
"Lo gak mau cerita sama gue. Kalo gak ada masalah, lo gak mungkin sampai harus ke sini dan langsung ke psikiater. Gue gak maksa lo buat ceritain semuanya sama gue sih. Cuma berasa jadi orang yang gak guna aja kalo gak bisa bantu lo."
Elvina tertawa kecil, gadis bar-bar yang ada dihadapannya ini sanggup berkata panjang bak gerbong kereta api. "Lo mau nanya yang mana? Mau nanya pemilik cincin ini, atau yang lo lihat di rooftop tadi." Elvina mengangkat sebelah alisnya, memberikan pilihan.
"Semuanya sih, gue penasaran lo ngomong apa sama abang." Ucapnya dengan cengengesan.
"Ini," Elvina mengangkat tangannya di depan Dela, "orang yang sama dengan yang memberikan ini." Gadis itu menunjuk beruang kesayangannya.
"Kalian tunangan?" Kepo Dela, Elvina menggeleng.
"Gue sampai bosan jawab pertanyaan yang sama, kenapa orang selalu gagal fokus sama cincin ini." Ujarnya lugu sambil menatap lekat cincin di jarinya. "Dia mau menikah dengan sepupu gue. Ini hadiah katanya."
"What? Dia mau nikah sama sepupu lo. Dan lo nyerah gitu!"
Lagi-lagi Elvina terkekeh, "konsepnya gak gitu Dela. Kalo gue nyerah mungkin gak akan ada di depan lo sekarang. Gue masih sayang nyawa."
"Dahlah gak usah kepoin gue. Kalo lo mau dapat cerita lengkapnya tanyain dokter yang nanganin gue aja." Dela mendengus sebal karena ucapan temannya itu.
"Ngorek-ngorek lo sama Bang Raga itu sama aja. Sama-sama gak ada hasilnya." Sewot Dela dengan tampang masam.
"Del, gue gak enak nyusahin keluarga lo. Gue nyari kost aja atau apartemen yang dekat sama kantor papa lo." Elvina mengalihkan pembahasannya.
"Coba aja, kalo dibolehin sama papa. Apalagi lo kenal Bang Raga, gak akan semudah itu keluar dari sini." Dela tersenyum penuh kemenangan.
"Gue gak suka hutang budi Del, susah bayarnya."
"Dan gue juga gak suka lo kayak nganggep gue ini orang lain Na. Walaupun kita gak terlalu dekat, tapi gue peduli sama lo. Apalagi Bang Raga, gue yakin sangat peduli." Ucap Dela penuh arti.
"Gue tau uang lo banyak, gak akan habis buat biayain hidup lo tujuh turunan. Lo ke sini cuma karena melarikan diri. Tapi kami benar-benar peduli sama lo Na."
"Kalo semua orang gak ada yang peduli sama lo, maka cari gue. Gue akan tetap peduli sama lo, apapun yang lo alami, Na."
"Makasih Del, selama ini gue berusaha gak nangis di depan orang lain. Karena gak ingin orang yang gue sayang sedih lihat keadaan gue. Tapi abang lo bilang, mereka akan tambah sedih kalo gue malah pura-pura gak butuh mereka."
"Abang benar. Gue ngerasa gak lo anggap saat lo pura-pura tertawa bahagia di depan kami. Padahal hati lo sedang terluka. Apa yang bisa gue bantu buat ringanin pundak lo?"
"Gak ada." Elvina mengurai pelukan, menyeka air mata yang sempat terjatuh. "Gue cuma butuh waktu buat nyembuhin hati ini."
"Lo gak ada niat memperjuangkan cinta lo kembali?"
"Untuk apa Del? Gue gak seegois itu merusak hubungan keluarga."
"Lo boleh egois untuk kebahagian hati lo Na. Lo gak akan bisa bahagiain orang lain kalo hati lo aja gak bahagia."
"Lo benar Del, tapi gue memilih kebahagian yang lain. Gue pengen menulis di buku baru, tanpa harus menyobek buku lama." Ucapnya dengan tersenyum manis.
"Tuhkan, gue benci banget liat senyuman palsu itu. Lo gue aduin sama abang." Kesal gadis bar-bar itu.
"Gak akan ngaruh, Adel." Elvina menirukan panggilan sayang keluarga gadis itu.
"Eh, lo kalo manggil gue Adel gitu berarti udah siap jadi kakak ipar gue." Canda Dela sambil cekikikan. "Itu panggilan kesayangan abang gue, loh." Lanjutnya, Elvina malas berkomentar membaringkan badannya di kasur.
"Lo gak salah tingkah kan?" Goda Dela, menarik boneka yang menutupi wajah Elvina.
"Ngantuk Del."
"Eh, ada yang udah siap-siap mimpiin Bang Raga. Gue kasih tau orangnya ah." Usil Dela, mengabaikan teriakan Elvina. Gadis itu berlari keluar dari kamar.