Mereka sudah keluar dari butik milik Erina. Sekarang berada dalam mobil menuju pulang.
"Mommy setuju gak kalau aku sama Nana?" Tanya Deo tiba-tiba.
"Nana?" Beo Dina.
"Ooo, yakin dia mau sama kamu." Dina tersenyum meremehkan pada putranya.
"Mom, jangan mematahkan semangatku begini. Doain kek, bukan dipojokin begini."
"Kamu gak lihat cincin yang melingkar di jari manisnya? Dia bukan perempuan sembarangan Deo, walau penampilannya sederhana begitu." Dina tau harga cincin yang ada di jari manis itu harganya miliyaran, tidak mungkin gadis sesederhana Elvina mau menggunakan perhiasan mahal kalau barang itu tidak spesial.
"Itulah yang aku suka darinya Mommy, sederhana dan dingin," tegas Deo.
"Terserah kamu deh, Mommy gak mau kamu mengeluh patah hati nanti."
"Hello Mom, mana pernah aku curhat patah hati sama Mommy. Berapa orang sudah perempuanku yang Mommy tolak, aku masih bisa enjoy." Katanya dengan cengiran.
"Mommy suka perempuan tadi, tapi gak berani berharap banyak. Mommy rasa dia sudah punya seseorang di hati makanya dingin sama kamu." Ungkap Dina, perasaang orang tua sering kali lebih peka.
"Gak ada salahnya kalau dicoba kan, Mom?"
"Gak salah kalau dia masih belum jadi istri orang. Kalau jadi istri orang gimana?"
Deo terdiam kembali fokus pada setirnya. Kenapa sang mommy mematahkan semangatnya yang baru saja menggebu-gebu.
"Aku tetap mau minta izin sama Om Er biar bisa dekatin dia, Mom."
Dina menghela napas panjang, ada apa dengan putranya yang satu ini. Biasanya begitu mudah move on.
"Mommy sudah peringatkan Deo, kalau dia sudah menikah Mommy harap kamu tidak terobsesi padanya."
"Mommy kenapa sih yakin banget dia sudah nikah, gak semua cincin yang menempel di jari manis itu cincin pernikahan." Ungkap Deo kesal, selama ini dia selalu menurut kalau mommy tidak setuju dengan perempuan pilihannya. Tapi kali ini Deo merasa tidak rela kalau orang tuanya bersikap seperti itu.
"Kadang ada hal yang para orang tua rasakan dan itu gak bisa dijelaskan dengan nalar, Nak." Ujar perempuan paruh baya itu lalu diam, agar tidak ribut dengan putranya.