EL & KEN

EL & KEN
165



Elvina mengunjungi rumah pamannya sendirian menggunakan taksi online. Ken tidak bisa mengantar karena sudah membuat janji dengan dokter Claudia.


"Assalamualaikum," perempuan itu mengucapkan salam. Kila menyambutnya dengan wajah berbinar.


"Anak Mama sudah datang, kamu sendirian aja Sayang. Ken mana?" Perempuan paruh baya itu membawa putrinya duduk di sofa.


"Ken kerja Mama." Sahut Elvina malas, hawa-hawa moodnya berubah saat masuk ke rumah ini. Dia manusia biasa yang kadang sulit melupakan kejadian yang menyakitkan.


"Kalian bertengkar lagi?" Tanya Kila, putrinya seperti tidak bersemangat.


Elvina cepat menggeleng, "kami baik-baik aja Ma, Ken memperlakukanku sangat baik. Dia sudah mengalami banyak perubahan."


"Syukurlah, Mama senang kalau kamu bahagia, Sayang." Kila memeluk putrinya dengan hangat. Ibu dan anak itu sudah lama tidak bertemu sejak Elvina menikah.


"Aku bahagia sama Ken Ma, Mama jangan khawatirkan aku. Maaf, jarang menemui Mama."


"Tugas kamu itu nurut sama suami, bukan Mama lagi." Kila mengelus sayang putri semata wayangnya. Ibu mana yang tidak rindu pada anaknya. Setelah sang putri menikah pastilah para orang tua merasa kehilangan.


"Aku gak ngelarang Mama tinggal dimanapun. Tapi aku gak suka Mama ada di rumah ini." Lirih Elvina, Kila mengerti putrinya masih merasakan terluka atas perbuatan kakak dan keponakannya.


"Mama akan tinggal di rumah kita nanti setelah paman sembuh. Kalau kamu gak bisa datang ke sini jangan dipaksa, Sayang. Kamu pulang aja ya." Kila dapat menangkap raut cemas di wajah Elvina.


Elvina hanya diam dalam pelukan Kila, sebelum berangkat dia sudah menguatkan hati. Tapi ternyata tetap belum siap. Rasa sakit itu tiba-tiba saja hadir membuat dada terasa sangat sesak.


"Sayang," Ken merentangkan tangannya untuk memeluk Elvina.


"Abang mau pulang."


"Iya Sayang, kita pulang sekarang." Ken dan Elvina berpamitan pada Kila. Mereka langsung pergi tanpa bertemu dengan Zayid dan Aish terlebih dulu.


"Tante, aku tadi dengar suara Nana, kemana dia?" Tanya Aish yang datang dari arah dapur.


"Sudah pulang Aish di jemput Ken, dia belum bisa ketemu kalian." Jelas Kila, raut wajah Aish langsung berubah sendu.


"Nana perlu waktu buat menerima semuanya, dia punya masalah psikis. Kamu jangan berkecil hati." Kila menenangkan keponakannya.


"Kalau aku gak jahat sama dia mungkin Nana gak akan mencoba bunuh diri dan terluka sampai sekarang."


"Semua sudah berlalu, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tante harap kamu bisa mengikhlaskan Ken. Maafkan Tante yang mendukung Ken dengan Nana. Hanya Nana satu-satunya orang yang Tante punya. Tante ingin melihat Nana bahagia, Tante gak bisa lihat Nana terluka, Aish." Kila menatap dalam sang keponakan, lalu memeluknya dengan sayang.


Dia juga menyayangi keponakannya ini. Tapi jika harus memilih maka Elvina lah orang yang akan Kila bahagiakan terlebih dahulu.


"Semua ibu pasti menginginkan itu, bukan salah Tante jika Nana memang jodoh Ken. Sama seperti Tante, Abi juga rela melakukan segalanya untukku. Kami yang terlalu memaksakan kehendak. Harusnya sejak awal aku sadar kalau Ken tidak pernah mencintaiku," aku Aish.


Tindakan kakak dan keponakannya memang tidak bisa dibenarkan. Kila melihat dengan mata sendiri bagaimana putrinya sangat terluka waktu itu. Tapi dia berbesar hati untuk memaafkan Zayid dan Aish.